UEA Tuding Iran Serang Tanker Milik ADNOC di Selat Hormuz, Memanas di Tengah Perundingan

Internasional
Views: 7

Uni Emirat Arab (UEA) melontarkan tuduhan serius terhadap Iran, menudingnya bertanggung jawab atas serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker milik perusahaan minyak negara mereka, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), di Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya pembicaraan antara Teheran dan Oman mengenai pengelolaan jalur maritim strategis tersebut, yang justru diklaim menunjukkan kemajuan.

Kementerian Luar Negeri UEA, dalam pernyataan resminya pada Sabtu (8/8), mengecam keras serangan yang disebut menargetkan tanker ADNOC saat melintas di Selat Hormuz. Menurut keterangan tersebut, rudal Iran mengenai kapal tanpa menimbulkan korban jiwa, namun memicu kekhawatiran serius akan keamanan navigasi di wilayah tersebut.

“Serangan Iran yang bermusuhan menargetkan sebuah tanker milik ADNOC dengan rudal ketika sedang melintas di Selat Hormuz, tanpa menyebabkan korban jiwa,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA, seperti dikutip dari laporan AFP.

Pada hari yang sama dengan tudingan UEA, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan adanya insiden serupa. Sebuah kapal disebut terkena proyektil di lepas pantai Oman, tepatnya di kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran yang kemudian berhasil dipadamkan, dan tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.

Meskipun ada dua laporan insiden yang bersamaan, belum ada konfirmasi resmi apakah kapal yang dilaporkan oleh UKMTO adalah kapal tanker ADNOC yang disebutkan oleh pihak UEA. Hal ini menyisakan pertanyaan mengenai detail dan korelasi antara kedua kejadian tersebut.

ADNOC sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa 15 kapal miliknya telah menjadi target serangan di Selat Hormuz sejak konflik dimulai. Bahkan, tiga di antaranya disebut menjadi sasaran dalam kurun waktu hanya satu pekan terakhir, menunjukkan peningkatan eskalasi ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut.

Iran diketahui telah memberlakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz dan menuntut biaya dari kapal-kapal yang ingin melintasi jalur tersebut. Teheran juga berulang kali menyerang kapal-kapal yang dituding berusaha menghindari jalur yang telah ditetapkan oleh mereka.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara tegas menolak rencana Iran untuk mengenakan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. AS berpendapat bahwa jalur tersebut merupakan perairan internasional yang bebas dilayari.

Meskipun demikian, sebuah kesepakatan yang dicapai oleh pihak-pihak yang bertikai pada bulan Juni lalu sempat memberikan ruang bagi Iran untuk membahas pengaturan mengenai “administrasi di masa depan” Selat Hormuz bersama Oman, negara pesisir lain yang juga berbatasan dengan jalur tersebut. Kesepakatan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan, namun serangkaian serangan justru kembali memanaskan situasi.

Serangkaian serangan terhadap kapal di Selat Hormuz ini kemudian turut menyebabkan gencatan senjata yang sempat disepakati pada bulan April runtuh. Selat Hormuz, yang sebelumnya terbuka bagi lalu lintas pelayaran internasional, kini kembali menjadi titik rawan konflik. Para mediator sejak saat itu terus berupaya mendorong kedua belah pihak untuk kembali menjalankan ketentuan dalam memorandum yang disepakati pada bulan Juni, demi menjaga stabilitas dan keamanan di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Tags: Iran, Selat Hormuz, UEA

You May Also Like

Tim Penyelamat Gaza Temukan 19 Jenazah dari Reruntuhan Bangunan, Ribuan Lainnya Masih Hilang
Perundingan Hormuz Positif, Namun Iran Tetap Bersyarat untuk Pembukaan Selat

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan