Sebuah laporan mengejutkan menguak detail manuver rahasia yang melibatkan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat meninggalkan KTT NATO di Turki bulan lalu. Laporan media AS menyebutkan bahwa Trump diam-diam berganti pesawat sebagai bagian dari siasat rumit untuk menghindari potensi ancaman dari Iran. Insiden ini, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran, menyoroti kompleksitas dan risiko tinggi yang melekat pada perjalanan kepresidenan, terutama di wilayah yang tidak stabil.
Menurut laporan *Washington Post*, Presiden Trump awalnya terlihat menaiki Air Force One di hadapan kamera televisi, sebuah pemandangan yang rutin dan diharapkan dalam setiap perjalanan kepresidenan. Namun, tanpa sepengetahuan wartawan dan beberapa staf Gedung Putih yang ikut dalam rombongan, ia kemudian dipindahkan ke pesawat militer yang lebih kecil dengan bantuan truk katering. Penyamaran ini dilakukan setelah intelijen AS mendeteksi ancaman rudal Iran yang kredibel terhadap pesawat presiden. Detail ini menggarisbawahi tingkat ancaman yang dipersepsikan oleh intelijen AS, yang mendorong keputusan luar biasa ini.
Para pejabat Gedung Putih yang dihubungi oleh mitra BBC di AS, CBS News, mengonfirmasi adanya ancaman serius tersebut. Ancaman ini muncul sehari setelah AS memperbarui serangan militernya terhadap Iran, menyusul kegagalan negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik. Konteks ini sangat penting; hubungan AS-Iran telah memburuk secara signifikan di bawah pemerintahan Trump, terutama setelah penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018 dan penerapan sanksi-sanksi keras. Eskalasi militer yang disebutkan, meskipun tidak dirinci, kemungkinan besar merujuk pada serangkaian insiden di Teluk Persia atau respons terhadap serangan yang dikaitkan dengan Iran terhadap aset-aset AS atau sekutunya. Sebelumnya, Trump sendiri telah menyatakan bahwa ia adalah ‘target nomor satu’ Iran selama KTT di Ankara, sebuah pernyataan yang kini mendapatkan bobot baru setelah terungkapnya manuver ini.
Detail manuver rahasia ini terungkap saat Trump, yang tiba di Turki menggunakan Boeing 747-8 terbaru sumbangan Qatar, mengumumkan akan kembali dengan Air Force One lama ‘demi kenangan’. Penggunaan pesawat sumbangan Qatar ini sendiri merupakan subjek perdebatan dan kekhawatiran keamanan, karena pesawat tersebut belum sepenuhnya dimodifikasi dan diperkuat sesuai standar Air Force One. Rekaman pada 8 Juli menunjukkan Trump menaiki jet kepresidenan di Bandara Ankara. Namun, *Washington Post* melaporkan bahwa ia kemudian secara diam-diam dipindahkan ke pesawat militer C-32A yang lebih kecil – sebuah Boeing 757 modifikasi yang sering digunakan oleh Wakil Presiden – melalui truk katering. Truk tersebut diangkat sejajar dengan pesawat di sisi berlawanan dari tempat Trump naik, sebuah teknik yang dirancang untuk menghalangi pandangan dan menjaga kerahasiaan. Ini menunjukkan perencanaan yang cermat dan koordinasi tingkat tinggi antara Secret Service dan personel militer.
Untuk menjaga kesan normal, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dilaporkan menaiki C-32A secara terpisah menggunakan tangga eksternal. Sementara itu, para jurnalis dan beberapa staf Gedung Putih yang berada di Air Force One diminta untuk menutup tirai jendela dan tidak menyadari bahwa presiden sudah tidak berada di pesawat yang mereka tumpangi. Tindakan ini menunjukkan upaya serius untuk mempertahankan penyamaran, bahkan di antara rombongan kepresidenan sendiri. Dampak dari tindakan ini adalah terciptanya lapisan kerahasiaan yang dalam, di mana bahkan mereka yang seharusnya dekat dengan presiden pun tidak diberi informasi lengkap demi keamanan.
Seorang produser yang tergabung dalam rombongan pers Gedung Putih melaporkan bahwa permintaan untuk menutup tirai jendela adalah hal yang tidak biasa. Dalam perjalanan kepresidenan, akses pers seringkali dibatasi, tetapi permintaan semacam ini sangat jarang. Ketika seorang fotografer mencoba membuka tirai sebentar, ia segera diminta untuk menutupnya kembali atas permintaan Secret Service. Produser tersebut juga mencatat adanya dua truk katering di bagian depan dan belakang pesawat saat pers tiba, dan van mereka terlalu jauh di belakang iring-iringan mobil di bandara untuk dapat mengambil foto presiden saat naik. Observasi ini, meskipun terpisah, kini menjadi potongan-potongan teka-teki yang mendukung narasi penyamaran tersebut, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di balik layar.
Secara teknis, ‘Air Force One’ adalah tanda panggilan untuk setiap pesawat yang membawa Presiden AS. Namun, dalam insiden ini, C-32A menggunakan tanda panggilan ‘Reach 18’, sementara pesawat yang membawa jurnalis terus menggunakan ‘AF1’ untuk mempertahankan penyamaran. Penggunaan tanda panggilan yang berbeda untuk pesawat yang membawa presiden dan pesawat yang berpura-pura membawanya adalah taktik klasik dalam operasi penipuan militer. Trump kemudian terbang ke Inggris dalam perjalanan menuju AS, di mana ia kembali menaiki Air Force One lama dan terlihat turun dari pesawat setelah mendarat di RAF Mildenhall. Tidak jelas bagaimana ia berpindah dari C-32A kembali ke jet lama tersebut, yang menambah lapisan misteri pada seluruh manuver dan menunjukkan kompleksitas logistik yang terlibat dalam menjaga keamanan presiden di tengah ancaman yang kredibel.
Dalam penerbangan kembali ke Washington, Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat. Ia menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh Iran, namun tidak menyebutkan insiden pertukaran pesawat sebelumnya. Ketika ditanya mengapa wartawan diminta untuk menurunkan tirai jendela dalam penerbangan dari Turki, Trump menjawab, ‘Karena kalian mungkin berada dalam penerbangan berbahaya karena para bajingan yang harus kita hadapi.’ Ia juga menambahkan bahwa ia selalu menghadapi ‘ancaman’ terhadap hidupnya dan menjadi ‘nomor satu’ dalam ‘daftar’ Iran. Pernyataan ini, meskipun tidak secara eksplisit mengonfirmasi penyamaran, secara implisit membenarkan adanya ancaman serius yang menjadi dasar keputusan tersebut. Ini juga mencerminkan retorika keras Trump terhadap Iran, yang telah menjadi ciri khas pemerintahannya.
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, tidak secara langsung mengonfirmasi atau menyangkal laporan tersebut. Namun, ia menyatakan bahwa Air Force One baru adalah ‘pesawat canggih’ yang dilengkapi dengan langkah-langkah keamanan untuk melindungi presiden dan stafnya. Intelijen AS sebelumnya telah memperingatkan adanya ancaman spesifik serangan terhadap Trump atau pesawatnya. *The New York Times* juga pernah melaporkan kekhawatiran keamanan terkait jet sumbangan Qatar, termasuk desakan Secret Service agar Trump berganti pesawat dalam perjalanan pulang dari KTT NATO. Laporan-laporan ini memberikan konteks tambahan tentang kerentanan yang dirasakan terkait pesawat sumbangan tersebut, yang mungkin belum sepenuhnya disesuaikan dengan protokol keamanan kepresidenan AS yang ketat.
Pemerintah AS telah menghabiskan berbulan-bulan untuk memodifikasi Boeing 747-8 senilai 400 juta dolar AS untuk mempersiapkannya bagi presiden. Air Force One model lama dilengkapi dengan teknologi laser untuk membutakan rudal yang masuk, menurut sumber CBS News. Tidak jelas sistem apa yang dimiliki jet sumbangan Qatar tersebut, yang menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapannya menghadapi ancaman canggih. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan kepada CBS News, ‘Air Force One baru sangat aman untuk perjalanan presiden, tetapi akan menerima peningkatan dan penyempurnaan tambahan pada musim gugur yang akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk diselesaikan.’ Pernyataan ini, meskipun berusaha menenangkan, secara tidak langsung mengakui bahwa pesawat yang digunakan Trump dari Qatar belum sepenuhnya memenuhi standar keamanan tertinggi, sehingga membenarkan langkah-langkah ekstrem seperti penyamaran. Insiden ini secara keseluruhan menyoroti betapa seriusnya ancaman geopolitik yang dihadapi seorang Presiden AS, dan sejauh mana tindakan rahasia dapat diambil untuk memastikan keselamatan mereka.






















