Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Presiden Trump menyatakan bahwa Iran memiliki waktu singkat untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Selain kapal induk USS Gerald R Ford, AS juga mengerahkan pesawat AWACS dan jet tempur canggih seperti F-35 dan F-22.
Iran memperingatkan bahwa setiap agresi AS akan direspon dengan tegas dan proporsional.
AS mengerahkan lebih dari 120 pesawat ke wilayah tersebut, peningkatan terbesar sejak perang Irak 2003.
Pengerahan ini mencakup jet tempur seperti F-15 dan F-16, didukung oleh pesawat kargo dan tanker pengisi bahan bakar.
Diego Garcia, pangkalan militer bersama Inggris-AS, menjadi fokus perhatian sebagai lokasi potensial untuk operasi udara AS.
Namun, Inggris harus menyetujui penggunaan pangkalan tersebut untuk operasi ofensif.
Iran dan Rusia melakukan latihan angkatan laut bersama di Laut Oman dan Samudra Hindia utara.
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama maritim dan menunjukkan kemampuan pencegahan di tengah tekanan AS.
Iran juga memperkuat pertahanannya dengan membangun fasilitas bawah tanah dan memperbaiki pangkalan rudal yang rusak.
Para analis memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi meningkat dengan cepat dan tidak terkendali.
Seperti yang dilansir dari Al Jazeera, AS melakukan semua persiapan seolah-olah akan melakukan serangan.





















