Saif al-Islam Gaddafi, putra Muammar Gaddafi, ditemukan tewas di Zintan, Libya. Ia ditembak 19 kali di kompleksnya. Penyerang yang berjumlah empat orang, melumpuhkan kamera keamanan sebelum melakukan aksinya.
Para penjaga Saif ditarik mundur 90 menit sebelum kejadian. Tidak ada baku tembak dan pelaku melarikan diri tanpa jejak. Pembunuhan ini memunculkan banyak pertanyaan.
Libya telah terpecah sejak 2014 antara pemerintahan di Tripoli dan pasukan Khalifa Haftar di timur. Kedua belah pihak belum mengadakan pemilihan umum.
Pembunuhan Saif terencana dengan matang. Pelaku memiliki akses ke informasi detail tentang pergerakan dan pengamanan Saif. Diduga ada keterlibatan orang dalam.
Pembunuhan komandan milisi Tripoli, Abdelghani al-Kikli, tahun lalu memicu kekacauan. Namun, pembunuhan Saif berbeda. Lebih terencana dan senyap.
Tokoh-tokoh kritis terhadap Haftar seringkali dihilangkan secara diam-diam. Mahmoud al-Werfalli, seorang perwira senior Haftar, dibunuh pada tahun 2021 tanpa investigasi yang serius.
Sistem politik yang dibangun Muammar Gaddafi masih memengaruhi Libya. Haftar menggunakan jaringan dan struktur lama untuk kepentingannya.
Mantan loyalis Gaddafi diterima dalam sistem Haftar dengan syarat ketat. Mereka tidak pernah sepenuhnya dipercaya. Saif al-Islam tidak pernah mendapatkan kesempatan itu.
Saif dianggap sebagai ancaman karena mewakili garis suksesi alternatif. Ia berpotensi menggoyahkan kekuasaan Haftar.
Saif tidak menawarkan perubahan. Ia menawarkan alternatif kekuasaan. Dalam pemilihan presiden yang dibatalkan pada 2021, Saif unggul dari Haftar.
Pertemuan rahasia antara Saddam Haftar dan Ibrahim Dbeibah di Paris membahas pembentukan pemerintahan persatuan. Ini akan memperpanjang kekuasaan keluarga Haftar dan Dbeibah.
Suku Saif menguburkannya di Bani Walid. Pasukan Haftar melarang pemakaman di Sirte, tempat asal ayahnya. Tidak ada yang ditangkap terkait pembunuhan ini.
Keheningan setelah pembunuhan di Libya adalah jawaban itu sendiri. Seperti yang dilansir dari Al Jazeera.





















