Industri aplikasi mata-mata atau *stalkerware* makin marak. Aplikasi ini memungkinkan seseorang memantau aktivitas ponsel orang lain dari jauh. Seringkali dipakai oleh pasangan yang curiga.
Namun, banyak perusahaan *stalkerware* yang kurang menjaga keamanan data. Akibatnya, data pribadi pengguna dan korban jadi bocor.
TechCrunch mencatat, sejak 2017, ada 27 perusahaan *stalkerware* yang datanya bocor. Bahkan, ada yang sampai beberapa kali.
Terbaru, uMobix mengalami kebocoran data. Informasi pembayaran 500 ribu pelanggannya dicuri dan disebar secara online.
Sebelumnya, ada Catwatchful yang membocorkan data 26 ribu korban. Lalu, SpyX, Cocospy, Spyic, dan Spyzie juga mengalami hal serupa.
Di tahun 2024, Spytech dan mSpy juga kebobolan. Data aktivitas ponsel dan informasi pelanggan bocor ke publik.
Bahkan, pcTattletale sampai diretas dan situsnya diubah oleh *hacker*. Perusahaan ini akhirnya tutup.
Aplikasi seperti uMobix, Cocospy, dan mSpy sering disebut *stalkerware*. Biasanya dipakai untuk memata-matai pasangan.
Perusahaan-perusahaan ini seringkali mempromosikan diri sebagai solusi untuk menangkap pasangan selingkuh. Padahal, ini ilegal dan tidak etis.
Banyak kasus kekerasan dan pelecehan yang bermula dari *stalking* online. Itu sebabnya, para *hacker* sering menargetkan perusahaan *stalkerware*.
Eva Galperin dari Electronic Frontier Foundation menyebut industri *stalkerware* sebagai “target empuk”. Keamanan mereka seringkali lemah.
Maka dari itu, menggunakan aplikasi *stalkerware* sangat berisiko. Selain melanggar hukum, data pribadi Anda dan orang lain juga bisa bocor.
Jadi, hindari penggunaan aplikasi *stalkerware*. Jaga privasi dan keamanan data Anda. Jika Anda butuh bantuan, hubungi hotline kekerasan dalam rumah tangga.





















