Kabar duka datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD, YBS (10), diduga mengakhiri hidupnya karena kesulitan ekonomi.
YBS diduga nekat bunuh diri lantaran tak mampu membeli buku dan pena yang harganya tak sampai Rp10 ribu.
Kematian YBS menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak, salah satunya pegiat media sosial Yusuf Dumdum.
Yusuf menyebut kejadian ini sebagai tragedi kemanusiaan yang mencerminkan kegagalan perlindungan anak, terutama dari keluarga miskin.
Ia menyayangkan seorang anak SD harus menanggung beban hidup seberat itu hingga mengambil jalan pintas.
Menurut Yusuf, keputusan tragis YBS dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.
Ayah YBS telah meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan, sehingga ibunya menjadi tulang punggung keluarga.
Ibunya seorang diri berjuang menafkahi anak-anaknya dengan segala keterbatasan yang ada.
Yusuf menambahkan, meski dalam kondisi sulit, YBS dikenal sebagai anak yang cerdas dan periang.
Tragedi ini, kata Yusuf, seharusnya menjadi tamparan keras bagi negara terkait pemerataan akses pendidikan.
Kasus YBS menjadi cermin rapuhnya sistem yang belum sepenuhnya melindungi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kejadian ini memicu diskusi tentang bagaimana negara seharusnya hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang layak tanpa terbebani masalah ekonomi.
Dibutuhkan solusi konkret agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.





















