Kasus pembunuhan Letnan Kolonel Frans Mathipa, seorang detektif senior yang dihormati dari unit kepolisian elite Afrika Selatan, The Hawks, telah mengguncang negara tersebut. Mathipa, yang dikenal gigih dalam menyelidiki kasus-kasus penting, ditemukan tewas ditembak di dalam mobilnya pada Agustus 2023, hanya dua hari setelah ia mengungkapkan kekhawatirannya akan keselamatan dirinya dalam mengejar informasi krusial. Investigasi yang dilakukan oleh BBC World Service, dengan akses eksklusif terhadap dokumen-dokumen rahasia kepolisian dan pengadilan, serta wawancara dengan sumber-sumber kunci, mengarah pada dugaan kuat keterlibatan tujuh anggota pasukan khusus dan satu perwira polisi militer Afrika Selatan dalam pembunuhan ini.
Ketujuh anggota pasukan khusus dan satu perwira polisi militer tersebut telah didakwa atas pembunuhan Mathipa, namun mereka menyangkal tuduhan tersebut. Persidangan mereka belum dijadwalkan, dan ada kekhawatiran bahwa proses hukum tidak akan berjalan lancar. Pasalnya, tiga dari tersangka menolak mematuhi perintah pengadilan yang mencabut jaminan mereka, bahkan salah satu di antaranya telah mendapatkan promosi jabatan. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai independensi dan akuntabilitas militer di salah satu negara demokrasi paling tangguh di Afrika.
Bukti yang dikumpulkan oleh pihak berwenang mengindikasikan keterlibatan pasukan khusus. Dokumen polisi menunjukkan bahwa kendaraan yang membuntuti Mathipa sesaat sebelum penembakan terdaftar atas nama Peters Communications Trust (PCT), sebuah perusahaan “kedok” untuk pasukan khusus. Data pelacakan dari kendaraan tersebut juga menempatkannya di lokasi kejadian penembakan. Lebih lanjut, Mayor Sunnybooi Wambi, salah satu pria di dalam mobil tersebut, terlihat di lokasi dugaan penculikan yang dilakukan oleh tentara pasukan khusus, kasus yang sedang diselidiki oleh Mathipa.
Setelah kematian Mathipa, The Hawks menerima peringatan mengerikan dari pasukan khusus. “Anda bisa menunjuk 10 petugas investigasi; kami akan membunuh semuanya,” demikian bunyi peringatan tersebut, menurut dokumen kepolisian. Ancaman ini memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk membungkam investigasi dan melindungi pihak-pihak yang terlibat dalam kasus sensitif ini.
Kasus yang sedang diselidiki Mathipa sangatlah peka. Berpusat pada seorang warga Ethiopia bernama Abdella Abadigga, yang diduga terkait dengan kelompok militan Negara Islam (IS). Abadigga, yang awalnya diberikan suaka sementara di Afrika Selatan pada tahun 2008, ditangkap di luar negeri pada tahun 2017. Ia kemudian diselundupkan kembali ke Afrika Selatan oleh militer dan Departemen Dalam Negeri untuk dijadikan aset intelijen, namun menurut Kolonel Tollie Vreugdenburg, mantan kepala kontra-terorisme The Hawks, Abadigga kemudian “membelot”.
Menurut sumber komunitas, Abadigga kemudian memeras komunitas Ethiopia di Johannesburg, dan uang tersebut diduga digunakan untuk mendanai IS, sebagaimana yang dinyatakan oleh pemerintah AS. Mathipa sedang menyelidiki dugaan bahwa pasukan khusus telah menculik dan membunuh Abadigga pada Desember 2022. Sebelumnya pada tahun yang sama, Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepada Abadigga, menyebutnya sebagai perekrut dan penggalang dana IS, serta pendukung terpercaya Bilal al-Sudani, tokoh penting IS di Somalia.
Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa setelah penculikan Abadigga, ponselnya terhubung ke menara seluler di dekat pangkalan militer. Sumber kepolisian menyebutkan bahwa ponsel tersebut digunakan untuk menghubungi nomor di Somalia. Pentagon tidak menanggapi pertanyaan BBC mengenai apakah ponsel Abadigga membantu melacak al-Sudani, yang tewas dibunuh oleh pasukan khusus AS di Somalia pada Januari 2023, hanya beberapa minggu setelah dugaan penculikan Abadigga.
Ketika Mathipa ditugaskan menangani kasus ini, empat bulan sebelum kematiannya, ia sudah mengetahui bahwa pasukan khusus terlibat, tetapi ia berusaha mengumpulkan lebih banyak bukti. Ia melanjutkan informasi yang telah dikumpulkan oleh Ameen, saudara laki-laki Abadigga, yang melaporkan kasus orang hilang segera setelah Abadigga menghilang. Ameen dan petugas investigasi setempat telah memperoleh rekaman CCTV yang menunjukkan pergerakan terakhir Abadigga dan pengawalnya, Kadir Abotese, di Mall of Africa.
Rekaman CCTV tersebut menunjukkan seorang pria berbaju biru membuntuti Abadigga dan pengawalnya, serta membayar parkir tiga detik setelah mereka. Yang lebih krusial, rekaman tersebut dengan jelas memperlihatkan plat nomor kendaraan para penculik yang dicurigai. Kendaraan-kendaraan tersebut semuanya terdaftar atas nama Peters Communications Trust (PCT), yang kemudian diketahui oleh Ameen dan petugas investigasi sebagai perusahaan “kedok” pasukan khusus Afrika Selatan. Pada saat hilangnya Abadigga, direktur PCT termasuk Mayor Jenderal Herbert Mashego, komandan 5 Resimen Pasukan Khusus saat itu.
Kasus ini menyoroti potensi penyalahgunaan kekuasaan oleh militer dan implikasi serius terhadap penegakan hukum di Afrika Selatan. Permintaan konfirmasi mengenai keterlibatan militer dalam kasus Abadigga dan dugaan kebohongan Departemen Dalam Negeri mengenai deportasi Abadigga, serta pertanyaan kepada Presiden Cyril Ramaphosa tentang apakah Abadigga diculik atas perintah AS, tidak mendapatkan tanggapan. Situasi ini menunjukkan adanya “penyembunyian” yang mendalam, seperti yang diungkapkan dalam program BBC Africa Eye, dan menimbulkan kekhawatiran besar akan transparansi dan akuntabilitas institusi negara.






















