Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Retorika permusuhan semakin menjadi saat kapal perang AS bergerak ke Laut Arab. Negara-negara di kawasan berupaya mencari solusi diplomasi.
Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa waktu hampir habis bagi Iran. Iran harus kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan baru tentang program nuklirnya.
Trump mengatakan bahwa kekuatan laut yang dikirim ke Iran lebih besar. Kekuatan ini bahkan lebih besar dari yang dikirim ke Venezuela.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membalas ancaman Trump. Ia memperingatkan bahwa militer Iran siap siaga dan akan merespons dengan cepat.
Eskalasi ini terjadi setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan itu terjadi selama perang 12 hari dengan Israel tahun lalu. Iran membalas dengan menyerang pangkalan udara Al Udeid di Qatar.
Awal bulan ini, Trump mengancam akan membom Iran. Namun, ia kemudian menarik kembali ancamannya.
Seiring meningkatnya ketegangan, ada beberapa tuntutan utama dari kedua belah pihak.
Amerika Serikat menuntut Iran untuk menghentikan pengayaan uranium. Selain itu, AS juga menuntut Iran menghentikan program rudal balistiknya.
AS juga menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok di kawasan. Kelompok-kelompok ini termasuk yang berada di Suriah, Lebanon, dan Yaman.
Sementara itu, Iran menuntut AS mencabut sanksi ekonomi. Sanksi ini telah menyebabkan kesulitan ekonomi yang besar bagi Iran.
Iran juga menuntut pengakuan atas program nuklirnya sebagai program sipil. Selain itu, Iran juga menuntut jaminan keamanan regional.
Masa depan hubungan AS-Iran masih belum pasti. Namun, perundingan tidak resmi sedang berlangsung antara kedua negara.
Seperti yang dilansir dari Al Jazeera, banyak pihak berharap solusi diplomatik dapat ditemukan untuk mencegah konflik lebih lanjut.





















