Banyak pria diam-diam berjuang dengan masalah citra tubuh. Standar kecantikan yang tak realistis memicu gangguan makan dan dismorfia tubuh.
Media sosial menampilkan tubuh ‘sempurna’ hasil editan. Hal ini memicu rasa tidak aman dan perbandingan yang konstan.
Pola makan yang ketat dan olahraga berlebihan sering dianggap sebagai ‘disiplin’. Padahal, ini bisa jadi tanda gangguan makan yang serius.
Pria seringkali enggan mencari bantuan karena stigma. Gangguan makan dianggap sebagai masalah wanita.
Padahal, sepertiga dari penderita gangguan makan adalah pria. Angka ini kemungkinan lebih tinggi dari perkiraan.
Dismorfia otot, atau ‘bigoreksia’, adalah masalah umum. Penderitanya terobsesi dengan massa otot dan merasa selalu kurang besar.
Budaya kebugaran seringkali menormalisasi perilaku yang tidak sehat. Siklus ‘bulking’ dan ‘shredding’ dapat menyembunyikan masalah makan.
Media sosial memperburuk masalah ini. Banyak pria merasa tertekan untuk selalu terlihat sempurna.
Prosedur kosmetik seperti ‘Brotox’ semakin populer. Pria merasa tertekan untuk memenuhi standar kecantikan yang tinggi.
Biaya perawatan, suplemen, dan pelatihan pribadi tidak murah. Pria dengan anggaran terbatas merasa tertinggal.
Penting untuk membedakan antara perawatan diri yang sehat dan obsesi. Kita perlu mengubah cara kita berbicara tentang tubuh pria.
Kita perlu mengakui bahwa pria juga berjuang dengan citra tubuh. Dengan begitu, kita bisa membantu mereka mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Mari kita mulai percakapan jujur tentang standar kecantikan pria. Sehingga perilaku berbahaya tidak lagi tersembunyi di balik ‘disiplin’ dan ‘kerja keras’.





















