Timnas Jerman hampir saja absen di Piala Dunia 2026. Isu boikot sempat mencuat akibat kontroversi kebijakan Amerika Serikat.
Beberapa kelompok, termasuk suporter dan tokoh sepak bola Jerman, menyuarakan boikot. Mereka bahkan mendesak pencabutan status tuan rumah AS.
Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) merespons protes ini. Mereka menegaskan bahwa boikot hanyalah opini pribadi.
“Dewan Presiden DFB sepakat isu politik dan olahraga dibahas internal, bukan publik,” bunyi pernyataan resmi DFB.
Boikot bukan agenda utama. DFB memilih jalur diplomasi tertutup.
Profesor Simon Chadwick, pengamat industri olahraga, memberikan pandangannya. FIFA, bukan pemerintah, yang berwenang dalam situasi ini.
FIFA memiliki kendali penuh atas turnamen. Mulai dari keamanan hingga kemitraan.
“Ini keputusan FIFA, bukan pemerintah atau suporter,” ujarnya.
Pandangan ini memberikan perspektif berbeda. Keputusan boikot atau tidak ada di tangan FIFA.
Kontroversi kebijakan sebuah negara berpotensi mengganggu keikutsertaan negara lain dalam ajang olahraga internasional.
DFB berupaya menenangkan situasi dengan diplomasi. Mereka menghindari eskalasi isu di ruang publik.
FIFA sebagai otoritas tertinggi memiliki peran sentral. Mereka yang menentukan nasib partisipasi sebuah negara di Piala Dunia.
Dengan diplomasi yang dijalankan DFB, Jerman berhasil menghindari ancaman boikot dan tetap berpartisipasi di Piala Dunia 2026.





















