Minggu ini, dunia siber kembali dihebohkan dengan berbagai insiden keamanan yang menunjukkan bahwa serangan tidak selalu canggih, namun bisa sangat merusak. Kerentanan lama yang kembali dimanfaatkan, sistem yang terekspos, hingga penyalahgunaan sesi peramban menjadi celah bagi para penjahat siber. Banyak kasus menunjukkan bahwa akses yang sudah ada dan asumsi pertahanan yang lemah menjadi pemicu masalah yang lebih besar. Mari kita telusuri apa saja yang menjadi sorotan utama minggu ini.
Salah satu ancaman paling menonjol adalah dugaan keterlibatan kelompok APT (Advanced Persistent Threat) asal Tiongkok dalam eksploitasi kerentanan baru di VMware vCenter. Serangan ini memanfaatkan CVE-2026-59310 (skor CVSS: 9.8), sebuah celah directory-traversal serius yang memungkinkan eksekusi kode arbitrer. Dalam beberapa kasus, serangan ini berujung pada penyebaran backdoor, biner SSH terbalik, dan bahkan ransomware turunan Babuk. Namun, menurut QUIRSO, ransomware ini kemungkinan besar hanya “tabir asap” untuk mengalihkan perhatian dari intrusi yang lebih besar dan menghambat analisis forensik, bukan tujuan utama serangan.
Di sisi lain, adopsi Kecerdasan Buatan (AI) dalam keamanan siber menunjukkan peningkatan signifikan, namun tata kelolanya masih tertinggal. Survei SANS terbaru mengungkapkan bahwa 78% praktisi keamanan kini mengintegrasikan AI dalam strategi mereka, meningkat dari 50% tahun lalu. Ironisnya, hanya 36% yang memiliki program risiko AI yang formal. Ini menunjukkan celah besar antara penggunaan teknologi dan kerangka kerja pengelolaannya, yang berpotensi menciptakan risiko baru.
Apple macOS juga tidak luput dari serangan. Sebuah kerentanan keamanan yang baru ditambal (CVE-2026-65400, skor CVSS: 9.8) telah dieksploitasi untuk menyebarkan penambang kripto. Celah autentikasi kritis pada komponen Screen Sharing ini memungkinkan penyerang di jaringan untuk mengakses layanan desktop jarak jauh tanpa kredensial yang sah. Pusat Keamanan Siber Nasional Belanda (NCSC-NL) melaporkan adanya eksploitasi aktif di sistem dengan port 5900 yang terbuka ke internet, di mana penyerang berhasil menginstal penambang Monero setelah mendapatkan akses root.
Kelompok Lazarus, aktor ancaman asal Korea Utara, kembali beraksi dengan mengeksploitasi kerentanan zero-day di Microsoft Windows. Serangan ini menargetkan perusahaan pertahanan dan kedirgantaraan di Prancis, Jerman, Brasil, dan India, untuk menyebarkan backdoor baru. Aktivitas ini merupakan bagian dari “Operasi Dream Job,” kampanye spionase siber yang telah lama berlangsung, di mana penjahat siber menggunakan tawaran pekerjaan palsu untuk mencuri data sensitif dan menginstal malware. Kerentanan yang dieksploitasi adalah CVE-2026-68820 (skor CVSS: 7.0), sebuah celah peningkatan hak istimewa di Windows Ancillary Function Driver for WinSock (“AFD.sys”) yang telah ditambal pada pembaruan Patch Tuesday Agustus 2026. Serangan ini diketahui menyebarkan backdoor ForestTiger dan Troy.
GeoServer juga menghadapi masalah serius dengan kerentanan injeksi SQL kritis yang memungkinkan eksekusi kode jarak jauh (RCE). Meskipun belum memiliki pengidentifikasi CVE, kerentanan ini telah ditambal pada versi 3.0.1, 2.28.5, dan 2.27.6. watchTowr melaporkan eksploitasi aktif dalam hitungan jam setelah pengungkapan publik, dengan ratusan upaya serangan dari sejumlah kecil alamat IP. Meskipun pengembang GeoServer berencana menambal celah ini dalam siklus rilis reguler, detail kerentanan sudah terlanjur bocor ke publik minggu lalu.
Terakhir, munculnya “Amnesia Stealer,” keluarga malware baru untuk macOS, menunjukkan evolusi ancaman pencurian data. Malware ini tidak hanya mencuri data dari 16 peramban web berbasis Chromium, kata sandi, dompet kripto, Apple Notes, dokumen, dan data iCloud Keychain, tetapi juga memiliki modul streaming yang memungkinkan penyerang mengontrol peramban korban secara interaktif. Salah satu fitur uniknya adalah kemampuan untuk menyalin profil Chromium korban, termasuk status autentikasinya, dan memuatnya ke peramban headless pada sistem yang terinfeksi untuk mengakses sesi yang terautentikasi. Ini merupakan ancaman serius yang melampaui sekadar pencurian data biasa.























