Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan kuat mengenai peran strategis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau yang dikenal sebagai Danantara. Dalam sebuah pidato penting yang disampaikan di hadapan para pemangku kepentingan, Presiden menyebut kehadiran lembaga ini sebagai salah satu pencapaian monumental bangsa Indonesia yang akan dicatat dalam lembaran sejarah. Kehadiran Danantara menandai era baru bagi pengelolaan kekayaan negara melalui mekanisme dana kedaulatan (sovereign wealth fund) yang lebih terintegrasi, transparan, dan profesional. Langkah ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara negara memandang dan mengelola aset-aset strategisnya demi kepentingan nasional.
Dalam taklimat yang disampaikan pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Presiden Prabowo menekankan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia berhasil membangun sebuah institusi yang mampu menampung dan mengelola kekayaan negara secara masif dalam satu payung besar. Danantara dirancang bukan sekadar sebagai lembaga administratif yang bersifat pasif, melainkan sebagai mesin penggerak ekonomi yang akan menjamin kesejahteraan jangka panjang bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan model pengelolaan yang menyerupai lembaga investasi global seperti Temasek di Singapura atau GIC, Danantara diharapkan mampu melakukan ekspansi aset secara cerdas dan strategis.
Secara filosofis, Presiden menjelaskan bahwa nama Danantara yang merupakan akronim dari Daya Anagata Nusantara memiliki makna mendalam yang berakar pada visi jangka panjang bangsa. Nama tersebut merepresentasikan daya atau energi masa depan bagi tanah air. Menurutnya, dana kedaulatan ini diposisikan sebagai cadangan energi ekonomi yang akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang, mulai dari anak, cucu, hingga cicit kita di masa depan. Konsep ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) menuju visi Indonesia Emas 2045, di mana kemandirian ekonomi menjadi pilar utamanya.
Salah satu poin yang paling mencolok dalam pernyataan Presiden adalah besarnya nilai aset yang dikelola. Prabowo mengungkapkan bahwa nilai aset Danantara kini telah menembus angka fantastis, yakni lebih dari US$1.000 miliar atau setara dengan lebih dari Rp15.000 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia jika dikelola dengan tata kelola yang profesional dan terpusat melalui badan investasi ini. Nilai aset yang masif ini memberikan daya tawar (bargaining power) yang kuat bagi Indonesia dalam kancah geopolitik dan geoekonomi global, memungkinkan negara untuk melakukan investasi strategis pada sektor-sektor teknologi tinggi dan infrastruktur kritikal.
Presiden juga menyinggung mengenai tantangan transparansi pengelolaan aset negara di masa lalu yang seringkali menjadi titik lemah dalam tata kelola pemerintahan. Ia mengakui bahwa selama ini banyak kekayaan negara yang keberadaannya sulit dipantau, tumpang tindih, dan tidak terpetakan dengan jelas dalam satu sistem informasi yang terpadu. Pengalaman saat menjabat sebagai anggota kabinet di era pemerintahan sebelumnya memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah saat ini mengenai pentingnya konsolidasi aset agar tidak ada sumber daya negara yang terabaikan atau disalahgunakan. Ketidakjelasan ini selama ini menjadi celah yang menghambat optimalisasi pendapatan negara dari sektor non-pajak.
Ketidakteraturan data aset ini terungkap saat Presiden meninjau laporan mengenai jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada saat ini. Prabowo mengaku sempat terkejut saat mengetahui fakta bahwa jumlah entitas BUMN yang tersebar di berbagai sektor mencapai angka 1.077 perusahaan. Angka ini jauh melampaui perkiraan awal yang ia miliki, yakni hanya sekitar 300 hingga 350 perusahaan saja. Kompleksitas ini terjadi karena banyaknya BUMN yang membentuk anak perusahaan, cucu perusahaan, hingga tingkat cicit perusahaan yang membuat struktur kepemilikan menjadi sangat luas dan berbelit-belit. Fenomena ini menciptakan inefisiensi birokrasi dan beban operasional yang sangat besar bagi kas negara.
Menanggapi fenomena banyaknya entitas tersebut, Danantara telah mengambil langkah tegas melalui program restrukturisasi yang menyeluruh dan radikal. Dalam kurun waktu 18 bulan pertama operasionalnya, lembaga ini telah berhasil menutup, mengonsolidasikan, serta menggabungkan sebanyak 250 BUMN yang dianggap tidak produktif atau memiliki tumpang tindih fungsi yang ekstrem. Langkah agresif ini diambil untuk menciptakan efisiensi operasional dan memastikan setiap rupiah yang dikelola memberikan nilai tambah nyata. Pemerintah menargetkan jumlah entitas BUMN yang dikelola akan menyusut drastis hingga maksimal hanya 350 entitas pada akhir tahun 2026 mendatang, guna menciptakan struktur yang ramping namun kuat.
Keberhasilan transformasi ini tidak lepas dari kepemimpinan jajaran eksekutif yang diisi oleh para profesional berpengalaman di bidangnya. Lembaga yang dibentuk pada Februari 2025 ini dipimpin oleh Rosan Roeslani selaku CEO, dengan dukungan Dony Oskaria yang menjabat sebagai COO sekaligus Kepala BP BUMN. Sementara itu, posisi Chief Investment Officer dipercayakan kepada Pandu Sjahrir, seorang tokoh yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia modal ventura dan investasi teknologi. Sinergi para profesional ini diharapkan mampu membawa Danantara menjadi pemain kunci dalam peta ekonomi global, mampu bersaing dengan dana abadi negara-negara maju lainnya.
Dengan adanya Danantara, Indonesia kini memiliki instrumen keuangan yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin dinamis, seperti fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik. Fokus utama pemerintah kini adalah memastikan bahwa setiap dolar dari aset yang dikelola dapat memberikan imbal hasil (return) yang optimal bagi pembangunan nasional. Hal ini mencakup investasi pada sektor energi terbarukan, hilirisasi industri, dan digitalisasi ekonomi. Dengan demikian, kekayaan alam dan sumber daya ekonomi lainnya dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi masa depan secara berkelanjutan, menciptakan fondasi ekonomi yang tangguh dan tidak mudah goyah oleh guncangan eksternal.




















