Dunia internasional tengah diselimuti suasana duka mendalam menyusul kabar berpulangnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Berpulangnya sosok yang telah memimpin Iran selama bertahun-tahun ini telah menciptakan guncangan politik dan sosial yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Menanggapi kabar tersebut, Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pesan belasungkawa yang sangat mendalam bagi bangsa dan rakyat Iran. Ucapan duka tersebut disampaikan melalui sebuah video resmi yang kemudian disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional di Iran sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dan Iran.
Wafatnya Khamenei memicu gelombang emosi besar yang melanda masyarakat Iran dan pendukungnya di seluruh dunia. Berdasarkan informasi yang beredar luas, prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung secara khidmat pada Kamis (9/7). Namun, suasana duka ini dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang meningkat tajam. Muncul laporan mengenai adanya keterlibatan serangan yang disebut-sebut dilakukan oleh pihak Amerika Serikat (AS) dan Israel sebelum wafatnya sang pemimpin. Situasi ini menambah kompleksitas geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memang sudah sangat volatil, di mana prosesi penghormatan terakhir bagi sang pemimpin harus dilakukan di tengah ancaman instabilitas keamanan yang nyata.
Rangkaian upacara pemakaman yang sangat besar telah dimulai sejak Selasa (7/7) malam. Jenazah Khamenei sempat diterima dengan penuh kehormatan oleh jajaran pejabat tinggi dan politisi senior Irak di Bandara Internasional Najaf. Kehadiran Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam prosesi penyambutan tersebut menegaskan betapa pentingnya momen ini bagi stabilitas nasional Iran dan transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung. Kehadiran pemimpin negara tetangga di lokasi penyambutan menunjukkan solidaritas regional yang kuat di tengah masa transisi yang sangat krusial bagi Iran.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok pemimpin besar tersebut, Pemerintah Irak bahkan secara resmi menetapkan Rabu (8/7) sebagai hari libur nasional. Hal ini dilakukan guna menghormati seluruh rangkaian upacara pemakaman yang telah dimulai sejak dini hari. Pengamanan di lokasi diperketat secara masif oleh aparat keamanan setempat, mengingat jutaan pelayat diperkirakan akan memadati area tersebut. Suasana haru yang sangat kental menyelimuti saat para pelayat berusaha menyentuh peti jenazah yang dibawa menggunakan truk menuju makam Imam Ali, sebuah tempat yang dianggap sangat sakral dan memiliki nilai spiritualitas tinggi bagi umat Syiah di seluruh dunia.
Dalam pesan emosionalnya, Megawati Soekarnoputri menekankan bahwa kepergian Khamenei bukan sekadar kehilangan bagi rakyat Iran semata, melainkan juga menjadi kehilangan besar bagi komunitas global yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kedaulatan negara. Menurutnya, sosok Khamenei telah meninggalkan jejak yang mendalam bagi mereka yang terus berjuang memperjuangkan kemanusiaan dan hak-hak bangsa di tengah arus ketidakadilan global yang sering kali menekan negara-negara berkembang.
Megawati secara khusus memberikan apresiasi yang tinggi terhadap integritas pribadi Khamenei yang ia nilai sangat luar biasa. Ia menyebut bahwa almarhum bukan hanya seorang tokoh agama atau pemimpin politik biasa yang berkuasa, melainkan seorang pejuang yang memiliki semangat patriotisme yang tak tergoyahkan demi kedaulatan negaranya. Menariknya, dalam narasi belasungkawa tersebut, Megawati juga menemukan adanya kemiripan spirit perjuangan antara Khamenei dengan ayahnya, Proklamator Indonesia, Soekarno, yaitu semangat untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri dan menolak segala bentuk hegemoni asing.
Mengingat kembali memori diplomasi yang telah terjalin selama puluhan tahun, Megawati menceritakan pengalaman pribadinya saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran pada tahun 2004, saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam pertemuan kenegaraan tersebut, ia mengaku sangat terkesan dengan kharisma dan keteduhan hati yang terpancar dari sosok Khamenei. Ia mendeskripsikan almarhum sebagai seorang ulama yang memiliki kelembutan dalam tutur kata, namun sangat teguh dan tidak tergoyahkan dalam memegang prinsip-prinsip negara, serta sangat peka terhadap penderitaan rakyatnya yang paling bawah.
Lebih lanjut, Megawati menyoroti hubungan historis yang sangat kuat antara Indonesia dan Iran yang dibangun melalui nilai-nilai universal yang dianut oleh Khamenei. Beliau menyebutkan bahwa Khamenei memiliki apresiasi yang mendalam terhadap nilai-nilai Pancasila dan semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung yang menjadi tonggak kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Hal ini, menurut pandangan Megawati, menjadi fondasi penting bagi visi besar Iran untuk menjadi negara yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat di mata dunia internasional.
Menutup pesan dukanya, Megawati Soekarnoputri kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Ia menyerukan agar setiap konflik internasional, terutama yang terjadi di wilayah sensitif seperti Timur Tengah, harus diselesaikan melalui jalur dialog yang adil, bermartabat, dan berdasarkan penghormatan terhadap hukum internasional. Ia juga secara tegas menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk agresi bersenjata yang dapat memicu penderitaan kemanusiaan lebih luas. Megawati mengakhiri pesannya dengan memanjatkan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga serta seluruh rakyat Iran diberikan ketabahan dalam menghadapi masa transisi ini.




















