Inovasi terbaru dalam pencegahan HIV berpotensi besar menekan angka kasus baru secara global. Namun, pemotongan dana bantuan asing dari Amerika Serikat dikhawatirkan akan menghambat akses terhadap obat-obatan revolusioner ini bagi mereka yang paling membutuhkan. Demikian peringatan para ahli dalam Konferensi Aids 2026 di Rio de Janeiro, Brasil.
Setahun yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan perluasan akses terhadap lenacapavir. Ini adalah versi suntik dari obat pencegahan HIV PrEP yang hanya memerlukan dua suntikan per tahun. PrEP, yang juga tersedia dalam bentuk pil oral harian dan suntikan dua bulanan, terbukti 99% efektif mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual jika dikonsumsi secara konsisten.
WHO mengakui bahwa akses lenacapavir masih terbatas di luar uji klinis. Meski demikian, organisasi tersebut mendesak pemerintah untuk mempercepat ketersediaan obat suntik ini. Pasalnya, lenacapavir dinilai dapat menjadi terobosan besar bagi populasi yang menghadapi kendala signifikan dalam mengakses obat-obatan yang ada saat ini.
Bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan, menghadapi stigma, atau tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari layanan kesehatan, mengonsumsi pil harian atau suntikan dua bulanan bisa menjadi sangat sulit. Lenacapavir menawarkan perlindungan kuat terhadap HIV hanya dengan mengharuskan pasien mengunjungi fasilitas kesehatan dua kali setahun. Sebuah studi pemodelan matematis dari WHO dan PBB memperkirakan bahwa ketersediaan lenacapavir secara luas dapat mencegah 41% infeksi HIV baru di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Kenya barat.
Ironisnya, ketika WHO merekomendasikan investasi global untuk pencegahan HIV dengan lenacapavir pada tahun 2025, pemerintahan Trump justru sedang dalam proses membubarkan USAID. Padahal, USAID merupakan penyedia 73% sumber daya yang didanai donor untuk pencegahan HIV secara global, menurut sebuah studi di Lancet Global Health. Hingga Juli 2026, berbagai laporan menunjukkan bahwa investasi dalam pencegahan HIV telah menurun drastis di seluruh dunia.
“Kami memiliki pencapaian besar dalam pencegahan. Di sisi lain, kami menghadapi pemotongan dana besar yang sangat memengaruhi tidak hanya penyediaan teknologi pencegahan baru ini, tetapi juga mengurangi jumlah orang yang terlibat dalam perawatan, terlibat dalam layanan pencegahan,” kata Beatriz Grinsztejn, Presiden International Aids Society, dalam konferensi pers di Konferensi Aids 2026. Grinsztejn juga adalah seorang dokter penyakit menular dan peneliti di organisasi pencegahan HIV Fiocruz di Rio de Janeiro.
Pemotongan dana ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan obat-obatan itu sendiri, tetapi juga kemampuan organisasi untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkannya.
“Ketika pemotongan dana terjadi, salah satu hal besar yang terpengaruh adalah pekerja lapangan sebaya (peer outreach workers), yang sangat penting untuk menjangkau pengguna narkoba, membangun kepercayaan dengan pengguna narkoba, dan melibatkan mereka dalam layanan,” jelas Ailish Brennan, seorang analis kebijakan di Harm Reduction International.
Pengguna narkoba suntik memiliki risiko sangat tinggi tertular HIV, terutama jika mereka tidak memiliki akses ke jarum suntik bersih. Sebuah laporan dari International Network of People Who Use Drugs menemukan bahwa organisasi paling mungkin merespons hilangnya dana dengan memotong layanan penjangkauan.
Brennan menambahkan bahwa banyak organisasi pengurangan dampak buruk dan pencegahan HIV di seluruh dunia terpaksa menutup lokasi, termasuk lokasi bergerak. Hal ini bisa berarti klien yang berisiko HIV kehilangan kepercayaan pada organisasi.
“Tetapi juga, jika mereka harus bepergian lebih jauh, mereka kehilangan kontak lokal, dan pada akhirnya ini berarti inovasi yang kita lihat, suntikan kerja panjang yang memiliki begitu banyak harapan dan peluang, tidak akan sampai kepada orang-orang yang paling membutuhkannya,” kata Brennan.
Pada konferensi pers tersebut, Grinsztejn mencatat bahwa bahkan sebelum pembubaran USAID, sebagian besar Amerika Latin telah dikesampingkan dari perjanjian dengan perusahaan farmasi yang berbasis di AS untuk membuat inovasi pencegahan HIV lebih terjangkau.
Gilead Sciences menyediakan versi generik obat kerja panjang ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan harga jauh di bawah harga pasar. Namun, Gilead membenarkan pengecualian negara-negara seperti Brasil, Kolombia, Meksiko, Peru, dan Argentina dengan mengklasifikasikannya sebagai “negara berpenghasilan menengah ke atas”. Para pegiat HIV menyanggah pembenaran ini, sebagian karena orang-orang di negara-negara ini memainkan peran kunci dalam uji klinis untuk menguji obat-obatan tersebut.
“Kami memiliki teknologi pencegahan yang merupakan impian kami,” kata Grinsztejn selama konferensi, menambahkan bahwa seharusnya mungkin untuk memenuhi tujuan UNAIDS yang telah lama dipegang untuk menghilangkan AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Grinsztejn kemudian menambahkan: “Dari perspektif pribadi saya, saya pikir sangat sulit bagi kita untuk mencapai target mengingat skenario saat ini.”





















