Jakarta, 10 Agustus – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di dalam negeri hingga saat ini belum menimbulkan gangguan signifikan bagi negara-negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya keras pemerintah untuk menanggulangi meluasnya dampak karhutla, terutama dengan mempertimbangkan kondisi fenomena El Nino yang semakin memperparah situasi. Isu karhutla dan dampaknya terhadap negara tetangga bukanlah hal baru bagi Indonesia. Sejak tahun 1990-an, kabut asap lintas batas telah menjadi masalah regional yang berulang, seringkali menyebabkan ketegangan diplomatik dan kerugian ekonomi yang signifikan bagi negara-negara ASEAN. Oleh karena itu, komitmen pemerintah untuk mencegah terulangnya krisis asap regional adalah langkah penting dalam menjaga hubungan baik antarnegara dan melindungi kualitas udara regional.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Djamari Chaniago, dalam keterangannya di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, pada Senin (10/8), menyampaikan komitmen pemerintah untuk terus mengantisipasi penyebaran asap karhutla ke wilayah negara lain. Ia menekankan bahwa meskipun asap memiliki potensi untuk menyebar luas, pemerintah telah melakukan berbagai upaya maksimal agar hal tersebut tidak terjadi. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran pemerintah akan sensitivitas isu ini di mata internasional. Pengalaman pahit di masa lalu, di mana kabut asap tebal menyelimuti Singapura dan Malaysia selama berminggu-minggu, menyebabkan gangguan penerbangan, masalah kesehatan, dan kerugian miliaran dolar, menjadi pelajaran berharga yang mendorong pemerintah untuk bertindak proaktif.
“Saya kira itu yang istilahnya apa, asap kita itu bisa ke mana-mana ya. Jadi kita juga upaya sekeras mungkin upaya itu untuk tidak mengganggu juga pihak lain. Itulah yang kita lakukan ya, baik ke negara tetangga yang mana pun dekat dengan kita itu pasti asap itu. Tapi selama sampai dengan hari ini tidak ada itu ya, dan itu tidak ada, dan kita jaga betul supaya tidak,” ujar Djamari, menjelaskan strategi pencegahan yang sedang dijalankan. Strategi ini tidak hanya melibatkan pemadaman api di darat, tetapi juga pemantauan kualitas udara secara real-time, koordinasi dengan badan meteorologi untuk memprediksi arah angin, serta komunikasi aktif dengan negara-negara tetangga. Transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan karhutla menjadi kunci untuk membangun kepercayaan regional.
Data pemerintah menunjukkan bahwa hingga bulan Agustus ini, lebih dari 107 ribu hektare lahan di Indonesia telah terbakar. Angka ini mencerminkan seriusnya masalah karhutla yang semakin diperparah oleh fenomena El Nino. El Nino, yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, menyebabkan kondisi kering yang ekstrem di banyak wilayah Indonesia, sehingga memicu dan mempercepat penyebaran api. Skala kebakaran yang mencapai ratusan ribu hektare ini menunjukkan tantangan yang luar biasa besar. Kebakaran seringkali terjadi di lahan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, serta di areal perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri yang dibuka dengan metode bakar untuk efisiensi biaya, meskipun praktik ini ilegal.
“El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang. Keadaan ini akan sangat mempercepat proses penanganan kebakaran hutan kita yang terjadi saat ini,” tambah Djamari, menyoroti tantangan besar yang dihadapi dalam penanganan karhutla. Fenomena El Nino bukanlah sekadar peningkatan suhu biasa; ia mengubah pola cuaca global, mengurangi curah hujan secara drastis di wilayah tropis seperti Indonesia, dan menciptakan kondisi ‘kering kerontang’ yang ideal bagi api untuk menyala dan menyebar dengan cepat. Dampak El Nino ini tidak hanya mempersulit upaya pemadaman, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran di daerah-daerah yang sebelumnya tidak rentan.
Dalam upaya penanggulangan karhutla, Djamari menyebutkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan dianggap sebagai salah satu langkah paling efektif. OMC telah menjadi tulang punggung strategi penanganan karhutla di Indonesia selama bertahun-tahun, terutama di musim kemarau panjang. Teknologi ini bekerja dengan menyemai awan menggunakan bahan kimia seperti garam (NaCl) untuk merangsang kondensasi dan pembentukan tetesan hujan. Keberhasilannya dapat secara signifikan mengurangi titik api dan kabut asap, memberikan jeda bagi tim pemadam kebakaran di darat.
Namun, keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan yang memadai. Tanpa formasi awan yang tepat, upaya menciptakan hujan buatan menjadi tidak mungkin dilakukan. Ini adalah dilema besar yang sering dihadapi para pelaksana OMC: saat kondisi sangat kering dan kebakaran meluas, awan kumulus yang ideal untuk disemai justru langka. Keterbatasan ini menyoroti perlunya pendekatan multi-sektoral dan jangka panjang dalam penanganan karhutla, tidak hanya mengandalkan solusi darurat.
“Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” jelasnya, menguraikan kendala teknis dalam pelaksanaan OMC. Keterbatasan ini juga berarti bahwa pemerintah tidak bisa hanya menunggu hujan buatan. Upaya pencegahan, seperti patroli darat, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, edukasi masyarakat, dan restorasi lahan gambut, harus terus digalakkan secara paralel dan berkelanjutan. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik individu maupun korporasi, juga menjadi faktor krusial untuk memberikan efek jera.
Meskipun demikian, terdapat secercah harapan. Djamari mengungkapkan bahwa berdasarkan perkiraan cuaca, ada peluang munculnya awan hujan dalam beberapa hari mendatang, khususnya menjelang tanggal 18 Agustus. Periode ini menjadi krusial bagi pemerintah untuk memaksimalkan pelaksanaan OMC guna memadamkan titik-titik api yang masih aktif. Informasi ini memberikan momentum dan urgensi bagi tim OMC untuk bersiap sedia, memantau kondisi atmosfer secara cermat, dan segera bertindak ketika awan yang sesuai terdeteksi. Keberhasilan operasi ini akan sangat menentukan seberapa cepat krisis asap dapat diatasi sebelum benar-benar memburuk.
“Minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada. Kalau itu ada, itu memang mungkin anugrah yang diberikan kepada kita, mungkin menjelang 17 Agustus ini semoga itu akan keluar awan hujan itu,” pungkas Djamari, berharap adanya dukungan alam untuk membantu penanganan karhutla di momen penting kemerdekaan Indonesia. Harapan ini mencerminkan betapa besar ketergantungan pada faktor alam dalam menghadapi bencana karhutla, sekaligus menegaskan pentingnya upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penanganan karhutla yang efektif bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga tentang membangun ketahanan jangka panjang terhadap bencana ekologis yang berulang ini, menjaga kesehatan masyarakat, dan melindungi reputasi Indonesia di mata internasional.





















