Kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki, kini berada di bawah lockdown Israel. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran rencana aneksasi Israel yang lebih luas di wilayah tersebut.
Strategi pendudukan Israel telah membagi kota Hebron menjadi zona-zona kontrol. Ratusan pemukim ditempatkan di antara warga Palestina.
Rencana Israel untuk Tepi Barat yang diduduki menuai kecaman luas. Model Hebron dapat ditiru di tempat lain.
Hebron, kota yang memiliki sejarah panjang dan signifikansi budaya bagi warga Palestina, kini menghadapi tantangan besar.
Kota ini terpecah menjadi beberapa zona dengan tingkat kontrol yang berbeda.
Kehadiran pemukim Israel di tengah komunitas Palestina telah menciptakan ketegangan dan konflik yang berkelanjutan.
Lockdown yang diberlakukan oleh Israel semakin memperburuk situasi. Pembatasan pergerakan dan akses ke layanan dasar menjadi masalah utama.
Rencana aneksasi yang lebih luas meningkatkan kekhawatiran tentang masa depan Tepi Barat dan prospek perdamaian.
Masyarakat internasional telah menyatakan keprihatinannya tentang tindakan Israel. Banyak negara menyerukan penghentian segera pembangunan permukiman dan aneksasi.
Situasi di Hebron mencerminkan tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh warga Palestina di wilayah pendudukan.
Rencana aneksasi berpotensi mengubah demografi dan struktur politik Tepi Barat secara permanen.
Upaya diplomatik untuk mencapai solusi yang adil dan berkelanjutan terus berlanjut. Namun, prospeknya tetap tidak pasti.
Seperti yang dilansir dari Al Jazeera, situasi di Hebron memberikan gambaran suram tentang masa depan Tepi Barat di bawah pendudukan Israel.





















