Dua warga negara Rusia, Lev Lakshtanov dan Igor Ratchin, dinyatakan bersalah oleh pengadilan Angola atas tuduhan terorisme dan spionase. Keduanya dijatuhi hukuman masing-masing delapan dan sebelas tahun penjara setelah dituduh merencanakan kudeta dan membantu mengorganisir demonstrasi mematikan di negara Afrika bagian selatan tersebut pada tahun lalu. Tuduhan ini melibatkan dugaan keterlibatan mereka dalam aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Angola, menandai sebuah insiden diplomatik dan keamanan yang signifikan antara Rusia dan Angola.
Lakshtanov dan Ratchin sendiri telah membantah semua tuduhan yang diarahkan kepada mereka. Keduanya berdalih bahwa kehadiran mereka di Angola semata-mata untuk kegiatan budaya dan bisnis, sebuah klaim yang sering digunakan oleh agen intelijen yang tertangkap. Namun, pengadilan tidak menerima pembelaan tersebut dan tetap menjatuhkan vonis berat, menunjukkan bahwa bukti yang diajukan oleh jaksa penuntut cukup kuat untuk meyakinkan hakim.
Peristiwa yang menjadi latar belakang tuduhan ini adalah mogok kerja taksi minibus yang terjadi pada 28-30 Juli 2025. Mogok tersebut, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, kemudian berkembang menjadi kerusuhan dan penjarahan. Menurut data resmi, insiden tersebut mengakibatkan 22 orang tewas dan lebih dari 1.600 orang ditangkap. Kenaikan harga bahan bakar seringkali menjadi pemicu ketidakpuasan publik di negara-negara berkembang, dan dalam kasus ini, tampaknya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan politik.
Pasukan keamanan Angola dituduh menggunakan peluru tajam terhadap para pengunjuk rasa. Namun, pemerintah Angola menyatakan bahwa penggunaan kekuatan ‘progresif’ yang dilakukan oleh pasukannya adalah tindakan yang dapat dibenarkan untuk mengendalikan situasi yang memburuk. Sebelumnya, Human Rights Watch pernah menuduh Angola menggunakan ‘kekuatan berlebihan’ ketika membubarkan protes damai terhadap kenaikan harga bahan bakar pada 12 Juli 2025 dengan menggunakan peluru karet dan gas air mata. Pola kekerasan ini menimbulkan kekhawatiran tentang penegakan hak asasi manusia di Angola.
Jaksa penuntut Angola mengklaim bahwa Lakshtanov dan Ratchin memiliki tujuan untuk memengaruhi pemilihan presiden yang akan datang. Salah satu dugaan adalah dengan mendanai partai oposisi terbesar di Angola, National Union for the Total Independence of Angola (UNITA). Selain itu, mereka juga dituduh berusaha memaksakan perubahan kepemimpinan di dalam Popular Movement for the Liberation of Angola (MPLA), partai yang telah berkuasa di negara tersebut sejak kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1975. Intervensi asing dalam politik internal suatu negara merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan.
Jaksa juga menuduh kedua pria Rusia tersebut memiliki keterkaitan dengan Africa Politology. Jaringan ini dikenal sebagai jaringan disinformasi dan propaganda Rusia yang muncul dari kelompok tentara bayaran Wagner. Setelah kematian pemimpin Wagner, Yevgeny Prigozhin, pada tahun 2023, Africa Politology diambil alih oleh Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), seperti yang diungkapkan oleh investigasi media termasuk Forbidden Stories. Kelompok Wagner sendiri telah diubah menjadi Africa Corps dan diintegrasikan ke dalam militer Rusia. Ini menunjukkan pergeseran strategi pengaruh Rusia di Afrika, dari aktor non-negara ke entitas yang lebih terintegrasi dengan struktur negara.
Angola, yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor minyak, memiliki hubungan historis yang erat dengan Rusia. Selama Perang Dingin dan Perang Saudara Angola (1975-2002), Uni Soviet dan Kuba mendukung MPLA, sementara Amerika Serikat dan Afrika Selatan mendukung lawan-lawannya, termasuk UNITA. Namun, sejak Presiden João Lourenço menjabat pada tahun 2017, Angola telah meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat dan Eropa, sebuah langkah yang mungkin dilihat Moskow sebagai pergeseran aliansi yang perlu ditanggapi.
Dalam dekade terakhir, Rusia memang telah meningkatkan kehadirannya di Afrika secara signifikan. Kelompok Wagner, yang kemudian menjadi Africa Corps, telah memberikan dukungan keamanan kepada Presiden Republik Afrika Tengah, Faustin-Archange Touadéra, sejak tahun 2017. Pada tahun 2021, pasukan Wagner tiba di Mali untuk mendukung junta militer di sana. Africa Corps juga mendukung rezim militer di negara tetangga Niger dan Burkina Faso. Sebuah laporan Kongres AS juga menyebutkan bahwa sejak tahun 2023, pasukan Rusia telah dikerahkan di Guinea Khatulistiwa, Libya, dan Sudan. Peningkatan kehadiran ini seringkali disertai dengan operasi informasi dan dukungan politik bagi rezim yang pro-Rusia, atau setidaknya, anti-Barat.
Selain itu, Presiden Madagaskar, Michael Randrianirina, juga telah mempererat hubungan dengan Rusia sejak mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada Oktober 2025. Dilaporkan ada warga Rusia di antara pengawal kepresidenannya, dan sebuah program mingguan tentang hubungan Madagaskar-Rusia diluncurkan di televisi nasional pada awal bulan ini. Kasus ini menunjukkan pola peningkatan pengaruh Rusia di berbagai negara Afrika, seringkali melalui dukungan militer, propaganda, dan intervensi politik, yang dapat mengancam stabilitas regional dan kedaulatan negara-negara tersebut.
Dua warga Angola juga diadili bersama dengan warga Rusia tersebut. Jurnalis olahraga Carlos Tomé menerima hukuman penjara dua tahun dengan penangguhan, sementara Francisco de Oliveira, sekretaris jenderal sayap pemuda UNITA, dibebaskan. Jaksa penuntut telah mengajukan banding terhadap putusan tersebut, menurut kantor berita Portugal Lusa. Lakshtanov dan Ratchin juga mengajukan banding atas hukuman mereka, namun akan tetap ditahan selama proses banding berlangsung. Kedutaan Besar Rusia di Angola belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar mengenai kasus ini, yang mengindikasikan keengganan untuk secara terbuka membahas tuduhan serius ini.
Detail Latar Belakang: Kasus ini tidak hanya menyoroti dugaan intervensi Rusia di Angola tetapi juga dinamika geopolitik yang lebih luas di benua Afrika. Rusia, yang berusaha untuk menegaskan kembali pengaruhnya di panggung global, telah menemukan peluang di Afrika, terutama di negara-negara yang menghadapi ketidakstabilan politik atau mencari alternatif dari mitra tradisional Barat. Melalui kombinasi dukungan militer, sumber daya, dan kampanye disinformasi, Rusia berupaya membangun aliansi baru dan memperluas jangkauan strategisnya. Angola, dengan kekayaan minyak dan sejarah panjang hubungan dengan Rusia, menjadi target yang menarik. Peningkatan kehadiran Rusia ini juga bertepatan dengan penarikan pasukan Barat dari beberapa wilayah di Afrika, menciptakan kekosongan yang dapat diisi oleh aktor lain.
Rekomendasi Praktis: Untuk negara-negara Afrika yang rentan terhadap intervensi asing, sangat penting untuk memperkuat institusi demokrasi, meningkatkan transparansi dalam pemerintahan, dan membangun kemampuan pertahanan dan intelijen yang kuat. Diversifikasi mitra ekonomi dan keamanan dapat mengurangi ketergantungan pada satu kekuatan asing. Selain itu, investasi dalam pendidikan dan literasi media dapat membantu masyarakat mengenali dan menolak kampanye disinformasi. Bagi masyarakat internasional, penting untuk terus memantau aktivitas aktor asing di Afrika, mendukung upaya untuk melindungi kedaulatan negara, dan memberikan bantuan pembangunan yang berkelanjutan untuk mengurangi kerentanan terhadap eksploitasi.
Dampak Keamanan: Insiden semacam ini memiliki dampak keamanan yang signifikan, baik di tingkat nasional maupun regional. Di tingkat nasional, dugaan upaya kudeta dan pendanaan oposisi dapat mengacaukan proses politik, melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintah, dan memicu kekerasan. Ini juga dapat mengarah pada tindakan keras pemerintah terhadap perbedaan pendapat, yang selanjutnya dapat memperburuk situasi hak asasi manusia. Di tingkat regional, intervensi asing yang terus-menerus dapat memicu perlombaan senjata, meningkatkan ketegangan antar negara, dan bahkan menyebabkan konflik proksi. Kehadiran aktor non-negara seperti Wagner, meskipun sekarang terintegrasi sebagai Africa Corps, juga menimbulkan tantangan unik karena mereka sering beroperasi di luar kerangka hukum internasional tradisional. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak stabil dan tidak dapat diprediksi, yang pada akhirnya merugikan perdamaian dan pembangunan di Afrika.




















