Misteri Kematian Sutrimo: Keluarga Pertanyakan Kejanggalan dan Komunikasi Terakhir dengan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Politik
Views: 5

Kematian Sutrimo, pria yang diidentifikasi sebagai kepala rumah tangga (Karumga) mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, menyisakan banyak pertanyaan dan kecurigaan dari pihak keluarga. Sutrimo, warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, ditemukan tak bernyawa di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memicu serangkaian kejanggalan yang mulai terkuak.

Aan Rohaeni, kuasa hukum keluarga Sutrimo, mengungkapkan bahwa keluarga mulai mencurigai penyebab dan kondisi kematian almarhum setelah serangkaian peristiwa yang tidak lazim. Meskipun jenazah Sutrimo tiba di rumah keluarga dalam kondisi sudah dikafani dan bersih, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan awal, beberapa hal kemudian memicu tanda tanya besar.

Pada awalnya, keluarga menerima informasi bahwa Sutrimo meninggal karena gula darah yang mencapai 600, mengingat almarhum memang memiliki riwayat penyakit gula. Jenazah yang tiba pada malam hari langsung dimakamkan tanpa ada kecurigaan berarti. Namun, situasi mulai berubah ketika barang-barang pribadi Sutrimo, termasuk ponselnya, tidak kunjung dikembalikan.

Aan menjelaskan bahwa keluarga awalnya dijanjikan barang-barang pribadi Sutrimo akan dikirim menyusul. Namun, setelah beberapa hari berlalu dan muncul berbagai pemberitaan, pihak keluarga mulai merasa ada yang tidak beres. “Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih,” ujar Aan, menyoroti kegelisahan yang mulai menyelimuti keluarga.

Kecurigaan keluarga semakin bertambah kuat ketika ponsel dan dompet Sutrimo tidak juga dipulangkan. Aan menggambarkan dilema yang dihadapi keluarga: di satu sisi mereka merasakan kejanggalan, namun di sisi lain mereka takut menghadapi perkara besar yang melibatkan tokoh penting. “Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan,” kata Aan, menggambarkan kekhawatiran keluarga yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk proses hukum yang panjang.

Selain barang-barang pribadi, identitas dan keberadaan orang yang mengantarkan jenazah Sutrimo juga menjadi pertanyaan. Aan mempertanyakan mengapa nomor telepon orang tersebut kini tidak aktif, padahal sebelumnya masih bisa dihubungi. Keterbatasan finansial keluarga menjadi penghalang utama dalam menuntut kejelasan, membuat mereka merasa tidak berdaya menghadapi situasi ini.

Kejanggalan lain muncul setelah Aan memperoleh dokumen yang disebut sebagai formulir kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Dokumen tersebut menyebutkan adanya busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo, sebuah fakta yang mengejutkan Aan karena tidak pernah disampaikan kepada keluarga. “Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan,” ungkap Aan, menyoroti ketidaktransparanan dalam penyampaian informasi.

Aan menuding bahwa formulir kronologi tersebut sengaja disembunyikan oleh pengantar jenazah dari pihak keluarga. Setelah membandingkan tanda tangan pada formulir tersebut dengan dokumen yang dimiliki keluarga, Aan menemukan kesamaan. “Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami,” jelas Aan, menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai keterlibatan pihak tertentu.

Sebelum ditemukan tewas, Sutrimo diketahui sempat diminta kembali ke Jakarta oleh Febrie Adriansyah, atasannya. Hal ini terjadi setelah kediaman Febrie digeledah pada 8 Juli lalu. Sutrimo pulang sehari setelah penggeledahan tersebut, atas permintaan Febrie yang merasa membutuhkan teman bicara. “Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya,” tutur Aan.

Febrie bahkan menjanjikan tiket dan mentransfer uang untuk kepulangan Sutrimo ke Jakarta, serta mengutus dua orang untuk menemani Sutrimo dari Stasiun Purwokerto. Sutrimo kembali ke Jakarta sebelum tanggal 19 Juli, meskipun tanggal pastinya tidak dapat dipastikan karena sebagian riwayat percakapan WhatsApp di ponsel keluarga hilang. “Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya enggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19,” kata Aan.

Komunikasi terakhir Sutrimo dengan keluarganya juga menjadi sorotan. Berdasarkan riwayat percakapan WhatsApp yang masih ada, Sutrimo terlihat berkomunikasi secara normal, mengirim foto makanan, menanyakan keponakan, dan membagikan momen kesehariannya. “Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain,” ungkap Aan.

Pada 23 Juli, Sutrimo terakhir kali mengirim foto makanan pada pukul 03.18 WIB, berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan. Sekitar pukul 04.00 WIB, ia kembali mengirim foto dirinya sedang duduk di seberang rumah utama Febrie Adriansyah. Adik Sutrimo membalas pesan tersebut sekitar pukul 06.00 WIB dengan mengirim video anaknya, namun pesan tersebut hanya dibaca tanpa balasan.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel keluarga menerima panggilan dari nomor Sutrimo. Panggilan tersebut baru diangkat pada pukul 08.30 WIB. Namun, bukan Sutrimo yang berbicara, melainkan seseorang yang mengaku sebagai temannya dan mengabarkan bahwa Sutrimo telah meninggal dunia. “Ternyata yang telepon itu adalah orang mengaku temannya Pak Sutrimo. Mengabarkan Pak Sutrimo jam 08.30 itu sudah tidak ada (meninggal dunia),” pungkas Aan, menutup serangkaian peristiwa yang penuh misteri ini.

Tags: Aan Rohaeni, Febrie Adriansyah, Sutrimo

You May Also Like

Andrey Santos Siap Gantikan Casemiro di Manchester United: Optimisme di Lini Tengah Setan Merah
Donald Trump Peringatkan FIFA: Pencopotan Gianni Infantino Akan Berakibat Fatal

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan