Perang antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut dengan intensitas yang tinggi. Pada hari ke-1.427, serangan dari kedua belah pihak masih dilaporkan, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa. Serangan udara Rusia telah menyebabkan lebih dari satu juta warga Kyiv tanpa aliran listrik dan lebih dari 4.000 gedung apartemen tanpa pemanas. Situasi kemanusiaan semakin memburuk, terutama menjelang musim dingin.
Gubernur Ivan Fedorov melaporkan bahwa setidaknya tiga orang tewas akibat serangan Rusia di kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara. Serangan tersebut juga menghancurkan beberapa rumah pribadi dan mobil, serta menyebabkan hampir 1.500 rumah tangga tanpa listrik. Di wilayah Kyiv, serangan drone dan rudal Rusia sebelumnya menewaskan satu orang. Kerusakan infrastruktur penting juga dilaporkan di wilayah Vinnytsia dan Odesa.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa lebih dari satu juta warga Kyiv tidak memiliki listrik dan lebih dari 4.000 gedung apartemen tidak memiliki pemanas akibat serangan udara Rusia. Zelenskyy menyerukan kepada Ukraina dan Eropa untuk membentuk pasukan pertahanan gabungan hingga tiga juta orang untuk menghadapi ancaman dari Rusia, mengingat rencana Moskow untuk meningkatkan angkatan bersenjatanya menjadi 2,5 juta orang pada tahun 2030. Hal ini menjadi perhatian mengingat potensi ancaman konflik yang berkepanjangan dan meluas.
Di tengah konflik yang berkecamuk, upaya perdamaian terus diupayakan. Negosiator perdamaian Ukraina bertemu dengan penasihat keamanan nasional dari Perancis, Jerman, dan Inggris di Davos. Rustem Umerov, Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengindikasikan bahwa pertemuan lebih lanjut akan direncanakan. Harapan untuk menemukan solusi diplomatik tetap ada, meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar.
Mykhailo Fedorov, Menteri Pertahanan Ukraina yang baru, menjanjikan perombakan besar-besaran berbasis data pada Angkatan Darat Ukraina. Tujuannya adalah untuk memberikan keunggulan bagi pasukan Ukraina dalam menghadapi pasukan Rusia yang lebih besar dan lebih lengkap. Reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas militer Ukraina dalam mempertahankan diri dari agresi Rusia. Perkembangan situasi ini terus dipantau oleh dunia internasional, termasuk Indonesia yang juga merasakan dampak ekonomi dari perang ini, terutama kenaikan harga energi dan pangan secara global.






















