Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan besar terhadap Iran. Aksi balasan ini dilakukan setelah percobaan serangan rudal balistik oleh Iran yang menargetkan pasukan AS pada hari Selasa sebelumnya. Komando Pusat AS (Centcom) menyebut serangan ini sebagai gelombang besar yang menargetkan puluhan sasaran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Serangan AS ini merupakan respons terhadap tindakan Iran yang menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania dan kapal-kapal di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan terbaru AS telah menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun, di Pulau Qeshm. Beberapa lokasi lain di wilayah selatan dan barat Iran juga dilaporkan terkena dampak serangan tersebut.
Eskalasi konflik ini terjadi hanya beberapa hari setelah periode relatif tenang di mana kedua belah pihak sempat menghentikan serangan. Namun, ketegangan kembali memuncak menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Yordania. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah bersumpah akan membalas serangan tersebut, menyatakan bahwa “giliran kami untuk memukul mereka” dan bahwa Iran “tahu itu akan datang.”
Serangan terbaru AS dimulai pada Rabu malam pukul 20.00 ET (Kamis pukul 01.00 BST) dan berlangsung sekitar satu jam. Centcom menggambarkannya sebagai “respons kuat terhadap percobaan serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah kemarin.” Menurut Centcom, semua rudal Iran yang diluncurkan sebelumnya berhasil dicegat. Target serangan AS meliputi pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, situs pengawasan dan pertahanan pesisir, serta kemampuan maritim Iran.
Kantor berita pemerintah Iran, Irib, melaporkan bahwa Pulau Qeshm dan Abadan, yang merupakan pusat industri minyak Iran, termasuk di antara wilayah yang terkena serangan. Laporan dari Fars, mengutip Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan, menyebutkan bahwa “serangan AS terhadap sebuah rumah tinggal di lingkungan Chah Tangu di Qeshm menewaskan tiga anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia 2 tahun.”
Seorang warga berusia 30-an yang tinggal di selatan pulau tersebut mengungkapkan kekhawatirannya kepada BBC Persia, mengatakan bahwa “situasi di sini semakin berbahaya.” Ia juga mengeluhkan gangguan internet dan pemadaman listrik yang berulang kali terjadi sejak pagi. “Ada suara ledakan keras sejak pukul 03.40 pagi ini. Kami tidak berdaya,” ujarnya.
Di sisi lain, angkatan bersenjata Yordania mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh lima rudal Iran yang menargetkan wilayah Kerajaan pada Kamis. Sebelumnya, pada Selasa, IRGC menyatakan telah menargetkan pangkalan udara AS dan pusat komando di Yordania sebagai “respons terhadap tindakan agresi tentara pembunuh anak-anak Amerika.” IRGC juga mengklaim pasukan angkatan lautnya telah menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz karena “mengabaikan peringatan” dan berlayar melalui rute yang mereka sebut “tidak aman dan ilegal” di jalur air vital Teluk.
Konflik antara AS dan Iran telah mengalami pasang surut sejak gencatan senjata pada bulan April, yang bertujuan untuk menghentikan perang berbulan-bulan, gagal total pada bulan Juni. AS telah memblokade pelabuhan Iran dan membombardir situs-situs Iran, sementara Iran telah menembakkan rudal dan drone ke aset-aset AS di berbagai negara di Timur Tengah, serta menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz yang strategis secara ekonomi. Konflik ini semakin meluas dengan adanya serangan gabungan AS-Arab Saudi yang menargetkan proksi Iran di Irak, yang diumumkan secara publik minggu ini.
Untuk memahami sepenuhnya kompleksitas konflik ini, penting untuk menelusuri sedikit latar belakang sejarah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Hubungan kedua negara ini telah tegang sejak Revolusi Iran tahun 1979, yang menggulingkan monarki Shah yang didukung AS dan mendirikan republik Islam. Krisis sandera Kedutaan Besar AS di Teheran yang berlangsung selama 444 hari semakin memperburuk hubungan. Sejak saat itu, AS dan Iran seringkali berada di pihak yang berlawanan dalam berbagai konflik regional, terutama di Timur Tengah. Iran dituduh mendukung kelompok-kelompok non-negara yang dianggap teroris oleh AS, seperti Hizbullah dan Houthi, serta mengembangkan program nuklir yang dicurigai memiliki tujuan militer. AS, di sisi lain, memberlakukan sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran, yang sangat memukul perekonomian negara tersebut.
Perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2015 sempat meredakan ketegangan, namun penarikan AS dari perjanjian tersebut pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Trump kembali memicu eskalasi. Kebijakan “tekanan maksimum” AS terhadap Iran semakin memperburuk situasi, menyebabkan serangkaian insiden di Teluk Persia, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas minyak. Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh AS pada Januari 2020 adalah titik balik lain yang hampir memicu perang terbuka.
Dalam konteks serangan terbaru ini, dampak keamanan sangat signifikan. Pertama, kematian warga sipil, terutama seorang balita, akan meningkatkan kemarahan publik di Iran dan dapat memicu respons yang lebih agresif dari IRGC. Ini juga akan memperkuat narasi anti-AS di kalangan garis keras Iran. Kedua, serangan balasan AS, meskipun diklaim sebagai tindakan defensif, berpotensi memicu spiral eskalasi yang sulit dikendalikan. Setiap tindakan balasan dari satu pihak cenderung dibalas oleh pihak lain, meningkatkan risiko konflik berskala penuh di kawasan yang sudah rapuh.
Ketiga, stabilitas maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk minyak global, akan semakin terancam. Serangan terhadap kapal tanker atau tindakan blokade dapat memiliki dampak ekonomi global yang serius, menyebabkan kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai pasokan. Keempat, serangan ini juga akan memperumit upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Negara-negara regional, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel, yang memiliki kekhawatiran terhadap ambisi regional Iran, akan semakin waspada dan mungkin mengambil langkah-langkah untuk melindungi kepentingan mereka, yang dapat menambah kompleksitas konflik.
Mengingat situasi yang sangat tegang ini, ada beberapa rekomendasi praktis yang dapat dipertimbangkan. Pertama, penting bagi semua pihak untuk menahan diri dari retorika yang menghasut dan tindakan provokatif lebih lanjut. Saluran komunikasi rahasia atau mediasi melalui pihak ketiga, seperti PBB atau negara-negara netral, harus dibuka dan dimanfaatkan untuk mencegah kesalahpahaman dan mengurangi risiko eskalasi yang tidak disengaja. Kedua, komunitas internasional harus secara aktif mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan. Fokus harus pada de-eskalasi dan mencari solusi jangka panjang yang mengatasi kekhawatiran keamanan kedua belah pihak.
Ketiga, AS harus mempertimbangkan kembali strategi “tekanan maksimum” dan mencari pendekatan yang lebih seimbang yang menggabungkan sanksi dengan insentif diplomatik. Demikian pula, Iran harus menunjukkan komitmen terhadap transparansi dalam program nuklirnya dan menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu stabilitas regional. Keempat, perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas utama. Semua operasi militer harus dilakukan dengan mematuhi hukum humaniter internasional untuk meminimalkan korban sipil. Penyelidikan independen atas insiden yang melibatkan kematian warga sipil harus dilakukan untuk memastikan akuntabilitas.
Terakhir, negara-negara regional perlu mengambil peran yang lebih konstruktif dalam meredakan ketegangan. Dialog regional yang inklusif dapat membantu membangun kepercayaan dan menemukan solusi bersama untuk masalah keamanan. Tanpa upaya kolektif dan komitmen untuk de-eskalasi, konflik antara AS dan Iran berisiko terus memanas, membawa konsekuensi yang merusak bagi seluruh kawasan dan dunia.




















