Konflik diplomatik yang intens kembali mencuat antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan seorang pejabat Amerika Serikat, kali ini dengan Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Netanyahu melontarkan tudingan keras, menuduh Mamdani ‘mengobarkan kebencian’, sebuah klaim serius yang menandai eskalasi retorika politik. Tudingan ini bukan tanpa sebab, melainkan merupakan respons langsung terhadap ancaman Mamdani sebelumnya yang menyatakan akan menangkap Netanyahu jika ia berkunjung ke New York. Ancaman penangkapan tersebut berpijak pada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang yang melibatkan kepemimpinan Israel.
Latar belakang insiden ini bermula dari keputusan ICC untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap beberapa pejabat tinggi Israel, termasuk Netanyahu, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza. Keputusan ICC ini memicu gelombang perdebatan internasional mengenai yurisdiksi dan legitimasi lembaga tersebut, terutama di negara-negara yang tidak mengakui otoritas ICC secara penuh, seperti Amerika Serikat dan Israel. Bagi banyak pendukung Palestina, surat perintah ini adalah langkah penting menuju akuntabilitas, sementara bagi Israel dan sekutunya, ini adalah upaya politik yang tidak adil dan tidak berdasar.
Meskipun pada awalnya Mamdani bersikeras dengan ancamannya, ia kemudian menarik kembali pernyataan tersebut pada pekan lalu. Penarikan ini dilakukan setelah Mamdani dan timnya menyadari bahwa pemerintah kotanya tidak memiliki kewenangan hukum untuk melaksanakan penangkapan berdasarkan surat perintah ICC di wilayah Amerika Serikat. Amerika Serikat sendiri tidak meratifikasi Statuta Roma, perjanjian pendirian ICC, sehingga secara hukum tidak terikat untuk mematuhi perintah penangkapan ICC di dalam wilayahnya. Penarikan ancaman ini menyoroti kompleksitas hukum internasional dan batasan yurisdiksi lokal dalam kasus-kasus sensitif, terutama ketika melibatkan kepala negara yang dilindungi oleh kekebalan diplomatik tertentu.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Minggu, Netanyahu menunjukkan sikap tidak gentar menghadapi ancaman Mamdani. Ia menyatakan bahwa ia “tidak khawatir” dengan janji Mamdani sebelumnya dan menegaskan rencananya untuk tetap menghadiri Sidang Umum PBB di New York City pada musim gugur mendatang. Pernyataan ini bukan hanya menunjukkan ketegasan Netanyahu, tetapi juga menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan tekanan politik dari seorang pejabat lokal mengganggu agenda diplomatik internasionalnya. Ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan dan kedaulatan Israel di panggung global, meskipun menghadapi tuduhan serius dari lembaga internasional.
Netanyahu tidak hanya menepis ancaman tersebut, tetapi juga melancarkan serangan balik. “Dia (Mamdani) seharusnya menjadi wali kota bagi seluruh warga New York, Yahudi, Kristen, Muslim, semua orang, tetapi dia mencoba mengadu domba satu kelompok dengan yang lain,” ujar Netanyahu. Kritik ini mencerminkan pandangan Netanyahu bahwa Mamdani gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang menyatukan, dan justru memperlebar jurang perpecahan di antara berbagai komunitas di New York. Tuduhan ‘mengobarkan kebencian’ ini sangat serius, terutama dalam konteks kota multikultural seperti New York, di mana harmoni antar komunitas adalah fondasi penting.
Lebih lanjut, Netanyahu kemudian mengaitkan pernyataan Mamdani dengan insiden penusukan ganda di New York pada Kamis lalu. Dalam insiden tersebut, seorang tersangka menyerang seorang pria Yahudi dan seorang pria Asia di lokasi yang berdekatan. Tersangka dilaporkan meneriakkan frasa “Allahu akbar” saat melakukan penusukan, dan telah didakwa dengan kejahatan kebencian terkait kedua korban. Netanyahu menggunakan insiden ini untuk memperkuat argumennya bahwa retorika yang memecah belah, seperti yang ia tuduhkan kepada Mamdani, dapat memicu kekerasan dan kebencian di masyarakat. Ia menyiratkan adanya korelasi antara pernyataan politik yang dianggap provokatif dengan peningkatan insiden kejahatan kebencian.
Kedua korban penusukan berhasil selamat dari serangan yang mengerikan tersebut. Insiden ini memicu kecaman luas dari para pemimpin komunitas Yahudi dan Asia-Amerika di kota tersebut, yang menyerukan keadilan dan perlindungan bagi warga mereka. Netanyahu menegaskan bahwa komunitas Yahudi di New York “ketakutan saat ini” setelah kejadian tersebut, menyoroti kekhawatiran akan meningkatnya sentimen anti-Yahudi atau antisemitisme. Pernyataan ini juga berfungsi untuk menggalang dukungan dari komunitas Yahudi di Amerika Serikat, yang merupakan basis penting bagi Israel.
Hingga saat ini, Kantor Wali Kota Mamdani belum memberikan tanggapan langsung terkait tudingan dari Netanyahu. Namun, Mamdani dikenal sebagai pendukung kuat hak-hak Palestina dan menjadikan penentangannya terhadap operasi militer Israel di Gaza sebagai salah satu poin utama kampanyenya tahun lalu. Dalam pidatonya pekan lalu, Mamdani bahkan secara eksplisit menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang.” Posisi politiknya yang vokal ini menempatkannya dalam konflik langsung dengan Netanyahu dan kebijakan Israel.
Sebagai bagian dari platform kampanyenya, Mamdani berjanji akan menegakkan surat perintah penangkapan tahun 2024 dari ICC terhadap Netanyahu, yang menuduh Perdana Menteri Israel tersebut melakukan kejahatan perang di Gaza. Israel sendiri telah membantah tuduhan kejahatan perang tersebut, menyebutnya “tidak berdasar” dan bermotif politik. Perbedaan pandangan yang fundamental ini menjadi akar dari ketegangan antara kedua belah pihak.
Invasi militer Israel ke Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas di Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Serangan Hamas ini memicu respons militer Israel yang masif dan telah menyebabkan bencana kemanusiaan di Gaza. Sejak saat itu, lebih dari 73.000 orang tewas dalam serangan Israel di Gaza, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut, yang angkanya dianggap dapat diandalkan oleh PBB. Angka-angka ini menjadi dasar bagi tuduhan kejahatan perang terhadap Israel dan Netanyahu.
Pekan lalu, setelah didesak oleh New York Times mengenai janjinya untuk menangkap Netanyahu, Mamdani menyatakan bahwa pemerintahannya telah meninjau undang-undang dan menemukan: “Kami tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk menegakkan surat perintah ini.” Meskipun demikian, Mamdani mendesak pemerintah federal untuk menangkap Netanyahu dan menegaskan bahwa “Benjamin Netanyahu tidak diterima di New York City.” Pernyataan ini, meskipun menyadari batasan hukum lokal, tetap mempertahankan sikap politik yang kuat terhadap Netanyahu.
Detail Latar Belakang dan Konteks Politik:
Konflik antara Netanyahu dan Mamdani ini tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas. Israel, di bawah kepemimpinan Netanyahu, telah lama menghadapi kritik internasional terkait kebijakannya terhadap Palestina. Serangan 7 Oktober 2023 dan respons militer Israel di Gaza memperparah ketegangan ini, memicu gelombang protes global dan meningkatkan tekanan terhadap Israel dari berbagai lembaga internasional, termasuk ICC. Di Amerika Serikat sendiri, isu Israel-Palestina adalah topik yang sangat sensitif dan seringkali memecah belah, terutama di kalangan politisi dan masyarakat umum. Mamdani, sebagai seorang politikus progresif dan keturunan Asia Selatan, mewakili segmen masyarakat yang semakin vokal dalam mendukung hak-hak Palestina.
Peran ICC dalam kasus ini juga krusial. Meskipun Amerika Serikat tidak mengakui yurisdiksi ICC, keputusan pengadilan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin negara yang bersekutu dengan AS menciptakan dilema diplomatik yang signifikan. Ini menempatkan AS dalam posisi sulit, harus menyeimbangkan dukungan terhadap sekutunya dengan komitmen terhadap keadilan internasional dan hak asasi manusia. Ancaman Mamdani, meskipun tidak memiliki dasar hukum lokal, mencerminkan frustrasi dari sebagian masyarakat yang merasa bahwa keadilan tidak ditegakkan dan bahwa pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab atas kejahatan perang harus dimintai pertanggungjawaban, terlepas dari kekebalan diplomatik.
Rekomendasi Praktis dan Dampak Keamanan:
Dari perspektif rekomendasi praktis, insiden ini menyoroti perlunya komunikasi yang lebih hati-hati dan berbasis fakta dari para pejabat publik, terutama dalam isu-isu sensitif yang melibatkan konflik internasional. Pernyataan yang terburu-buru atau tidak akurat mengenai yurisdiksi hukum dapat memicu ketegangan yang tidak perlu dan membingungkan publik. Bagi Mamdani, penarikan ancaman menunjukkan pembelajaran penting mengenai batasan kewenangan lokal dalam konteks hukum internasional. Untuk Netanyahu, meskipun ia menunjukkan sikap tidak gentar, retorikanya yang menuduh Mamdani mengobarkan kebencian juga berpotensi memperdalam polarisasi. Seharusnya ada upaya untuk meredakan ketegangan melalui dialog yang konstruktif, bukan eskalasi retorika.
Dampak keamanan dari insiden semacam ini juga tidak bisa diremehkan. Tuduhan ‘mengobarkan kebencian’ dan pengaitan dengan insiden kejahatan kebencian yang terjadi di New York menunjukkan betapa cepatnya retorika politik dapat memicu atau dipersepsikan memicu kekerasan di dunia nyata. Bagi komunitas Yahudi di New York, insiden penusukan dan retorika anti-Israel dapat meningkatkan rasa takut dan kerentanan. Hal ini memerlukan peningkatan pengamanan dan kewaspadaan dari pihak berwenang untuk melindungi semua komunitas dari kejahatan kebencian. Selain itu, insiden ini dapat memperburuk hubungan antarkelompok di dalam kota, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi kohesi sosial.
Secara lebih luas, insiden ini dapat mempengaruhi hubungan antara Amerika Serikat dan Israel. Meskipun pemerintah federal AS telah menyatakan penolakannya terhadap surat perintah ICC terhadap Netanyahu, insiden dengan pejabat lokal seperti Mamdani menunjukkan adanya keretakan opini di dalam AS sendiri. Ini bisa menjadi tantangan bagi diplomasi kedua negara, terutama dalam mengelola persepsi publik dan menjaga dukungan untuk kebijakan luar negeri mereka. Keamanan pribadi para pejabat yang terlibat, serta keamanan komunitas yang terpengaruh oleh konflik ini, harus menjadi prioritas utama. Penegasan Mamdani bahwa Netanyahu “tidak diterima di New York City” juga dapat memicu protes dan demonstrasi saat kunjungan Netanyahu, yang memerlukan perencanaan keamanan yang ketat dari pihak berwenang.




















