Apple Vision Pro, headset VR/AR yang digadang-gadang sebagai awal era komputasi baru, kini menjadi sorotan. Dua tahun setelah peluncurannya, muncul pertanyaan: apakah perangkat ini masih relevan?
Desain Vision Pro memukau. Tampilannya futuristik dengan kombinasi aluminium abu-abu dan aksen oranye. Kaca melengkung berfungsi sebagai lensa kamera dan layar EyeSight.
Perangkat ini terasa kokoh dan premium. Namun, bobotnya cukup berat, sekitar 750-800 gram. Penggunaan dalam waktu lama bisa menyebabkan kelelahan pada leher.
Teknologi di dalamnya sangat canggih. Layar micro-OLED dan chip M2 serta R1 menghasilkan visual yang memukau.
Salah satu pengalaman menarik adalah aplikasi “Encounter Dinosaurs”. Pengguna dapat berinteraksi dengan dinosaurus virtual yang tampak nyata di ruang tamu.
Namun, pengalaman ini hanya berlangsung singkat. Ini mencerminkan pengalaman keseluruhan Vision Pro: potensi besar, namun belum dimanfaatkan sepenuhnya.
UI berbasis gerakan mata dan gestur sangat intuitif. Integrasi dengan perangkat Mac juga mulus. Kualitas grafis sangat baik.
Pengguna dapat melakukan multitasking dengan membuka berbagai aplikasi di ruang virtual. Namun, pengalaman ini bisa melelahkan dan menimbulkan sakit kepala.
Streaming video di Vision Pro sangat memuaskan. Kualitas gambar setara atau bahkan lebih baik dari TV. Warna yang dihasilkan sangat cerah dan detail.
Pengalaman bermain game bervariasi. Tidak banyak game AAA yang dikembangkan khusus untuk Vision Pro. Retrocade, koleksi game arcade klasik, menjadi salah satu yang menarik.
App Store Vision Pro masih sepi. Ekosistem aplikasi belum berkembang pesat, padahal potensi yang ditawarkan sangat besar.
Fokus utama Vision Pro adalah augmented reality, namun masih terasa belum sempurna. Pandangan dunia nyata melalui kamera tidak sebaik aslinya.
Vision Pro cocok untuk menonton film atau bekerja dengan cara baru. Namun, harga yang mahal dan pengalaman yang belum optimal membuat banyak orang berpikir dua kali untuk membelinya.




















