Giuseppe Garibaldi Ditolak: Dua Lembaga Italia Boikot Hibah Kapal Induk ke Indonesia

Internasional
Views: 3

Di tengah dinamika hubungan bilateral Indonesia-Italia, kabar dari kota Taranto kembali menuai perhatian dunia internasional. Kali ini, sorotan jatuh pada kapal induk legendaris ITS Giuseppe Garibaldi yang rencananya akan dihibahkan Pemerintah Italia kepada Republik Indonesia. Namun, ambisi Jakarta itu justru bertemu dengan perlawanan solid dari akar rumput Italia sendiri.

Pemerintah Kota Taranto dan Kamar Dagang Brindisi-Taranto secara resmi menolak rencana hibah kapal induk tersebut. Kedua lembaga ini bersikap keras dan meminta agar Giuseppe Garibaldi tetap bertengger di perairan Italia, terutama di kota Taranto yang telah menjadi rumah kapal selama bertahun-tahun. Keputusan ini menimbulkan dilema baru bagi pemerintah Indonesia yang memang menargetkan kapal itu sebagai penguat armada.

Mengutip laporan Taranto Today pada 26 Maret 2026, pemerintah kota dan kamar dagang setempat menolak keras rencana serah terima kapal bersejarah itu ke tangan Indonesia. Padahal, sebelumnya pemerintah pusat Italia telah menyatakan kesediaan mengirimkan kapal induk tersebut sebagai tanda persahabatan antarnegara dan dukungan terhadap peningkatan kapabilitas angkatan laut Indonesia.

Wali Kota Taranto, Piero Bitetti, menegaskan dukungan penuh terhadap upaya menggagalkan hibah tersebut. Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada media lokal, Bitetti menyebut langkah ini penting untuk menjaga nilai sejarah sekaligus mendorong ekonomi lokal Taranto. Menurutnya, kapal Giuseppe Garibaldi bukan sekadar aset militer, melainkan bagian dari identitas kota dan strategi besar dalam memperkuat sektor pertahanan serta pariwisata Maritim.

“Pemerintah Kota Taranto mendukung setiap langkah untuk mencegah penyerahan kapal ini kepada Republik Indonesia,” ujar Bitetti dalam pernyataannya. Ia juga meminta pertemuan mendesak dengan Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, untuk membahas lebih lanjut nasib kapal yang sudah berlayar sejak 1983 itu. Bitetti menilai keberadaan kapal tersebut dapat menjadi bagian dari strategi besar memperkuat sektor pertahanan dan ekonomi kota.

Selain itu, langkah ini juga diyakini mampu melindungi lapangan kerja serta menarik investasi baru. Jutaan warga Taranto mengandalkan ekosistem maritim yang berkembang di sekitar pangkalan militer ini, sehingga pengelolaan yang tepat akan berdampak besar pada kesejahteraan masyarakat sekitar.

Di sisi lain, Presiden Kamar Dagang Brindisi-Taranto, Vincenzo Cesareo, mengungkapkan adanya minat investor swasta yang ingin mendukung proyek revitalisasi kawasan bekas stasiun torpedo di Taranto. Cesareo mengusulkan agar area itu diubah menjadi pusat wisata terpadu, di mana Giuseppe Garibaldi akan berfungsi sebagai museum sekaligus fasilitas akomodasi wisata berbintang.

“Sudah ada ketertarikan nyata dari sejumlah investor untuk membiayai pengembangan kawasan ini. Kita lihat apakah proyek ini bisa jadi motor baru pertumbuhan pariwisata Taranto,” katanya dengan nada optimis. Proyek tersebut diharapkan dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus melestarikan warisan maritim Italia.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi sendiri memang memiliki sejarah panjang dalam dinasti angkatan laut Italia. Dikenal sebagai salah satu kapal induk konvensional pertama yang dibangun pasca-Perang Dunia II, kapal ini pernah menjadi ikon kejayaan maritime Italia. Nama Giuseppe Garibaldi sendiri diambil dari pahlawan nasional Italia yang dikenal sebagai “Hero of Two Worlds” karena perjuangannya di Amerika Latin dan Eropa.

Sementara itu, pemerintah pusat Italia belum memberikan reaksi resmi terhadap penolakan ini. Namun, analis politik luar negeri memperkirakan bahwa tekanan dari tingkat kota dan sektor swasta akan membuat Roma meninjau kembali kebijakan hibah tersebut. Bagi Indonesia, kabar ini tentu menjadi bumbu sebelum pembicaraan resmi antara dua negara.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa proses pengadaan aset strategis seperti kapal induk memang memerlukan koordinasi diplomatik yang panjang. Untuk sementara, langkah antisipasi sedang disusun agar tidak mengganggu hubungan bilateral yang selama ini berjalan baik.

Di lingkungan masyarakat Taranto, muncul berbagai spekulasi. Sebagian warga mendukung upaya pemkot karena takut kehilangan warisan sejarah. Sementara yang lain melihat peluang ekonomi yang mungkin muncul jika kapal itu tetap ada di pelabuhan sebagai objek wisata menyelam atau museum laut. Pro dan kontra pun pecah di kota yang dulunya dikenal sebagai kota baja Italia itu.

Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar tentang mekanisme hibah aset strategis antarnegara. Bagaimana jika pemerintah pusat sudah menyatakan kesediaan, tapi akar rumput menolak? Apakah Indonesia harus mencari alternatif lain, atau bersabar menunggu solusi dari pihak Italia?

Beberapa anggota parlemen Italia juga mulai bersuara. Ada yang mendukung warga Taranto karena alasan historis dan sosial, ada pula yang mempertanyakan logika menolak bantuan asing yang bisa meningkatkan tanggung jawab internasional Italia. Polemik ini diprediksi akan berlanjut hingga parlemen mengambil keputusan resmi.

Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia memiliki hak untuk menerima atau menolak tawaran hibah. Namun, sebelum memutuskan langkah selanjutnya, Jakarta perlu melakukan diplomasi intensif dengan Roma untuk memastikan bahwa tidak ada hambatan hukum atau sosial dari pihak Italia yang bisa menggagalkan proses transfer aset tersebut.

Secara pribadi, hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia adalah langkah strategis yang tak ternilai harganya. Bagi Jakarta, memiliki kapal induk buatan Eropa dengan teknologi canggih akan menjadi penguat serius bagi pertahanan nasional. Namun, realitas politik internal Italia menunjukkan bahwa proses diplomatik bukanlah perkara sederhana.

Pada akhirnya, nasib kapal induk legendaris itu kini bergantung pada apakah pemerintah pusat Italia bisa menaklukkan perlawanan dari tingkat kota dan sektor swasta. Bagi Indonesia, ini menjadi pelajaran diplomatik yang berharga: dalam hubungan internasional, tidak cukup hanya sekadar kesepakatan di level pemerintah pusat. Dukungan sosial dan lokal pun menjadi penentu utama.

Tags: Giuseppe Garibaldi, Taranto

You May Also Like

Legislator PDI-P Desak Pemerintah Evaluasi Fenomena WNI Lepas Kewarganegaraan, Bukan Sekadar Naikkan Tarif
Telkomsel, Indosat, dan XLSmart Resmi Menangi Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan