AS dan Iran Gelar Negosiasi Nuklir di Tengah Ketegangan

BeritaInternasionalPolitik
Views: 4

Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan memulai putaran ketiga negosiasi nuklir di Swiss. Kedua negara memilih solusi diplomatik meski AS memberlakukan sanksi baru.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Geneva dan bertemu mitranya dari Oman, Badr Albusaidi. Oman memfasilitasi perundingan tidak langsung yang dijadwalkan pada hari Kamis.

Araghchi menyatakan kesepakatan yang adil dan seimbang dapat dicapai. Ia menegaskan Iran tidak mencari senjata nuklir dan tidak akan menyerahkan hak penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menuduh Iran mencoba membangun kembali program nuklirnya setelah serangan AS. Ia mengatakan bahwa Teheran harus menanggapi ancaman aksi militer Washington dengan serius.

Vance menambahkan Presiden Donald Trump ingin menyelesaikan masalah ini secara diplomatis, tetapi memiliki opsi lain. Status infrastruktur nuklir Iran masih belum jelas.

Trump mengklaim serangan AS telah menghancurkan program tersebut. Namun, inspektur IAEA belum diizinkan memverifikasi apa yang tersisa di lokasi yang ditargetkan.

Trump menuduh Iran memiliki ambisi nuklir dan mengembangkan rudal yang mampu menyerang AS. Tuduhan ini dibantah oleh pejabat Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut tuduhan itu sebagai kebohongan besar. Ia membandingkan pendekatan Trump dengan taktik propaganda Joseph Goebbels.

Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, mengatakan fokus perundingan adalah program nuklir Iran. Ia juga menyampaikan kekhawatiran tentang rudal balistik Iran.

Araghchi menegaskan rudal Iran bersifat defensif. Ia menambahkan rudal itu hanya untuk membangun pencegahan dan membantu membela diri.

Negosiasi dipimpin oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner. Putaran pertama diadakan di Oman pada 6 Februari, diikuti sesi kedua di Geneva pada 17 Februari.

Iran memperingatkan bahwa serangan AS akan memicu serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Teheran juga mengancam menutup Selat Hormuz.

Amerika Serikat tetap siap menanggapi eskalasi apa pun. Washington akan memastikan memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi pasukannya.

Tags: Amerika Serikat, Iran, Nuklir

You May Also Like

BPK Audit Laporan Keuangan BI dan LPS Secara Mendalam
Mantan Pilot Jet Tempur AS Ditangkap karena Latih Angkatan Udara China

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan