Pandemi digital memang terus menggelinding dengan kecepatan tinggi, dan tren TikTok selama 2025 membuktikan bahwa platform video pendek ini bukan cuma sekadar tempat hiburan, melainkan juga menjadi cermin perubahan perilaku dan cara berpikir generasi muda di seluruh belahan dunia.
Sejak hadir beberapa tahun lalu, TikTok telah mengubah lanskap media sosial dengan algoritma yang mampu mendeteksi preferensi pengguna dalam hitungan detik. Tidak heran jika platform ini bisa melahirkan tren-tren yang menyebar dalam sekejap. Sepanjang 2025, kita menyaksikan berbagai fenomena kreatif yang bermula dari akun kecil, lalu melonjak menjadi bagian dari percakapan global. Yang membuat tahun ini spesial adalah bagaimana tren-tren itu muncul meskipun TikTok menghadapi ancaman pemblokiran di Amerika Serikat. Alih-alih menurunkan semangat, tekanan politik tersebut justru memicu ledakan kreativitas. Pengguna semakin rajin membuat konten unik, bereksperimen dengan format baru, dan mengeksplorasi ide-ide yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Salah satu fenomena paling menonjol adalah format Group 7 yang berawal dari kreator asal Amerika Serikat, Sophia James. Konsep ini menampilkan dinamika pertemanan dengan pendekatan yang ringan, jujur, dan relatable. Tidak ada setting yang dibuat-buat, tidak ada drama berlebihan—hanya percakapan sehari-hari yang diangkat menjadi konten sederhana namun menyentuh. Format Group 7 dengan cepat menjadi simbol kebersamaan yang dekat dengan kehidupan nyata. Banyak pengguna TikTok langsung mengidentifikasi diri mereka dengan karakter-karakter yang ditampilkan. Bahkan di Indonesia, tren ini diadopsi dengan sentuhan lokal, di mana grup sahabat membuat episode-episode tentang aktivitas kebersamaan mereka—mulai dari ngopi sore, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, hingga nonton bioskop bersama.
Di sisi lain, tahun 2025 juga mempertunjukkan dominasi istilah Aura Farming sebagai bagian dari kosakatra anak muda. Istilah ini merujuk pada usaha seseorang untuk membangun kesan keren, berkarisma, atau sekadar memikat perhatian di media sosial. Awalnya muncul di antara komunitas konten kreator, Aura Farming dengan cepat meluas ke kalangan anak sekolah dan mahasiswa. Mereka berbagi tips maintaining aesthetic, memilih outfit yang sesuai feed Instagram, atau membuat caption yang catchy. Fenomena ini menandakan bahwa pengaruh TikTok tidak hanya berhenti pada konten visual, tetapi juga membentuk bahasa dan cara berkomunikasi generasi muda. Banyak orang kini sadar akan “personal branding” mereka, meskipun bahasa yang dipakai adalah Aura Farming.
Audio juga kembali menjadi raksasa dalam lanskap tren digital tahun ini. Suara promosi Jet2 Holiday misalnya, dipakai secara masif sebagai latar video lucu dan satir. Yangawalnya hanyalah iklan perusahaan pariwisata, suara itu berevolusi menjadi meme audio yang diolah menjadi ratusan ribu konten. Sementara potongan teriakan dari lagu Hozier kerap dijadikan backsound untuk konten emosional dan dramatis. Kedua audio ini menunjukkan bagaimana potongan suara singkat dapat melekat benar-benar di budaya populer, bahkan tanpa promosi besar dari artis atau label rekaman. Cukup satu bagian lagu yang catchy, dan konten itu bisa hidup sendiri di jutaan video.
Tren nostalgia juga tidak bisa dipandang sebelah mata sepanjang 2025. Lagu-lagu lama kembali naik daun sebagai latar video TikTok, membawa kenangan masa lalu ke tengah-tengah algoritma yang kerap menuntut hal baru. Gaya berpakaian seperti quarter zip juga kembali digemari anak muda, seolah-olah mereka merindukan nuansa awal 2000-an yang terasa lebih sederhana dan nyaman. Bahkan konten sederhana, seperti video pria dewasa yang mengucapkan selamat malam kepada temannya, bisa menyebar luas dan menjadi tren. Hal ini membuktikan bahwa TikTok tidak hanya menyukai hal baru dan segar, tetapi juga menghibur dengan sentuhan klasik yang terasa familiar dan menghibur secara emosional.
Secara keseluruhan, fenomena-fenomena di atas menekankan satu hal penting: TikTok telah mendefinisikan ulang cara kita menikmati dan berkontribusi pada budaya digital. Setiap tren yang muncul adalah gabungan dari ide, kreativitas, dan perilaku kolektif pengguna. Tidak ada yang benar-benar dipaksa dari atas; yang ada adalah aliran organik yang mempengaruhi cara kita berbicara, berpakaian, dan bahkan bergaul. Tahun 2025 mengajarkan bahwa platform ini adalah laboratorium budaya di mana ide-ide lahir, berkembang, dan kadang lenyap dalam hitungan minggu. Meski demikian, warisan yang ditinggalkan—baik itu format baru, slang, atau gaya hidup—akan terus mempengaruhi cara kita mengekspresikan diri di masa depan. Bahkan ketika kita berpindah ke platform lain, jejak-jejak tren yang dibangun di TikTok akan tetap死活 dalam ingatan kolektif internet.
Lebih dari itu, peran TikTok dalam mempengaruhi keputusan konsumen juga semakin terasa. Banyak brand yang kini mengandalkan creator lokal untuk mempromosikan produk mereka, mengakui bahwa rekomendasi dari influencer lebih dipercaya dibanding iklan konvensional. Ketika tren Group 7 atau Aura Farming viral, beberapa perusahaan langsung menyesuaikan strategi pemasaran mereka. Mereka mengirim produk kepada kreator, menciptakan tantangan khusus, atau bahkan mengubah tone of voice merek agar lebih dekat dengan audiens muda. Ini menunjukkan bahwa tren di TikTok bukan cuma sekadar isu sesaat, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
Tidak hanya itu, Platform ini juga menjadi sarana bagi kelompok-kelompok yang sebelumnya kurang terwakili dalam media mainstream. Anak muda dari daerah pelosok, komunitas disabilitas, atau bahkan pejabat publik kini bisa mendapatkan perhatian lewat konten kreatif. Contoh nyata adalah Rayyan Arkan Dikha, seorang remaja yang viral karenaaura farming di tengah keramaian, yang kemudian mendapat undangan ke kantor Gubernur Riau. Kisah-kisah seperti ini menegaskan bahwa TikTok adalah ruang demokratisasi konten, di mana siapa saja pun bisa menjadi viral asalkan kontennya orisinal dan memikat hati.
Ketika 2026 tiba, banyak pertanyaan muncul tentang arah selanjutnya TikTok. Apakah tren-tren di tahun ini akan berlanjut, atau apakah platform baru akan muncul dan menggantikannya? Yang jelas, budaya digital akan terus berkembang. TikTok telah membuktikan bahwa ia bukan hanya aplikasi, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari identitas budaya global abad ke-21.















