Fenomena pemasangan kamera pengawas berteknologi kecerdasan buatan (AI) dari Flock Safety semakin meresahkan di Amerika Serikat. Diperkirakan sekitar 90.000 kamera berlabel Flock telah terpasang di berbagai lokasi, mulai dari kota kecil hingga permukiman padat. Kehadiran kamera-kamera ini seringkali tanpa pemberitahuan publik atau diskusi yang transparan, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai privasi dan pengawasan massal terhadap penduduk.
Kekhawatiran ini tidak hanya datang dari aktivis privasi atau kelompok masyarakat sipil, tetapi juga dari warga biasa yang merasa terganggu dengan meluasnya jaringan pengawasan ini. Transparansi adalah kunci dalam teknologi pengawasan, dan ketiadaan transparansi dari Flock Safety serta entitas yang memasang kamera ini telah menciptakan iklim ketidakpercayaan. Banyak warga baru menyadari keberadaan kamera-kamera ini setelah melihatnya terpasang, tanpa ada sosialisasi atau kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
Salah satu contoh nyata terjadi di Saranac Lake, sebuah desa di dekat lokasi penulis artikel ini. Setelah protes keras dari warga, pemerintah setempat terpaksa mempertimbangkan ulang dan akhirnya membatalkan kontrak dengan Flock Safety, yang berujung pada pencopotan kamera-kamera tersebut. Ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat bersatu dan menyuarakan keprihatinan, ada potensi untuk mengubah keputusan. Namun, nasib serupa tidak dialami banyak kota lain di AS, di mana kamera-kamera Flock yang dilengkapi AI terus mengawasi warga tanpa persetujuan yang jelas. Banyak komunitas yang tidak memiliki sumber daya atau organisasi untuk menentang pemasangan kamera ini, atau bahkan tidak menyadari implikasi jangka panjangnya.
Kamera-kamera ini, yang sering disebut sebagai Flock “Falcon”, mudah luput dari perhatian. Bentuknya menyerupai kotak hitam kecil yang dipasang di tiang listrik atau persimpangan jalan, dan seringkali disalahartikan sebagai kamera lalu lintas biasa. Mereka ditenagai oleh baterai atau panel surya dan terhubung melalui layanan seluler, bukan Wi-Fi, menjadikannya lebih mudah dipasang tanpa infrastruktur tambahan yang rumit. Desain yang tidak mencolok ini memperparah masalah transparansi, karena kamera dapat beroperasi tanpa menarik perhatian, bahkan saat mengumpulkan data sensitif secara terus-menerus.
Flock Safety mengklaim memiliki lebih dari 12.000 pelanggan yang menggunakan produk mereka. Namun, perkiraan publik menunjukkan bahwa jumlah kamera Flock yang beroperasi di AS bisa mencapai 90.000 unit. Pengguna kamera ini tidak hanya terbatas pada kepolisian; bisnis, sekolah, dan asosiasi pemilik rumah juga dapat memasangnya. Hal ini memperluas jangkauan pengawasan dan potensi pengumpulan data. Keterlibatan pihak swasta dalam pengawasan publik ini menimbulkan pertanyaan etis dan hukum yang lebih kompleks, karena mereka mungkin tidak tunduk pada batasan atau akuntabilitas yang sama dengan lembaga penegak hukum.
Lebih lanjut, perangkat lunak Flock Safety dapat diintegrasikan dengan kamera dari produsen mitra, seperti Motorola. Meskipun kamera-kamera ini tidak secara asli menjalankan sistem operasi Flock, perangkat lunak tersebut dapat diintegrasikan melalui platform seperti CommandCentral Aware milik Motorola dan API bersama. Integrasi ini memungkinkan penegak hukum untuk melihat data dari kedua jaringan, memperluas cakupan pengawasan secara signifikan. Integrasi ini menciptakan jaringan pengawasan yang lebih luas dan terhubung, di mana data dari berbagai sumber dapat digabungkan untuk membentuk profil yang lebih lengkap tentang individu atau kendaraan. Hal ini meningkatkan risiko penyalahgunaan data dan pelanggaran privasi.
Kamera Falcon tidak dirancang untuk mendeteksi kecepatan. Sebaliknya, setiap kali sebuah kendaraan melintas, kamera ini mengambil sekitar enam hingga dua belas gambar diam. Flock kemudian menggunakan perangkat lunak pengenalan plat nomor otomatis (ALPR) dan pembelajaran mesin untuk menganalisis gambar-gambar tersebut. Informasi yang dapat ditangkap meliputi plat nomor, merek, model, warna, tipe bodi, arah perjalanan, kerusakan, roda aftermarket, stiker bemper, dan detail lainnya. Kemampuan ini memungkinkan penyelidik untuk mencari kendaraan bahkan jika mereka tidak memiliki nomor plat yang lengkap. Kemampuan ini, meskipun diklaim untuk membantu penegakan hukum, juga membuka pintu bagi pelacakan yang sangat detail terhadap pergerakan individu, bahkan berdasarkan karakteristik fisik kendaraannya.
Data yang dikumpulkan tidak disimpan di dalam kamera pinggir jalan. Menurut situs web Flock, semua gambar dan data terkait dikirim melalui jaringan seluler ke sistem cloud mereka. Di sana, pengguna yang berwenang dapat mencari data melalui dasbor Flock Safety. Polisi juga dapat menerima peringatan jika kamera mendeteksi plat nomor yang terkait dengan kendaraan curian, orang hilang, surat perintah penangkapan, atau entri basis data lainnya. Penyimpanan data di cloud memunculkan pertanyaan tentang keamanan data, siapa yang memiliki akses, berapa lama data disimpan, dan bagaimana data tersebut dilindungi dari peretasan atau penyalahgunaan. Kebijakan retensi data yang jelas dan transparan sangat penting untuk mengurangi risiko ini.
Potensi masalah privasi muncul ketika banyak kamera Flock di berbagai kota dan negara bagian menyalurkan catatan ke dalam jaringan yang sama dan dapat dicari. Hal ini memungkinkan pelacakan pergerakan hampir setiap orang. Catherine Crump, seorang profesor hukum teknologi di UC Berkeley, menjelaskan bahwa meskipun satu “hit” plat nomor hanya mengungkapkan keberadaan mobil pada waktu dan tempat tertentu, jaringan kamera yang luas dapat membangun catatan komprehensif tentang pergerakan seseorang dari waktu ke waktu. Jaringan ini menciptakan ‘jejak digital’ yang dapat digunakan untuk menganalisis pola perilaku, kebiasaan, dan aktivitas seseorang tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.
Sebagai contoh, seseorang mungkin melewati satu kamera di dekat toko, kamera lain di dekat sekolah anaknya, dan kamera lain di jalan pulang. Setiap gambar hanya mengungkapkan satu momen, tetapi jika digabungkan, mereka dapat menunjukkan ke mana seseorang pergi, kapan berada di sana, dan rute mana yang sering dilalui. Informasi ini dapat mengungkap banyak hal tentang seseorang, termasuk tempat kerja, tempat tinggal, tempat ibadah, kegiatan di waktu luang, dan siapa saja yang diasosiasikan. Ini adalah bentuk pengawasan massal yang dapat mengikis kebebasan sipil dan menciptakan efek ‘pendinginan’ di mana orang merasa enggan untuk melakukan aktivitas yang sah karena takut dilacak.
Penting untuk dicatat bahwa Flock menjual berbagai produk dengan teknologi dan kemampuan yang berbeda. Meskipun Flock menyatakan kamera Falcon mereka tidak melacak orang, perusahaan ini menawarkan kamera pan-tilt-zoom bernama Condor, yang dapat mendeteksi dan mengikuti manusia. Flock menegaskan bahwa tidak ada kameranya yang menggunakan pengenalan wajah. Namun, InvestigateTV pernah membagikan video yang menunjukkan kamera Condor melakukan panning untuk menjaga seorang reporter tetap dalam bingkai, menunjukkan kemampuan pelacakan objek yang canggih. Meskipun Flock mengklaim tidak menggunakan pengenalan wajah, kemampuan pelacakan objek yang canggih ini tetap menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi pengawasan individu yang terperinci.
Dampak dari penyebaran kamera Flock Safety ini sangat luas. Di satu sisi, pendukung mengklaim bahwa kamera ini membantu mengurangi kejahatan dan meningkatkan keamanan publik. Data dari beberapa kota memang menunjukkan penurunan kejahatan setelah pemasangan kamera, namun korelasi bukanlah kausalitas, dan sulit untuk mengisolasi efek kamera ini dari faktor-faktor lain. Di sisi lain, para kritikus berargumen bahwa manfaat keamanan yang diklaim tidak sebanding dengan hilangnya privasi dan potensi penyalahgunaan data. Ada kekhawatiran bahwa data ini dapat digunakan untuk tujuan di luar penegakan hukum, seperti pengawasan politik, penargetan komersial, atau diskriminasi.
Rekomendasi praktis untuk mengatasi masalah ini meliputi beberapa langkah. Pertama, diperlukan legislasi yang lebih ketat di tingkat federal dan negara bagian untuk mengatur penggunaan teknologi pengawasan AI, termasuk persyaratan transparansi, audit independen, dan batasan penyimpanan data. Kedua, komunitas harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam diskusi publik sebelum teknologi semacam ini diterapkan. Referendum atau pemungutan suara dapat dipertimbangkan untuk proyek-proyek pengawasan skala besar. Ketiga, lembaga penegak hukum dan entitas lain yang menggunakan kamera ini harus menetapkan kebijakan yang jelas dan dapat diakses publik mengenai bagaimana data dikumpulkan, disimpan, diakses, dan digunakan, serta mekanisme akuntabilitas untuk penyalahgunaan. Keempat, organisasi masyarakat sipil dan kelompok privasi perlu terus mengedukasi publik tentang risiko dan hak-hak mereka terkait pengawasan digital.
Secara keseluruhan, meskipun Flock Safety mengklaim teknologinya dirancang untuk ‘menghilangkan kejahatan’, penyebaran massal kamera AI mereka tanpa pengawasan yang memadai dan transparansi yang jelas menimbulkan ancaman serius terhadap privasi dan kebebasan sipil. Penting bagi masyarakat, pembuat kebijakan, dan lembaga penegak hukum untuk secara kritis mengevaluasi manfaat yang diklaim terhadap biaya yang tidak terlihat dari masyarakat yang diawasi secara konstan.




















