AI dari FKUI Berhasil Deteksi Dini Gagal Jantung, Wujudkan Telemedicine Cerdas

FeaturedKesehatanTeknologi
Views: 10

Kecerdasan buatan kembali membuktikan bahwa teknologi digital bukan cuma berguna di bidang bisnis atau hiburan, melainkan juga bisa menyelamatkan nyawa. Kali ini, inovasi penting datang dari Indonesia. Tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) berhasil mengembangkan sistem berbasis AI yang dapat mendeteksi dini kondisi gagal jantung, sehingga angka rawat ulang pasien bisa ditekan secara signifikan.

Sistem ini bernama NAVI-HF, diciptakan oleh dr. Rony Marethianto Santoso dalam riset doktoralnya di bidang Ilmu Kedokteran. Berbeda dari pendeteksi jantung konvensional yang hanya bergantung pada stetoskop dan pengalaman dokter, NAVI-HF menggabungkan alat audio canggih dan algoritma pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi kelainan cairan di paru-paru yang biasanya tidak terdeteksi pada pemeriksaan rutin.

Dr. Rony menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama tingginya angka rawat ulang pasien gagal jantung adalah ketidakmampuan deteksi dini kondisi subklinis. Pasien yang sudah diizinkan pulang justru kembali masuk rumah sakit karena penurunan kondisi yang tidak terlihat lewat pemeriksaan biasa. Kondisi ini disebut subklinis, artinya belum muncul tanda-tanda yang kentara lewat pemeriksaan rutin. Karena itulah, dibutuhkan pendeteksi yang lebih sensitif untuk menemukan gejala dini sebelum pasien benar-benar kawat.

Bagaimana cara kerja NAVI-HF? Sistem ini memanfaatkan teknologi analisis suara napas menggunakan stetoskop digital. Ketika pasien bernapas, perangkat merekam suara napas, kemudian algoritma AI mengolah data tersebut untuk mengenali pola-pola yang mengindikasikan adanya cairan di paru-paru. Algoritma ini dilatih menggunakan data sekitar 246 pasien dengan kasus gagal jantung di rumah sakit rujukan Indonesia. Hasil uji coba menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang memadai dalam memetakan pasien yang masih berisiko.

Jika sistem mendeteksi indikasi bahaya, dokter bisa langsung menunda kepulangan pasien atau menyesuaikan terapi agar penderita benar-benar stabil sebelum pulang. Sebaliknya, jika hasilnya aman, rumah sakit bisa lebih efisien dalam mengelola tempat tidur dan sumber daya. Pendekatan ini juga bisa membantu mengalokasikan perawatan intensif kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya berdasarkan asumsi klinis semata.

Potensi aplikasi NAVI-HF tidak berhenti di bangsal rumah sakit. Rony berambisi meminimalkan perangkat ini sehingga bisa digunakan di rumah. Konsepnya adalah stetoskop digital portabel yang terhubung ke ponsel pintar. Pasien cukup membawa napas pada perangkat, lalu aplikasi akan menganalisis apakah ada risiko bahaya. Jika terdeteksi masalah, pengguna akan mendapat peringatan instan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat. Inovatifnya, sistem ini juga bisa diintegrasikan dengan telemedicine, sehingga orang di daerah terpencil bisa mendapatkan skrining berkala tanpa harus bepergian jauh.

Selain itu, NAVI-HF juga akan dilengkapi dengan layanan cloud. Dokter akan bisa memantau kondisi pasien dari jarak jauh, mendukung model layanan telemedicine yang semakin populer di era digital. Pendekatan ini diharapkan bisa menjembatangi kesenjangan layanan kesehatan antara perkotaan dan daerah terpencil, yang masih kekurangan tenaga ahli jantung dan peralatan diagnosis mahal. Sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter, melainkan sebagai alat bantu yang memperkuat pengambilan keputusan klinis.

Penelitian ini juga menandai pencapaian penting bagi dunia medis Indonesia. FKUI membuktikan bahwa riset lokal mampu bersaing secara global, apalagi dalam bidang yang selama ini didominasi teknologi asing. Kolaborasi antara ilmu kedokteran dan kecerdasan buatan membuka jalan baru untuk solusi kesehatan yang lebih manusiawi, akurat, dan terjangkau. Jika proyek ini terus dikembangkan dan diadopsi secara luas, pasien gagal jantung di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang lebih proaktif.

Ke depannya, tim riset berencana memperluas basis data dengan sampel dari berbagai daerah agar NAVI-HF bisa mengenali variasi kasus yang lebih bervariasi. Adanya perbedaan karakteristik pasien antarwilayah, penyakit penyertaan, dan gaya hidup akan membuat AI menjadi lebih pintar dan relevan untuk seluruh populasi Indonesia. FKUI juga berupaya menjembatangi kesenjangan layanan kesehatan dengan program pelatihan bagi dokter dan tenaga medis di daerah.

Langkah ini diharapkan mampu memastikan bahwa inovasi teknologi medis benar-benar sampai dan dimanfaatkan secara maksimal. Investor dan rumah sakit yang ingin mendukung pengembangan NAVI-HF diharapkan bisa memanfaatkan momentum ini untuk membawa teknologi ini lebih jauh lagi, sampai benar-benar bisa dipakai oleh masyarakat luas.

Gagal jantung sendiri bukan penyakit yang bisa dianggap remeh. Di Asia, kasus penyakit jantung menduduki peringkat kedua sebagai pembunuh terbesar. Banyak pasien yang sudah mendapatkan pengobatan dan diizinkan pulang, namun kembali masuk rumah sakit dalam waktu singkat karena kondisinya memburuk. Sering kali, penyebab utamanya adalah adanya penumpukan cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi sejak awal. NAVI-HF oleh FKUI diharapkan bisa menjadi solusi konkret untuk masalah serupa di Indonesia.

Tags: deteksi dini jantung, FKUI, NAVI-HF

You May Also Like

AI dari FKUI Berhasil Deteksi Dini Gagal Jantung, Wujudkan Telemedicine Cerdas
Pasar Modal RI Tahan Banting: OJK Ungkap Pertumbuhan Investor Mencapai 18 Juta

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan