Israel Klaim Mojtaba Khamenei Tak Lagi di Iran, Komunikasi Dipimpin Pejabat IRGC

InternasionalPolitik
Views: 10

Tel Aviv – Sebuah sumber intelijen Israel mengungkap informasi terbaru mengenai status Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Menurut keterangan yang disampaikan kepada media Saudi Al-Hadath, pemimpin tertinggi tersebut kini diyakini tidak lagi berada di wilayah Iran. Klaim ini mencuat di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah dan memicu spekulasi luas mengenai kondisi kepemimpinan tertinggi di Teheran. Informasi tersebut langsung menarik perhatian komunitas internasional yang sedang memantau dinamika politik Iran pasca pergantian kepemimpinan.

Status Mojtaba Khamenei menjadi sorotan sejak ia resmi menduduki jabatan tertinggi negara tidak lama setelah ayahnya wafat. Kematian pemimpin sebelumnya terjadi dalam operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari silam. Sejak pelantikannya, sosok Mojtaba nyaris tidak pernah terlihat di depan publik. Seluruh komunikasi resmi yang dikeluarkan dari kantor tertinggi Iran selama ini hanya berbentuk pernyataan tertulis yang disebarkan melalui saluran media negara.

Lebih jauh, sumber Israel tersebut menyatakan bahwa naskah-naskah pernyataan yang selama ini dikaitkan dengan Mojtaba sebenarnya tidak ditulis olehnya secara langsung. Klaim itu menyebutkan bahwa susunan kalimat dan kebijakan dalam pernyataan tersebut justru dirumuskan oleh Kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, bersama dengan beberapa pejabat militer senior lainnya. Pola komunikasi ini menimbulkan dugaan bahwa mekanisme pengambilan keputusan di Iran sedang mengalami pergeseran signifikan di bawah bayang-bayang tekanan eksternal.

Selain isu lokasi dan mekanisme komunikasi, sumber tersebut juga menyoroti adanya perpecahan internal yang dilaporkan semakin mendalam di kalangan elit politik dan militer Iran. Menurut analisis intelijen Israel, ketegangan antarfraksi tersebut dinilai mengancam stabilitas dan keberlangsungan hidup Korps Garda Revolusi Islam sebagai pilar pertahanan negara. Perpecahan ini diyakini memperlambat respons pemerintah Iran terhadap berbagai tantangan strategis, sekaligus memperumit koordinasi operasional di tingkat pemerintahan.

Laporan terpisah dari CBS News menguatkan narasi mengenai isolasi Mojtaba Khamenei. Berdasarkan wawancara dengan beberapa pejabat Amerika Serikat yang memiliki akses informasi rahasia, pemimpin tertinggi Iran tersebut kini berada di lokasi yang sangat rahasia dengan akses terbatas ke dunia luar. Komunikasi dengan dirinya hanya dapat dilakukan melalui jaringan kurir yang rumit dan terpusat. Kondisi tersebut secara langsung mempengaruhi dinamika diplomasi, termasuk lambatnya respons Iran terhadap berbagai proposal perdamaian yang diajukan Washington.

Keterlambatan respons diplomatik ini menjadi faktor krusial dalam negosiasi yang sedang berlangsung. Usulan dari pemerintah Amerika Serikat kerap tidak mendapatkan tanggapan resmi dalam jangka waktu yang diharapkan. Para analis menilai bahwa hambatan komunikasi internal di Teheran menjadi salah satu penyebab utama mandeknya dialog bilateral. Situasi ini memperpanjang ketidakpastian di kawasan dan meningkatkan risiko miscalculasi strategis antara kedua negara yang memiliki kepentingan saling bertolak belakang.

Aspek keamanan pribadi Mojtaba juga menjadi perhatian serius. Laporan media menyatakan bahwa ia mengalami luka serius dalam serangan awal konflik yang melumpuhkan infrastruktur komando Iran. Karena kondisi tersebut dan ancaman pembunuhan yang terus mengintai, aparat keamanan Iran mengambil langkah ketat untuk melindungi nyawanya. Salah satu bukti nyata dari protokol keamanan ini adalah keputusan melarangnya menghadiri pemakaman ayahnya di Mashhad pada awal Juli lalu.

The New York Times melaporkan bahwa Mojtaba sebelumnya berniat hadir dan memimpin salat jenazah untuk ayahnya. Namun, permintaan itu ditolak keras oleh aparat keamanan yang khawatir kehadirannya dapat dilacak oleh intelijen Israel. Kekhawatiran tersebut tidak tanpa dasar, mengingat riwayat serangan presisi yang sebelumnya berhasil menewaskan pemimpin terdahulu. Larangan itu mencerminkan tingkat paranoia keamanan yang tinggi di kalangan elit Iran saat ini.

Ketidakpastian mengenai lokasi dan kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei terus menjadi bahan pantauan ketat komunitas internasional. Dengan komunikasi yang terfragmentasi dan klaim mengenai perpecahan internal yang mengancam IRGC, masa depan kepemimpinan Iran tampak semakin kompleks. Perkembangan situasi ini akan terus mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, terutama dalam konteks negosiasi nuklir, gencatan senjata, dan stabilitas regional yang masih rapuh.

Tags: Ahmad Vahidi, Korps Garda Revolusi Iran, Mojtaba Khamenei

You May Also Like

Gerindra Tegaskan Presiden Tidak Pernah Intervensi Proses Hukum
Hasil Piala Dunia 2026: Drama 10 Gol, Inggris Kalahkan Prancis 6-4

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan