Khalil al-Hayya Resmi Jadi Kepala Biro Politik Hamas, Profil Lengkap Sang Tokoh yang Sudah Dekat dengan Iran

InternasionalPolitik
Views: 3

Khalil al-Hayya Resmi Diangkat sebagai Kepala Biro Politik Hamas

Hamas resmi mengumumkan Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik baru, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam serangan Israel di Gaza dua tahun lalu. Pengangkatan ini menandai babak baru bagi gerakan yang bertahun-tahun beroperasi di tengah tekanan militer dan politik. Al-Hayya terpilih setelah memenangkan pemilihan internal putaran kedua melawan Khaled Meshaal, mantan pemimpin politik Hamas.

Kelahiran di Gaza pada 5 November 1960 menjadikan Khalil al-Hayya sebagai anak konflik. Perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Israel setelahnya membawa trauma mendalam bagi rakyat Gaza, termasuk keluarga al-Hayya. Ia pernah menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya dan penangkapan anggota keluarga, yang pada akhirnya mendorongnya terjun ke aktivisme terorganisir.

Pertemuan dengan Sheikh Ahmed Yassin, pendiri Hamas, pada Maret 1980 membuka mata al-Hayya pada gerakan perlawanan. Ia kemudian bergabung dan menjadi bagian dari jaringan awal yang kemudian berkembang menjadi Hamas pada 1987. Selama Intifada pertama, al-Hayya menjadi salah satu tokoh utama yang mengoordinasikan aksi protes dan perlawanan rakyat Palestina. Kegiatannya membuatnya masuk dan keluar penjara Israel berkali-kali. Selama masa tahanan, ia mengalami penyiksaan fisik maupun psikologis, namun tekadnya tetap kuat. Pengalaman pahit ini justru memperdapat legitimasinya di mata rakyat Gaza.

Di luar aktivitas militer, al-Hayya juga mengejar pendidikan formal yang cukup impresif. Ia memperoleh gelar sarjana ilmu Islam dari Universitas Islam Gaza pada 1983, kemudian melanjutkan studi di Universitas Yordania untuk meraih gelar master pada 1986. Tak berhenti di situ, al-Hayya kembali menempuh pendidikan doktor dalam ilmu hadits di Universitas Sudan pada 1997. Pendidikan luas ini memberinya perspektif teologis dan strategis yang esensial dalam memimpin gerakan yang berbasis identitas Islam.

Pada 2006, Khalil al-Hayya secara resmi terjun ke arena politik formal. Ia berhasil mengamankan kursi di Dewan Legislatif Palestina dan pada akhirnya memimpin blok parlemen Hamas. Perjalanannya tidak pernah mulus. Israel beberapa kali melancarkan upaya pembunuhan terhadapnya. Pada Mei 2007, serangan udara Israel menghancurkan rumah al-Hayya dan menewaskan tujuh kerabatnya, termasuk dua saudara laki-lakinya. Tahun berikutnya, putranya Hamza yang tergabung Brigade Qassam juga gugur dalam serangan. Korban keluarga terus berlangsung: putra sulung, istri, dan tiga cucunya juga menjadi korban serangan Israel yang tak dapat dibuktikan secara hukum.

Meski duka yang tiada henti, al-Hayya tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan. Pada September 2025, ia selamat dari serangan udara di Doha, Qatar, tempat ia saat itu tinggal. Keberhasilan menghindar dari serangan tersebut semakin menambah reputasinya sebagai tokoh yang tangguh dan tak gentar menghadapi musuh.

Di arena internasional, al-Hayya dikenal sebagai sosok yang mengelola hubungan Hamas dengan Iran, sekutu regional utama. Perannya selama bertahun-tahun dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel juga menjadikan tokoh yang diakui oleh mediator internasional. Ia dianggap sebagai tokoh pragmatis yang mampu bicara dengan berbagai pihak tanpa kehilangan akar ideologis.

Pemilihan internal Hamas memang sering mempertemukan al-Hayya dengan nama-nama besar lain. Kemenangannya atas Khaled Meshaal pada putaran kedua menegaskan bahwa fraksi internal memilih tokoh yang dianggap lebih dekat dengan realitas lapangan. Muktamar internal Hamas pada 2026 ini juga dilihat sebagai respons terhadap perubahan strategis di Timur Tengah, khususnya setelah normalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab.

Dengan formasi baru ini, Hamas mengharapkan al-Hayya dapat menjembatani hubungan dengan Iran yang terus menghadapi tekanan regional. Selain itu, ia juga diharapkan bisa menjaga diplomasi dengan Qatar dan Turki, negara-negara yang selama ini menjadi safe haven bagi para pemimpin Hamas. Di tengah kerusakan Gaza yang parah dan kesulitan kemanusiaan yang menumpuk, kepemimpinan al-Hayya akan diuji seberapa jauh ia bisa menyeimbangkan perlawanan militer dengan diplomasi politik.

Di Gaza, warga Palestina yang telah lama menderita kerusakan infrastruktur dan kelaparan kini berharap kepemimpinan al-Hayya bisa membawa perubahan. Beberapa kelompok sipil mendesak agar Hamas lebih fokus pada pemulihan Gaza daripada eskalasi militer. Di sisi lain, kelompok-kelompok garis keras menolak kompromi apa pun dengan Israel, mempertanyakan legitimasi kepemimpinan al-Hayya yang dianggap terlalu dekat dengan Iran. Membedakan antara kepentingan rakyat dan agenda ideologis akan menjadi ujian berat bagi presiden baru Hamas itu.

Masyarakat Palestina dan dunia internasional kini menunggu langkah pertama al-Hayya. Apakah ia akan melanjutkan strategi keteguhan atau mulai membuka pintu terhadap gencatan senjata jangka panjang? Jawaban itu akan menentukan tidak hanya nasib Hamas, tetapi juga masa depan konflik Palestina-Israel yang terus berkecamuk. Bagi Israel, hadapan al-Hayya adalah lawan yang memahami bahasa militer sekaligus diplomasi, sehingga mengharapkan respons strategis yang lebih kompleks.

Dengan segala beban sejarah dan harapan yang diletakkan di atas bahunya, Khalil al-Hayya bertolak memimpin Hamas di masa yang penuh ketidakpastian. Dunia akan memantau setiap langkahnya.

Tags: Hamas, Khalil al-Hayya, Palestina

You May Also Like

Anggaran Negara Tembus Rp1,6 Kuadriliun, Pendapatan Masih Tertinggal
Eskalasi Konflik Timur Tengah: IRGC Klaim Hancurkan Target Militer AS di Kuwait Lewat Serangan Drone Kamikaze

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan