PT Pertamina berkomitmen mendukung ketahanan energi nasional dengan bioenergi berbasis kelapa sawit.
Fokus utamanya adalah pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) dan pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan.
Salah satu andalan adalah pengembangan kelapa sawit dan produk turunannya guna memenuhi target pencampuran E10 sesuai peta jalan pemerintah.
Di pabrik pengembangan bioetanol di Glenmore, Pertamina sedang menuntaskan fasilitas dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun.
Target tersebut diharapkan bisa menyerap bahan baku lokal dan mendorong kenaikan harga Tandan Kosong Sawit (TKS) di perkebunan.
TKS menjadi limbah sawit dengan volume potensi sekitar 25 juta ton per tahun yang belum tergarap secara optimal.
Dengan memanfaatkan TKS, Pertamina berencana mengolahnya menjadi bioetanol melalui serangkaian proses hilirisasi, mulai dari pemecahan serat menjadi glukosa hingga difermentasi menjadi etanol.
Strategi ini diharapkan mengurangi defisit neraca perdagangan pakaian bahan bakar minyak dan membuka lapangan kerja baru di sektor agrikultur dan hiliran bioenergi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat banyak insentif telah disiapkan untuk memudahkan investasi di bidang bioetanol, termasuk pengurangan pajak dan kemudahan perizinan.
Pelaku usaha perkebunan pun menilai langkah Pertamina ini bisa menjadi penyeimbang harga, sehingga petani tidak lagi bergantung hanya pada harga CPO mentah.
Dengan target pemerintah menutup kesenjanganSB为主线 BBM impor pada 2027, langkah bioetanol ini menjadi salah satu kunci strategis yang harus berjalan lancar.




















