Dua Warga Rusia Dipenjara di Angola atas Tuduhan Terorisme dan Spionase

Internasional
Views: 79

Pengadilan Angola telah menjatuhkan vonis bersalah kepada dua warga negara Rusia, Lev Lakshtanov dan Igor Ratchin, atas tuduhan terorisme dan spionase. Keduanya dituduh merencanakan kudeta dan membantu mengorganisir demonstrasi mematikan di negara Afrika bagian selatan tersebut pada tahun lalu. Keputusan ini menandai perkembangan signifikan dalam kasus yang telah menarik perhatian internasional, mengingat tuduhan serius yang melibatkan campur tangan asing dalam urusan domestik suatu negara.

Lev Lakshtanov dijatuhi hukuman delapan tahun penjara, sementara Igor Ratchin divonis sebelas tahun. Keduanya telah membantah semua tuduhan, mengklaim bahwa kehadiran mereka di Angola semata-mata untuk kegiatan budaya dan bisnis. Namun, argumen tersebut tidak diterima oleh pengadilan, yang menemukan bukti-bukti cukup untuk mendukung dakwaan yang diajukan oleh jaksa penuntut. Kasus ini menyoroti kerentanan politik di beberapa negara Afrika terhadap pengaruh eksternal.

Insiden yang menjadi fokus dakwaan adalah mogok taksi minibus yang terjadi pada 28-30 Juli 2025. Aksi mogok ini, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, dengan cepat berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan. Menurut angka resmi, kerusuhan tersebut mengakibatkan 22 orang tewas dan lebih dari 1.600 orang ditangkap. Peristiwa ini mencerminkan ketegangan sosial dan ekonomi yang mendalam di Angola, serta potensi eksploitasi situasi tersebut oleh pihak-pihak tertentu.

Pasukan keamanan Angola dituduh melepaskan tembakan langsung ke arah pengunjuk rasa selama kerusuhan. Pemerintah Angola, melalui pernyataan resminya, menyatakan bahwa penggunaan kekuatan ‘progresif’ yang dilakukan aparat adalah tindakan yang dibenarkan untuk mengendalikan situasi. Namun, tuduhan ini bertentangan dengan laporan Human Rights Watch sebelumnya, yang menyebutkan bahwa Angola menggunakan ‘kekuatan berlebihan’ dalam membubarkan protes damai terkait kenaikan harga bahan bakar pada 12 Juli 2025, dengan menggunakan peluru karet dan gas air mata.

Jaksa penuntut Angola mengklaim bahwa Lakshtanov dan Ratchin memiliki motif untuk memengaruhi pemilihan presiden yang akan datang. Mereka diduga mendanai partai oposisi terbesar di Angola, National Union for the Total Independence of Angola (UNITA), atau berupaya memaksakan perubahan kepemimpinan di dalam Popular Movement for the Liberation of Angola (MPLA), partai yang telah memerintah negara tersebut sejak kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1975. Tuduhan ini mengindikasikan adanya skema yang lebih besar untuk mengganggu stabilitas politik negara.

Lebih lanjut, jaksa juga menuduh kedua pria Rusia tersebut memiliki kaitan dengan Africa Politology, sebuah jaringan disinformasi dan propaganda Rusia yang diduga berasal dari kelompok tentara bayaran Wagner. Menurut investigasi oleh beberapa media, termasuk Forbidden Stories, Africa Politology diambil alih oleh Dinas Intelijen Asing Rusia (SVR) setelah kematian pemimpin Wagner, Yevgeny Prigozhin, pada tahun 2023. Kelompok Wagner sendiri kemudian diubah nama menjadi Africa Corps dan diintegrasikan ke dalam militer Rusia, menunjukkan upaya konsolidasi kekuatan Rusia di benua Afrika.

Angola, yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor minyak, secara historis memiliki hubungan dekat dengan Rusia. Selama Perang Dingin dan Perang Saudara Angola (1975-2002), Uni Soviet dan Kuba mendukung MPLA, sementara Amerika Serikat dan apartheid Afrika Selatan mendukung lawan-lawannya, termasuk UNITA. Meskipun demikian, Presiden Angola, João Lourenço, telah meningkatkan hubungan dengan AS dan Eropa sejak menjabat pada tahun 2017, menandakan pergeseran dalam kebijakan luar negeri negara tersebut.

Dalam dekade terakhir, Rusia memang telah meningkatkan kehadirannya di Afrika. Kelompok Wagner, dan kemudian Africa Corps, telah menyediakan keamanan bagi presiden Republik Afrika Tengah, Faustin-Archange Touadéra, sejak 2017. Pada tahun 2021, pasukan Wagner tiba di Mali untuk mendukung junta militer. Africa Corps juga mendukung rezim militer di Niger dan Burkina Faso. Sebuah laporan Kongres AS menunjukkan bahwa sejak 2023, pasukan Rusia juga telah dikerahkan di Guinea Khatulistiwa, Libya, dan Sudan, menggarisbawahi ekspansi pengaruh Rusia di seluruh benua.

Presiden Madagaskar, Michael Randrianirina, juga telah memperkuat hubungan dengan Rusia sejak merebut kekuasaan dalam kudeta pada Oktober 2025. Kehadiran warga Rusia dalam pengawal kepresidenannya dan peluncuran program mingguan tentang hubungan Madagaskar-Rusia di televisi nasional baru-baru ini menunjukkan peningkatan kerja sama bilateral yang signifikan. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa pengaruh Rusia di Afrika tidak terbatas pada negara-negara yang bergejolak, tetapi juga mencakup negara-negara dengan pemerintahan yang lebih stabil.

Selain kedua warga Rusia, dua warga Angola juga diadili dalam kasus yang sama. Jurnalis olahraga Carlos Tomé menerima hukuman penjara dua tahun dengan penangguhan, sementara Francisco de Oliveira, sekretaris jenderal sayap pemuda UNITA, dibebaskan. Jaksa penuntut telah mengajukan banding terhadap putusan-putusan ini, menurut kantor berita Portugal Lusa. Lakshtanov dan Ratchin juga mengajukan banding atas hukuman mereka, namun akan tetap dalam tahanan selama proses banding berlangsung. Kedutaan Besar Rusia di Angola belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar mengenai kasus ini.

Tags: Angola, Igor Ratchin, Lev Lakshtanov

You May Also Like

Harga Minyak Dunia Sentuh Rp1,5 Juta per Barel, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi Global
Kylian Mbappe Ukir Sejarah: Samai Rekor Langka Eusebio di Tiga Kompetisi Bergengsi Setelah 50 Tahun

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan