Italia tengah menghadapi gelombang panas yang mengkhawatirkan, dengan suhu yang mencapai tingkat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kementerian Kesehatan Italia bahkan telah mengeluarkan peringatan merah untuk seluruh 27 kota besar, termasuk destinasi wisata populer seperti Milan, Napoli, Venesia, dan Roma, berlaku mulai Kamis mendatang. Situasi ini memicu pertanyaan bagi para wisatawan yang berencana menikmati liburan musim panas di Eropa, khususnya Italia.
Meskipun sebagian warga Italia menganggap suhu ekstrem ini sebagai ‘fenomena yang tidak baru’ akibat perubahan iklim, banyak pula yang terkejut, terutama mereka yang berasal dari Italia selatan saat mengunjungi kota-kota di wilayah utara. Menanggapi kondisi ini, para ahli dan pemandu wisata memberikan sejumlah kiat agar wisatawan dapat tetap menikmati keindahan Italia tanpa terpapar risiko kesehatan akibat panas berlebih.
Gelombang panas ekstrem di Italia bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru, namun intensitas dan frekuensinya semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan iklim global menjadi pendorong utama di balik tren ini. Data meteorologi menunjukkan bahwa suhu rata-rata di Italia telah meningkat secara signifikan, dengan musim panas yang lebih panjang dan lebih panas. Tahun 2023, misalnya, telah mencatat rekor suhu tertinggi di beberapa wilayah, melampaui gelombang panas sebelumnya seperti ‘Lucifer’ pada tahun 2017 atau ‘Charon’ yang melanda sebagian besar Eropa. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pariwisata tetapi juga pada sektor pertanian, kesehatan masyarakat, dan infrastruktur. Peningkatan suhu memicu kekeringan, kebakaran hutan, dan peningkatan risiko dehidrasi serta heatstroke bagi populasi rentan.
Salah satu saran utama adalah mengatur waktu kunjungan ke objek wisata. Simone Quilici, Direktur Taman Arkeologi Colosseum, menjelaskan bahwa mengunjungi atraksi luar ruangan pada jam-jam terpanas di Italia (setelah makan siang) adalah ‘kesalahan besar’. Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Italia telah mengizinkan beberapa objek wisata untuk tetap buka hingga malam hari. Jadwal tambahan ini, yang berlaku selama bulan Agustus, mencakup Colosseum (Roma) yang buka pada Jumat dan Sabtu pukul 19:45 hingga 23:30, Pantheon (Roma) yang buka setiap hari kecuali Kamis pukul 19:00 hingga 23:00, serta Kastil Sforza (Milan) yang buka pukul 17:30 hingga 19:30. Fleksibilitas ini sangat penting untuk memastikan wisatawan dapat menikmati situs-situs bersejarah tanpa harus berhadapan langsung dengan suhu puncak di siang hari.
Di Colosseum sendiri, upaya pendinginan telah dilakukan dengan pemasangan kipas angin beruap di pintu masuk dan peningkatan jumlah pos medis darurat. Quilici mengakui bahwa Roma telah terbiasa dengan suhu tinggi ini, namun ia menekankan bahwa ini bukan situasi terisolasi melainkan ‘fenomena global’ perubahan iklim. Ia juga mengungkapkan sedang berdiskusi dengan para arkeolog untuk memperkenalkan lebih banyak vegetasi peneduh di area tersebut. Mateo Medina, Direktur Operasional Vivicos International Travel di Roma, menambahkan bahwa timnya telah menawarkan tur malam hari mulai pukul 22:00 hingga tengah malam, dan juga mencatat peningkatan permintaan untuk tur pagi pukul 08:00. Ini menunjukkan adaptasi proaktif dari penyedia layanan wisata untuk mengakomodasi kondisi cuaca ekstrem.
Pilihan alternatif untuk menghindari panas adalah mengunjungi tempat-tempat berpendingin udara seperti museum, atau gereja-gereja yang banyak tersebar di Italia. Kelas memasak dan sesi mencicipi anggur, yang umumnya diadakan di tempat ber-AC, menjadi alternatif populer dibandingkan tur berjalan kaki. Medina juga merekomendasikan taman-taman di ibu kota seperti Villa Borghese, Villa Adriana, dan Parque de Acquedotti untuk mencari keteduhan, serta mengunjungi Katakombe San Sebastian dan San Callisto yang berada di bawah tanah. Ini bukan hanya tentang menghindari panas, tetapi juga tentang menemukan sisi lain dari budaya dan sejarah Italia yang mungkin terlewatkan jika fokus hanya pada objek wisata utama.
Marco Carrino, seorang pemandu wisata di Napoli, memperingatkan agar tidak mengunjungi situs arkeologi terbuka selama jam-jam terpanas. Ia menyarankan untuk bangun lebih awal atau, jika memungkinkan, menghindari bulan-bulan terpanas sama sekali saat mengunjungi Pompeii. Carrino juga merekomendasikan Museum Arkeologi Nasional Napoli yang memiliki koleksi Romawi, Mesir, dan Yunani yang sangat penting. Alessia Armenise, pakar dan penulis perjalanan Italia, menganggap supermarket sebagai ‘permata tersembunyi’ karena ber-AC dan menawarkan pilihan makanan siap saji yang terjangkau. Ini adalah tip praktis yang sering diabaikan wisatawan, namun sangat berguna untuk mendinginkan diri dan menghemat biaya makan.
Bagi mereka yang ingin menjelajah lebih jauh, Armenise menyarankan untuk merencanakan aktivitas di sekitar perairan alami atau fitur air lainnya. ‘Alih-alih berjalan kaki, gunakan perahu,’ katanya, ‘Terkadang Anda akan melihat hal-hal yang tidak dapat diakses melalui darat.’ Ini memberikan keuntungan tambahan berupa percikan air pendingin. Contohnya, tur perahu di sepanjang pesisir Amalfi, atau menyewa perahu di Danau Como atau Garda. Dr. Agata Chrzanowksa, sejarawan seni dan pemandu wisata di Florence, merekomendasikan perbukitan dan pegunungan di utara kota, khususnya wilayah Garfagnana, sebagai tempat yang baik untuk melarikan diri dari panas bagi mereka yang mengemudi. Ketinggian yang lebih tinggi menawarkan suhu yang lebih sejuk dan pemandangan alam yang menenangkan.
Jika mengunjungi atraksi populer seperti Vatikan di Roma adalah suatu keharusan, Armenise menyarankan untuk memesan tiket jauh-jauh hari untuk menghindari antrean panjang di bawah terik matahari. Banyak tempat wisata menjual tiket secara daring, namun ketersediaan seringkali terbatas dan cepat habis. Selain itu, mencoba galeri dan museum lokal di kota-kota kecil yang cenderung tidak terlalu ramai dan memiliki kafe ber-AC bisa menjadi pilihan menarik, seperti yang disarankan Armenise. Ia juga merekomendasikan aktivitas malam hari seperti menonton film di bioskop tua atau konser di Arena Verona. Ini adalah cara cerdas untuk menggabungkan hiburan dengan kenyamanan di tengah suhu ekstrem.
Fiona Giusto, pemandu wisata di Venesia, merencanakan sebagian besar rutenya di sekitar tempat-tempat teduh dan selalu mengingatkan wisatawan untuk tetap terhidrasi, mengenakan topi, dan tabir surya. Untuk menikmati budaya tanpa terik, ia menyarankan Teatro La Fenice, gedung opera bersejarah, dan museum seni Ca’ Rezzonico di Venesia. ‘Nasihat terbaik yang bisa saya berikan adalah akal sehat,’ tambahnya, menekankan pentingnya kewaspadaan dan persiapan dalam menghadapi cuaca ekstrem ini. Selain itu, penting juga untuk mengenakan pakaian yang ringan, longgar, dan berwarna terang, serta membawa botol air minum yang dapat diisi ulang. Mengonsumsi makanan ringan dan buah-buahan yang kaya cairan juga sangat disarankan.
Dampak gelombang panas terhadap pariwisata Italia sangat signifikan. Meskipun Italia tetap menjadi destinasi favorit, pola perjalanan wisatawan mulai bergeser. Banyak yang memilih untuk mengunjungi Italia di musim semi atau gugur, atau mencari destinasi di wilayah utara yang lebih sejuk. Ini berpotensi mengurangi pendapatan pariwisata di puncak musim panas, yang secara tradisional merupakan periode paling menguntungkan. Namun, di sisi lain, hal ini juga mendorong inovasi dalam industri pariwisata, seperti pengembangan tur malam hari dan promosi destinasi alternatif. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata perlu terus beradaptasi dengan kondisi iklim yang berubah, tidak hanya untuk menjaga kenyamanan wisatawan tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan sektor pariwisata Italia dalam jangka panjang.





















