Tim basket veteran putra Asaba Indonesia kembali menunjukkan taringnya di ajang ASEAN Veteran Basketball Tournament edisi ke-35. Turnamen bergengsi ini akan berlangsung di Kuching, Malaysia, mulai tanggal 11 hingga 15 Agustus. Asaba datang dengan ambisi besar untuk membawa pulang gelar juara, setelah tahun lalu sukses meraih trofi di kategori usia 50 dan 60 tahun saat menjadi tuan rumah.
Skuad Asaba Indonesia kali ini diperkuat oleh sejumlah mantan pemain nasional yang namanya tak asing lagi di telinga penggemar basket Tanah Air. Sebut saja Kiki Susilo, I Made Sudiadnyana, Romy Chandra, Ronald Median, Hardono Putri Prayogo, Tatang Kuskanto, dan Wahyu Gunarto. Sementara itu, posisi pelatih kepala Asaba Indonesia U-60 dipercayakan kepada Johni Henry.
Selain Asaba, turnamen ini juga diramaikan oleh klub-klub veteran dari berbagai negara, seperti ZAAP Thailand, Singapore Siglap, Miri Kinsar, Hornbills Kucing, Brunei Linktech 40, KL 51, FCVBA Phillipines, Meteor Pontianak, dan HATYAI Basketball Clubs.
Ajang yang telah digelar sejak tahun 1992 ini bukan sekadar kompetisi, melainkan juga menjadi wadah silaturahmi dan reuni bagi para mantan pebasket di masa kejayaan mereka. Hengardy Tan, salah satu pemain Asaba U-60, mengungkapkan antusiasmenya.
“Asaba Indonesia sudah sangat siap untuk bertanding di Kuching. Kami berencana mengirimkan tiga tim: dua tim untuk kategori usia 50 tahun dan satu tim untuk U-60 tahun ke atas. Kami hanya absen di tim U-40 dan U-70. Ini bukan sekadar turnamen biasa, melainkan ajang yang penuh sejarah bagi kami untuk kembali bertemu, tidak hanya dengan rekan setim, tetapi juga dengan lawan-lawan lama. Banyak di antara kami adalah mantan pemain tim nasional dari negara masing-masing,” jelas Hengardy dalam rilis kepada detikSport.
Ia menambahkan, “Bagi pemain seperti kami, event ini sangat positif. Selain menjaga kebugaran di usia senja, ini penting bagi para mantan pebasket untuk tetap konsisten bermain basket, tentu dengan frekuensi yang disesuaikan kondisi fisik. Artinya, setelah pensiun, kami dianjurkan untuk rutin berolahraga agar tidak vakum terlalu lama.”
Meskipun menyandang status juara bertahan di kategori 50 dan 60, Asaba menghadapi tantangan. Mereka kemungkinan besar tidak akan diperkuat salah satu pemain kunci di tim U-60, Abdullah Gobel, yang akrab disapa Ducko, karena sedang dalam suasana duka. Namun, Ducko tetap memberikan dukungan dan pesan agar Asaba Indonesia bermain sportif dan mengutamakan semangat persaudaraan.
“Kami ingin mencoba menjadi juara lagi, baik di tim 50 maupun 60. Sayangnya, pemain terbaik kami di U-60 tahun lalu, Abdullah Gobel, masih dalam suasana duka. Namun, ia tetap mengirimkan dukungan dan pesannya kepada seluruh tim agar Asaba Indonesia harus bermain sportif dan mengutamakan semangat persaudaraan, baik sesama tim maupun lawan,” tutur Tan.
Di sisi lain, pelatih Asaba Indonesia U-50, Agustinus Dapas Sigar, atau akrab disapa Aguy, bertekad memberikan yang terbaik. Baginya, melatih para mantan pemain memiliki kemudahan tersendiri dibandingkan melatih pebasket pemula. Meski jarang berlatih bersama secara intensif di ajang tahunan ini, Aguy optimis bahwa chemistry para pemain di lapangan akan tetap solid.
“Kalau mantan pemain, skill pasti masih ada. Tinggal kondisi persiapan fisiknya saja yang perlu dijaga. Jadi, tugas saya adalah menyatukan kekompakan mereka di lapangan. Untuk persiapan, karena mereka umumnya juga sering bermain bersama, saya hanya perlu mengombinasikan taktik dan memastikan mereka bermain dengan enjoy,” kata Aguy.
Mantan pemain Satria Muda dan Garuda Bandung itu berharap, “Semoga dukungan dan pesan moral dari Pak Ducko menjadi motivasi bagi kami untuk tampil maksimal di lapangan. Jika bisa menjadi juara, itu bonus. Yang terpenting adalah semua peserta tidak ada yang cedera dan tuan rumah sukses menjadi penyelenggara yang baik.”





















