Sepak bola lebih dari sekadar adu gol dan kemenangan. Sportivitas dalam menerima kekalahan dan menghormati keputusan wasit adalah esensi penting yang harus selalu dijunjung tinggi.
Sikap terpuji ini terlihat jelas usai laga semifinal Piala Presiden 2026 antara Persib Bandung dan Persija Jakarta di Stadion I Wayan Dipta, Selasa (4/8/2026). Dalam pertandingan tersebut, Persija harus mengakui keunggulan Persib dengan skor 1-2.
Persib unggul lebih dulu melalui gol Ulliam Barros pada menit ke-22, diikuti penalti Balsa Sekulic di menit ke-28. Sempat ada momen kontroversial ketika wasit Yudai Yamamoto menunjuk titik putih untuk Persija setelah Arlyansyah Abdulmanan terjatuh. Namun, setelah meninjau VAR, wasit membatalkan hadiah penalti tersebut. Persija akhirnya memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 di menit ke-86 lewat gol Kwon Chang-hoon yang memanfaatkan umpan Victor Dethan.
Alih-alih meluapkan kekecewaan, pelatih Persija, Shin Tae-yong, menunjukkan sikap lapang dada. Ia memberikan apresiasi kepada lawan dan juga wasit.
“Saya ucapkan selamat untuk Persib Bandung. Kedua tim sangat baik dalam kerja keras dengan pemain muda dan bukan skuad utama, tetapi tetap ada kerja kerasnya,” ujar Shin Tae-yong usai pertandingan. “Pastinya skor ini (kalah 1-2) yang tidak saya inginkan. Saya tidak puas dengan itu. Saya juga respek dengan keputusan wasit, dan semuanya,” tambahnya.
Sikap Shin Tae-yong patut diacungi jempol. Pelatih asal Korea Selatan ini secara tidak langsung memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati hasil pertandingan, lawan, dan seluruh perangkat pertandingan.
Piala Presiden 2026 berpotensi besar menjadi teladan bagi perkembangan sepak bola Indonesia, tidak hanya dari sisi kualitas permainan, tetapi juga budaya sportivitas. Setiap pertandingan dapat menjadi sarana edukasi bahwa rivalitas hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan.
Semangat sportivitas juga membawa dampak positif bagi kompetisi nasional. Pertandingan yang bersih akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, menarik minat sponsor, memberikan pengalaman terbaik bagi penonton, dan menginspirasi calon pesepak bola profesional. Dengan menjunjung tinggi sportivitas, sepak bola Indonesia akan semakin dihormati di kancah internasional.
**Piala Presiden Menjaga Integritasnya**
Piala Presiden 2026 mengedepankan transparansi sebagai fondasi utama penyelenggaraan. Seluruh proses, mulai dari pengelolaan anggaran, kerja sama sponsor, hingga pelaksanaan pertandingan, diupayakan berlangsung secara terbuka, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, menegaskan komitmen transparansi ini untuk menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, keterbukaan dalam pengelolaan akan memperkuat integritas kompetisi dan menjadi contoh tata kelola yang baik dalam dunia olahraga.
“Dalam olahraga yang paling penting itu sportivitas. Bagaimana wasitnya, sudah benar, adil? Kalau tidak ada yang merasa tidak adil tolong sampaikan,” kata Maruarar Sirait. “Bagi saya sebagai Ketua Steering Committee, itu Presiden (Prabowo Subianto) berpesan harus fair play, sportif, tidak boleh ada pengaturan skor. Jangan ragu-ragu untuk kasih masukan atau kritik yang apa adanya,” lanjutnya.
Setiap tahun, Piala Presiden juga menjaga integritasnya dengan melibatkan PricewaterhouseCoopers (PwC) sebagai auditor independen. Hasil audit ini menjadi tolok ukur penting dalam menjaga transparansi, sehingga menarik minat sponsor untuk bergabung menyukseskan ajang pramusim ini.
Sebagai hiburan masyarakat, Piala Presiden 2026 rutin menyampaikan hasil TV Rating & Share di media sosial Instagram @officialpialapresiden. Sebagai contoh, pada 1 Agustus 2026, pertandingan Persija Jakarta vs PSMS Medan meraih TVR 2.8% dan Share 24.1%, sementara Persebaya vs Port FC memperoleh TVR 4.5% dan Share 20.0%.
Piala Presiden 2026 diharapkan dapat menjadi teladan penyelenggaraan pertandingan resmi sepak bola nasional. Ajang ini tidak hanya bertujuan melahirkan juara di lapangan, tetapi juga menjadi rujukan standar penyelenggaraan sepak bola Indonesia yang profesional, kredibel, dan bermartabat.





















