Pagi Jumat yang tenang berubah menjadi mimpi buruk di sebuah sekolah bergengsi di pinggir kota Bangkok. Sebuah insiden penembakan mengerikan mengguncang Thailand, menyisakan duka mendalam dan pertanyaan besar tentang keamanan. Seorang siswi kelas tujuh menjadi saksi mata langsung tragedi ini, menceritakan momen mengerikan saat gurunya ditembak di hadapannya.
### Detik-detik Mencekam di Debsirin School
“Saya berdiri di depan guru ketika dia ditembak,” ujar siswi yang terguncang tersebut kepada BBC, di dekat gerbang Debsirin School di Nonthaburi. “Dia sedang berbicara dengan saya ketika [pelaku] muncul.” Mengenakan seragam sekolah, dengan ibunya di sisi, ia menjelaskan bagaimana pelaku menembak dari satu ruangan ke ruangan lain.
Menurut polisi, seorang remaja 14 tahun adalah pelakunya. Ia menewaskan lima guru dan melukai 23 orang, termasuk teman-teman sekolahnya, sebelum akhirnya bunuh diri. Sebelumnya, ia juga menembak kakek-neneknya.
“Saya harus memanjat pagar sekolah untuk melarikan diri bersama teman-teman lain,” lanjut siswi tersebut. Ibunya menambahkan bahwa putrinya sempat berpikir tidak akan selamat. “[Dia berkata] ‘Saya pikir saya tidak akan pernah melihatmu lagi’.”
### Kekacauan dan Kepanikan
Seorang siswa berusia 18 tahun menceritakan kepada Reuters bahwa ia awalnya mengira suara tembakan adalah kembang api. “Saya tidak berpikir itu senjata pada awalnya,” katanya. “Ada banyak tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Lalu dimulai lagi.”
Tim medis segera tiba di lokasi, mengangkut korban luka ke ambulans dan membawanya ke rumah sakit. Kerumunan orang saling berpelukan dan menangis, menunjukkan kepedihan yang mendalam.
Kiatikhun Verapongpradith, seorang pekerja penyelamat berusia 47 tahun, bergegas ke lokasi setelah mendengar ada anak-anak berusia 12 tahun terluka. “Saya melihat siswa yang tertembak, beberapa di lengan, beberapa di punggung, beberapa di dada. Jadi saya bergegas membantu membawa mereka ke rumah sakit terlebih dahulu,” ujarnya kepada kantor berita Reuters.
Seorang guru yang berduka mengungkapkan bahwa temannya juga menjadi korban tewas. “Dia seumuran saya. Kami pergi ke sekolah ini bersama sebagai siswa. Lalu kami berdua menjadi guru di sekolah ini,” kata guru berusia 31 tahun yang tidak ingin disebutkan namanya.
### Misteri Motif dan Latar Belakang Pelaku
Investigasi masih dalam tahap awal, dan polisi belum mengumumkan motif di balik penembakan ini. Mereka menduga pistol 9mm yang digunakan pelaku adalah milik kakeknya. Petugas forensik menemukan bahwa tembakan pelaku “cukup akurat”, dengan beberapa mengenai “titik vital” pada tubuh korban.
Beberapa informasi mulai mengisi kekosongan. Seorang guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa pelaku adalah siswa yang baik, tidak agresif, dan memiliki nilai bagus. Pihak berwenang pendidikan menggambarkannya sebagai seorang gamer yang rajin.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menduga tekanan belajar mungkin berperan. “Kami mengetahui bahwa neneknya adalah seorang guru dan mungkin dia ketat dengannya. Dari apa yang dikumpulkan polisi dari teman dekatnya, mereka tahu dia cukup stres tentang hal itu.”
### Desakan Reformasi Pengendalian Senjata
Tragedi ini menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir, dan yang kedua di sekolah tahun ini. Sebelumnya, pada Februari, seorang kepala sekolah dan seorang siswi ditembak oleh pelaku berusia 18 tahun di Thailand selatan. Empat tahun lalu, 37 orang, sebagian besar anak prasekolah, tewas dalam penembakan dan penusukan di sebuah tempat penitipan anak di provinsi Nong Bua Lamphu.
Kejahatan-kejahatan ini kembali memicu pertanyaan tentang pengendalian senjata di negara tersebut. “Ini seharusnya tidak terjadi,” kata kekasih salah satu guru yang tewas kepada wartawan, dengan suara tertekan dan berusaha menahan tangis.
Diperkirakan lebih dari tujuh juta orang memiliki senjata di Thailand, salah satu tingkat kepemilikan tertinggi di dunia. Dari jumlah tersebut, lebih dari satu juta adalah pemilik tanpa izin. Meskipun ada pembatasan izin senjata, masyarakat masih dapat memperoleh senjata, baik secara legal maupun ilegal, dengan relatif mudah. Pasar gelap berkembang pesat, dibantu oleh perbatasan darat Thailand yang rentan dengan empat negara lain. Masalah korupsi dan regulasi yang longgar di kepolisian dan militer menyebabkan senjata jatuh ke tangan yang salah.
Perdana Menteri Anutin menyatakan bahwa ia telah memperketat peraturan saat menjabat menteri dalam negeri tiga tahun lalu, dengan menangguhkan izin senjata baru. Namun, kejahatan senjata tetap merajalela, dengan angka kematian akibat tembakan termasuk yang tertinggi di kawasan ini. Beberapa pihak mendesak tindakan yang lebih besar.
“Tindakan kekerasan di institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi salah satu tempat teraman di masyarakat kita, menjadi pengingat yang jelas bagi masyarakat Thailand untuk secara serius dan sistematis meninjau langkah-langsi pengendalian senjata,” tulis Natthaphong Ruengpanyawut, pemimpin Partai Rakyat, sebuah partai oposisi, dalam sebuah unggahan Facebook.





















