Kementerian Luar Negeri Iran membela serangan balasan terhadap target AS di kawasan itu, menyebutnya sebagai tindakan defensif yang sah.
Juru bicara Esmaeil Baghaei menekankan hak Iran untuk membela diri dari serangan Israel dan AS.
Serangan AS dan Israel menargetkan beberapa kota di Iran, termasuk Teheran, yang menurut Presiden AS Donald Trump sebagai “operasi tempur besar”.
Media Iran melaporkan setidaknya 201 orang tewas akibat serangan tersebut.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Israel dan target militer AS di Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan UEA.
Baghaei menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran membela kedaulatan nasional terhadap agresi.
Serangan ini terjadi setelah negosiasi tidak langsung putaran ketiga tentang program nuklir Iran berakhir pada hari Jumat.
Baghaei menyayangkan bahwa perundingan damai digagalkan oleh serangan ke Iran.
Ia menyebutkan bahwa AS meluncurkan agresi terhadap anggota PBB, mengancam badan internasional dan hukum internasional.
Baghaei membela serangan balasan Iran di berbagai negara di kawasan itu.
Ia menegaskan bahwa setiap dukungan logistik kepada agresor adalah target yang sah bagi negara korban.
“Kami tidak menyerang negara mana pun di kawasan ini. Kami bersahabat dengan semua negara di kawasan itu. Apa yang kami lakukan hanyalah mengambil tindakan defensif,” katanya.
Ia menambahkan bahwa AS melakukan perang agresi dengan mengorbankan semua orang, termasuk negara-negara di kawasan itu.





















