Jakarta – Timnas Spanyol menutup perjalanan epik di Piala Dunia 2026 dengan status juara dunia setelah mengalahkan Argentina di final yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu mengunci kemenangan 1-0 untuk La Furia Roja, sekaligus mengukir sejarah baru bagi sepakbola Spanyol. Namun, kabar gembira yang dibawa pulang para pemain nampaknya tidak sekelas trofi yang mereka genggam.
Sebelum turnamen dimulai, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) dan PT Pemain Timnas meneken kesepakatan terkait pembagian hadiah juara. Setiap pemain berhak atas pembagian 45 persen dari total uang pembinaan 44 juta euro yang disediakan FIFA untuk negara peserta yang menjadi kampiun. Dari jumlah tersebut, sekitar 19,8 juta euro dibagi rata kepada 26 pemain yang tercatat dalam skuad utama. Secara teori, tiap orang berhak menerima sebagian sebesar 754.701,92 euro atau ekuivalen dengan sekitar Rp 15,4 miliar.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa nominal besar tersebut tidak sepenuhnya akan menjadi milik para pemain. Alhasil, mereka hanya akan menerima sekitar separuh dari angka bruto yang tercantum dalam kesepakatan. Pengurangan besar-besaran ini disebabkan oleh kewajiban perpajakan yang berlaku di Spanyol. Delapan belas pemain yang merupakan bagian dari klub-klub liga dalam negeri dipaksa membayar pajak penghasilan progresif yang tarifnya tergantung wilayah domisili klub mereka. Jam terbang yang tinggi, gaji besar, dan situasi kontrak menjadi penentu tarif pajak yang harus ditanggung.
Di kota Madrid, misalnya, tarif pajak maksimal berada di angka 45 persen. Sementara di wilayah Basque Country, angka itu bisa menjangkau 49 persen. Di Katalonia, tarif maksimal berada di rentang 47 hingga 49,5 persen. Perbedaan wilayah ini menciptakan ketimpangan bersih yang cukup signifikan antar pemain, meskipun mereka sama-sama merasakan manisnya gelar dunia. Setelah kewajiban pajak terpenuhi, perkiraan net bonus yang masuk ke rekening masing-masing pemain berkisar antara 353.500 hingga 385.000 euro.
Jika dihitung secara menyeluruh, total pendapatan pajak yang bisa diterima kas negara Spanyol dari para pemain ini diperkirakan mencapai sekitar 5 juta euro. Jumlah tersebut merupakan tambahan bagi perbendaharaan dan diharapkan bisa dialokasikan untuk dana pembinaan olahraga dan pendidikan. Sementara itu, para pemain mencatatkan kekecewaan tersendiri, karena besar hadiah yang seharusnya menjadi imbalan atas perjuangan fisik dan mental selama sebulan bertanding kini menyerupai sekadar skema bagi hasil negara.
Bagi pemain yang berkarier di luar Spanyol, seperti Rodri yang kini membela Manchester City, David Raya di Arsenal, atau Mikel Merino yang juga berlaga di luar negeri, perhitungan pajak mereka lebih kompleks. Di samping peraturan pajak negara domisili klub, terdapat pula perjanjian penghindaran pajak berganda yang ikut menentukan berapa besar jumlah yang seharusnya disetorkan. Lewat perjanjian bilateral antara Spanyol dan Inggris, misalnya, Rodri mungkin hanya dikenakan pajak di Inggris, atau dibagi sesuai peraturan OECD. Namun, peraturan tambahan seputar turnamen internasional juga ikut menyulitkan estimasi akhir.
Tarik-menarik untuk melihat bagaimana struktur hadiah Piala Dunia berkembang dari waktu ke waktu. Ketika Spanyol pertama kali memenangkan gelar pada tahun 2010, bonus kotor per pemain hanya sekitar 600.000 euro, jauh dari angka 754.000 euro yang tercantum pada 2026. Namun, magic number adalah tarif pajak tertinggi yang sempat mencapai 43 persen pada saat itu. Di saat hadiah bertambah besar, beban pajak juga bertambah berat. Dua hal ini mencerminkan kebijakan fiskal yang berbeda di setiap era, sekaligus menambah beban bagi para pemain untuk benar-benar mendapatkan bagian terbesar dari hasil turnamen.
Perayaan kemenangan Timnas Spanyol di ibu kota Madrid berlangsung luar biasa ribut. Jutaan pengunjuk warna merah membelah jalanan, menciptakan lautan manusia yang disapu gairah sepakbola. Konser spontan, kembang api, dan sorakan “Viva España!” mengoyak kesunyian malam hari. Presiden federasi serta banyak tokoh negara turut menyambut para pemain dengan ulahStatusCode di lapangan upacara. Mereka memakai kaos bertuliskan “Champions of the World” sembari melambaikan bendera merah- kuning.
Di tengah kegembiraan itu, para striped player tetap berpapasan dengan realitas keuangan yang tidak terlalu menyenangkan. Banyak di antara mereka juga mengaku bahwa simbol dari gelar dunia lebih berharga daripada materi, apalagi uang itu hanya akan sekedar menambah tabungan. Namun, perdebatan seputar pembagian hadiah serta pembebanan pajak yang terlalu tinggi terus menjadi sorotan utama sejak final pun berakhir.
Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang kelanjutan struktur hadiah dalam olahraga dunia. Apakah FIFA harus menambah nilai total hadiah? Apakah perlu ada regulasi khusus untuk mencegah kerusakan besar bagi pemain akibat perpajakan di negara tuan rumah? Jika tidak, tidak menutup kemungkinan turnamen besar seperti Piala Dunia ke depannya akan menuai kritikan keras dari serikat-serikat pemain internasional.
Transformasi besar yang dialami sepakbola dunia membuat turnamen ini bukan sekadar cabor untuk meraih trofi, melainkan juga ajang bisnis miliaran dollar. Namun, pada akhirnya, kita kembali ke fakta bahwa sepakbola dimainkan oleh manusia yang juga membutuhkan keadilan finansial yang layak. Mungkin saatnya bagi lembaga induk untuk mengevaluasi ulang mekanisme hadiah agar lebih setara dan berhumanis.




















