Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan mencapai titik didih setelah Pakistan melancarkan serangan udara ke Kabul dan kota-kota lain di Afghanistan. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan bahwa kesabaran Islamabad telah habis terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan dan kedua negara kini berada dalam “perang terbuka”.
Pernyataan ini muncul setelah juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengklaim bahwa Afghanistan melakukan operasi ofensif skala besar terhadap militer Pakistan di sepanjang Garis Durand, yang menjadi garis perbatasan kedua negara.
Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Pakistan dan pemerintahan Taliban Afghanistan sejak kelompok tersebut kembali berkuasa pada tahun 2021. Pakistan menuduh Taliban melindungi kelompok-kelompok bersenjata seperti Taliban Pakistan (TTP), yang melakukan serangan di wilayah Pakistan.
Pada hari Jumat, pejabat Pakistan mengatakan bahwa pasukan Afghanistan menyerang posisi militer dekat perbatasan, mendorong Islamabad untuk meluncurkan serangan udara ke sasaran di dalam Afghanistan. Serangan itu menyasar Kabul, Provinsi Paktia, dan Kandahar. Pakistan mengklaim telah menghancurkan sejumlah lokasi Taliban, termasuk markas brigade dan depot amunisi.
Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, mengklaim bahwa 133 pasukan Taliban Afghanistan tewas dan lebih dari 200 lainnya luka-luka dalam serangan tersebut. Sementara itu, Taliban mengatakan hanya delapan pejuang mereka yang tewas dan 11 lainnya luka-luka.
Afghanistan menyatakan bahwa serangan mereka terhadap pangkalan militer Pakistan adalah balasan atas serangan Pakistan sebelumnya. Afghanistan mengklaim telah menewaskan 55 tentara Pakistan dan merebut dua pangkalan militer.
Mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, menyerukan persatuan dan keberanian dalam menghadapi agresi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak kedua negara untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog. Rusia juga menawarkan diri sebagai mediator.
Konflik ini merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pada Oktober 2025, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata, tetapi pembicaraan selanjutnya gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Garis Durand, yang menjadi perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, tidak diakui secara formal oleh Afghanistan. Mereka berpendapat bahwa perbatasan tersebut merupakan demarkasi kolonial yang memecah wilayah etnis Pashtun.
Analis menilai bahwa Afghanistan tidak mungkin mengambil tindakan terhadap kelompok-kelompok bersenjata karena adanya kedekatan antara Taliban Afghanistan dan TTP. Beberapa pihak khawatir eskalasi akan terus berlanjut jika Taliban tidak menindak TTP.
India mengutuk serangan udara Pakistan dan menyebutnya sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi hukum internasional.
Dengan situasi yang terus memanas, masa depan hubungan Afghanistan dan Pakistan masih belum pasti. Upaya dialog dan mediasi dari pihak ketiga sangat diperlukan untuk mencegah konflik yang lebih besar.
Seperti yang dilansir dari Al Jazeera, perang terbuka antara kedua negara akan merugikan Afghanistan, yang tidak memiliki kekuatan militer sebanding dengan Pakistan.





















