Veteran Siber Mikko Hyppönen Beralih ke Anti-Drone Setelah Puluhan Tahun Melawan Malware

BeritaInternasionalTeknologi
Views: 11

Mikko Hyppönen, seorang tokoh veteran di dunia keamanan siber, kini menghadapi tantangan baru: memerangi ancaman drone. Setelah lebih dari 35 tahun bergelut dengan malware, ia mengalihkan fokusnya untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya yang ditimbulkan oleh drone.

Hyppönen memulai kariernya di era ketika istilah “malware” belum umum. Saat itu, ancaman digital lebih dikenal sebagai virus komputer atau trojan. Internet pun masih menjadi barang langka, dan penyebaran virus seringkali mengandalkan disket.

Selama perjalanan kariernya, Hyppönen telah menganalisis ribuan jenis malware. Ia juga dikenal sebagai salah satu suara yang paling dihormati di komunitas keamanan siber, berkat presentasinya di berbagai konferensi di seluruh dunia.

Keputusan Hyppönen untuk beralih ke anti-drone didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Ia percaya bahwa dengan memerangi drone, ia dapat memberikan dampak yang lebih besar dalam melindungi masyarakat.

Menurutnya, industri keamanan siber telah membuat kemajuan besar dalam dua dekade terakhir. Namun, aspek keamanan siber dalam peperangan drone masih merupakan wilayah yang belum dipetakan.

Hyppönen memulai petualangannya di dunia keamanan siber dengan meretas video game pada tahun 1980-an. Kecintaannya pada bidang ini tumbuh dari upayanya untuk merekayasa balik perangkat lunak dan menghilangkan perlindungan anti-pembajakan dari komputer Commodore 64.

Saat ini, Hyppönen menjabat sebagai chief research officer di Sensofusion, sebuah perusahaan yang mengembangkan sistem anti-drone untuk lembaga penegak hukum dan militer. Ia melihat adanya kesamaan antara memerangi malware dan memerangi drone.

Dalam memerangi malware, perusahaan keamanan siber menggunakan mekanisme yang disebut sebagai signature untuk mengidentifikasi dan memblokir ancaman. Sementara itu, pertahanan terhadap drone melibatkan pembangunan sistem yang dapat menemukan dan mengganggu drone radio, serta mengenali frekuensi yang digunakan untuk mengendalikan kendaraan otonom tersebut.

Hyppönen menjelaskan bahwa drone dapat diidentifikasi dan dideteksi dengan merekam frekuensi radio mereka, yang dikenal sebagai sampel IQ. Dari sana, protokol drone dapat dideteksi dan signature dapat dibangun untuk mendeteksi drone yang tidak dikenal.

Selain itu, jika protokol dan frekuensi yang digunakan untuk mengendalikan drone terdeteksi, serangan siber juga dapat dilancarkan terhadapnya. Serangan ini dapat menyebabkan sistem drone mengalami kerusakan dan jatuh ke tanah.

Hyppönen menekankan bahwa strategi dalam memerangi malware dan drone tidak jauh berbeda. Permainan kucing dan tikus, di mana pihak bertahan terus berupaya menghentikan ancaman dan pihak penyerang terus mencari cara untuk melewati pertahanan, tetap menjadi inti dari kedua bidang ini.

Bahkan, identitas musuh pun tidak berubah. Hyppönen mengungkapkan bahwa ia telah menghabiskan sebagian besar kariernya untuk memerangi serangan malware dari Rusia, dan kini ia menghadapi ancaman serangan drone dari negara yang sama.

Dengan pengalamannya yang luas di bidang keamanan siber, Hyppönen berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam melindungi masyarakat dari ancaman drone yang semakin meningkat.

Tags: Drone, Keamanan Siber, Malware

You May Also Like

Prabowo Disambut Raja Yordania di Istana Basman
Pengguna Claude Code Harus Bayar Ekstra untuk OpenClaw

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan