Proyek LNG Masela Resmi Dimulai, Prabowo Targetkan Rampung dalam Waktu Singkat

BisnisPolitik
Views: 12

Jakarta – Sejarah baru ditorehkan di industri energi Indonesia. Pada Kamis 16 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto secara resmi memulai pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Gas Alam Cair (LNG) Abadi Blok Masela melalui prosesi groundbreaking yang digelar secara virtual dari Istana Merdeka, Jakarta.

Proyek yang sudah terkatung selama 28 tahun sejak era Presiden BJ Habibie ini akhirnya mendapatkan kemudahan berjalannya. Presiden Prabowo menekankan bahwa pembangunan tidak boleh terhambat dan harus diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Alhamdulillah hari ini mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya,” kata Prabowo dalam sambutannya.

Ditelusuri, Blok Masela berada di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat. Lokasi ini cukup unik karena terletak sekitar 12 mil dari pulau terdekat dan berkedalaman 400 hingga 800 meter. Wilayah ini juga berbatasan langsung dengan laut Indonesia-Australia, dengan seluruh blok berada di dalam wilayah NKRI.

Proyek ini ditangani oleh konsorsium internasional dengan INPEX Corporation sebagai operator utama. Susunan kepemilikan sahamnya adalah INPEX Masela 65 persen, Pertamina Hulu Energi Masela 20 persen, dan Petronas Masela 15 persen. Perubahan struktur ini terjadi setelah Shell menarik diri pada 2023.

Proyek LNG Abadi Masela dibangun dengan nilai investasi total mencapai USD 20,95 miliar atau setara dengan Rp 377 triliun. Angka tersebut termasuk USD 1 miliar khusus untuk pengembangan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) yang merupakan bagian dari komitmen lingkungan. Proyek ini menjadi salah satu investasi energi terbesar di Indonesia dalam dekade terakhir dan diharapkan menjadi model kerja sama energi transisi di kawasan Asia Pasifik.

Kapasitas produksi yang diantisipasi sangat masif. Proyek ini mampu menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, ditambah dengan kondensat mencapai 35.000 barel per hari dan gas alam sekitar 150 juta kaki kubik per hari untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maupun ekspor. Pabrik pengolahan akan dibangun di Pulau Yamdena dengan dua unit produksi masing-masing berkapasitas 4,75 juta ton per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proyek ini mengalami perdebatan panjang selama 28 tahun. Permasalahan utama adalah lokasi proyek di lepas pantai (offshore) atau di daratan (onshore). “Pada hari ini, tepat pada tanggal 16 Juli 2026 kita menandai babak baru Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah enam presiden, Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa mengeksekusi hari ini,” jelas Bahlil dalam kesempatan yang sama.

Pembangunan fasilitas ini juga menjadi angin segar bagi sektor ketenagakerjaan lokal. Diperkirakan proyek ini akan menyerap ribuan tenaga kerja selama fase konstruksi dan beroperasi. Saat beroperasi nanti, sekitar 1.000 hingga 1.500 karyawan akan ditampatkan secara langsung. Pemerintah pusat dan daerah berkomitmen menyiapkan program pelatihan khusus agar masyarakat Maluku dapat ikut berperan dalam proyek strategis nasional ini.

Teknologi yang digunakan juga menjadi sorotan utama. Sistem CCS (Carbon Capture Storage) yang diinvestasikan sebesar USD 1 miliar akan menangkap karbon dioksida dari proses produksi dan menyimpannya kembali ke lapangan bawah laut. Langkah ini sejalan dengan target netralitas karbon nasional dan komitmen global dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor energi.

Fasilitas produksi akan berpusat pada FPSO (Floating Production Storage and Offloading) yang memproses gas mentah di tengah laut sebelum dialirkan ke pabrik melalui pipa gas export sepanjang kurang lebih 80 kilometer. Pipa CO2 untuk injeksi CCS juga akan dipasang secara paralel. Kedalaman laut yang ekstrem antara 400 hingga 800 meter menuntut standar keselamatan operasional yang sangat tinggi.

Tim proyek INPEX Corporation bekerja sama dengan Pertamina dan Petronas telah menyusun rencana konstruksi lima tahap. Tahap pertama mencakup pembangunan fasilitas bawah laut dan pengoperasian awal subsea wellhead. Tahap kedua hingga kelima akan fokus pada pembangunan FPSO, instalasi pipa, dan kontruksi pabrik onshore di Pulau Yamdena.

Dengan keberhasilan proyek ini, Indonesia diharapkan menjadi pemain penting dalam pasar energi global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan produksi perdana dapat mulai dijajal pada 2029. Proyek ini juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah untuk terus mendorong investasi infrastruktur strategis demi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Lebih jauh, keberhasilan eksekusi proyek Masela diharapkan membuka jalan bagi investasi LNG dan energi hijau lainnya di kawasan Timur Indonesia. Hal ini seiring dengan upaya pemerintah mendiversifikasi sumber energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, serta memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah persaingan geopolitik energi global.

Tags: Pertamina, Prabowo Subianto, Proyek Masela

You May Also Like

Adopsi AI di Indonesia Meroket, Perusahaan Besar Masih Tersisih
Prabowo Resmikan Proyek LNG Abadi Masela di Tanimbar, Tegaskan Kesehatan dan Guru Jadi Prioritas Anggaran

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan