Vendor smartphone asal China, OnePlus, secara resmi mengumumkan penghentian operasional di wilayah Amerika Utara dan Eropa. Perusahaan memastikan bahwa mereka tidak lagi meluncurkan produk baru di kedua kawasan maju tersebut. Langkah ini menandai pergeseran strategi bisnis yang signifikan bagi merek yang selama ini dikenal sebagai pesaing berat Apple dan Samsung di segmen perangkat flagship.
Dengan penghentian peluncuran produk baru ini, OnePlus bertemu dengan tantangan tersendiri untuk menjaga loyalitas pengguna di wilayah tujuan. Tanpa inovasi produk baru yang ditawarkan secara periodik, merek ini berisiko kehilangan relevansi di mata konsumen. Namun, pernyataan resmi dari perusahaan menekankan bahwa komitmen terhadap layanan purna jual akan tetap menjadi prioritas utama.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (17/7/2026), OnePlus menjelaskan bahwa penghentian peluncuran produk baru merupakan bagian dari penyesuaian strategi global secara proaktif. “Sebagai bagian dari penyesuaian strategi global secara proaktif, OnePlus telah memutuskan untuk mengakhiri peluncuran produk baru di Eropa dan Amerika Utara,” bunyi pernyataan resmi perusahaan. Keputusan ini menutup rumor-rumor yang beredar sejak awal tahun tentang masa depan merek di kawasan Barat.
Meskipun tidak lagi menghadirkan produk baru, perusahaan menegaskan bahwa pengguna yang sudah memiliki perangkat OnePlus tidak akan merasakan dampak negatif. Layanan pelanggan, dukungan garansi, dan pembaruan software akan tetap berjalan normal. Perangkat yang sudah beredar juga akan tetap menerima patch keamanan sesuai jadwal yang ditentukan. Artinya, konsumen yang sudah berinvestasi pada perangkat OnePlus tidak akan ditinggal dan tetap mendapatkan perlindungan layanan purna jual yang lengkap.
Berita ini juga menutup perdebatan yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026. Sebelumnya, OnePlus sempat membantah keras rumor bahwa mereka akan menarik diri dari pasar Barat. Perusahaan pada waktu itu menegaskan bahwa operasional di Amerika Utara tetap berjalan normal dan tidak ada rencana penutupan. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa laporan tersebut ternyata benar dan perusahaan akhirnya tidak bisa menyangkal lagi setelah pengumuman resmi dirilis.
Salah satu dampak langsung dari keputusan ini terasa di kalangan komunitas pengguna setia di Amerika Utara. Situs web dan aplikasi OnePlus Community akan ditutup permanen mulai 16 Agustus 2026 pukul 23.59 waktu Eastern Time. Forum resmi ini selama ini menjadi wadah penting bagi pengguna untuk berdiskusi, berbagi tips, melaporkan bug, dan mendapatkan informasi seputar produk terbaru. Penutupan ini berarti para pengguna di wilayah Amerika Utara kehilangan ruang resmi untuk berinteraksi meskipun perangkat mereka tetap bisa dipakai.
Di Eropa, situasi masih berbeda. OnePlus Community dan toko resmi di Eropa masih tetap beroperasi untuk sementara waktu, meskipun perusahaan belum mengungkap sampai kapan keduanya akan dipertahankan. Ini menunjukkan bahwa pasar Eropa mungkin masih mendapat perhatian tertentu meskipun tidak ada produk baru yang direncanakan.
Selain berhenti meluncurkan produk baru, OnePlus juga mengumumkan perubahan besar pada sistem operasi perangkat mereka. Seluruh perangkat yang memenuhi syarat akan beralih dari OxygenOS ke ColorOS melalui pembaruan Android 17. Perubahan ini menyelaraskan ekosistem perangkat OnePlus dengan strategi grup BBK Electronics, induk perusahaan yang juga menaungi Oppo dan Realme. Integrasi ini menjadi salah satu bukti solid bahwa OnePlus kini tidak lagi berjalan mandiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Di tengah pengurangan kehadiran di pasar Barat, OnePlus memastikan bahwa pasar India tetap menjadi poros utama operasional mereka. Bahkan, perusahaan berjanji akan terus meluncurkan produk baru di sana, termasuk OnePlus N6x yang sedang dipersiapkan. India kini menjadi pasar smartphone terbesar dan pertumbuhan tercepat di dunia, menjadikannya target utama bagi merek-merek China yang ingin mengamankan pangsa pasar global.
Pergeseran pasar ini tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa latar belakang. Sejak pandemi COVID-19 melanda, fokus bisnis OnePlus perlahan bergeser ke pasar Asia. Perusahaan juga semakin dekat dengan Oppo, induk konglomerat teknologi asal China yang juga memiliki Realme. Kabar bahwa OnePlus dan Realme akan disatukan dalam strategi grup semakin mengonfirmasi bahwa mereka kini bergerak sebagai satu kesatuan yang koheren.
Dengan kabar ini, pasar Amerika Utara dan Eropa kehilangan salah satu merek yang selama ini dikenal menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga kompetitif. Konsumen di kawasan tersebut kini harus kembali mengandalkan merek lain untuk perangkat flagship dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, bagi pengguna existing di kedua wilayah, layanan purna jual tetap dijamin sampai batas waktu yang belum diumumkan lebih lanjut.
Apakah langkah OnePlus ini akan membawa mereka pada fase pertumbuhan baru di pasar India, atau justru mempertaruhkan eksistensi global mereka? Waktu akan menjadi saksi. Bagi pengguna Indonesia, langkah ini juga menjadi perhatian karena OnePlus selama ini dikenal sebagai alternative dari Samsung dan Apple yang lebih murah.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan KompasTekno dan ArsTechnica.



















