Dampak Penutupan Bab al-Mandeb dan Hormuz pada Perdagangan Global

BisnisInternasionalPolitik
Views: 6

Penutupan Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan berdampak besar pada perdagangan global. Penutupan kedua jalur strategis ini dapat memblokir seperempat pasokan minyak dan gas dunia. Selain energi, sekitar 10% perdagangan global melewati Bab al-Mandeb, termasuk pengiriman kontainer dari Asia ke Eropa.

Ancaman penutupan Bab al-Mandeb muncul dari penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, yang menyatakan bahwa sekutu Iran dapat menutup jalur tersebut seperti yang telah dilakukan dengan Selat Hormuz. Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan sangat penting untuk perdagangan minyak global.

Jika Bab al-Mandeb ditutup, dampaknya akan meluas ke krisis energi global dan memperdalam kekacauan ekonomi. Selat ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak Saudi ke Asia. Selain itu, negara-negara Teluk lainnya juga menggunakan jalur ini untuk ekspor minyak mentah, gas, dan bahan bakar ke Eropa melalui Terusan Suez.

Pada tahun 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk petroleum olahan melewati Bab al-Mandeb, atau sekitar 5% dari total global. Arab Saudi semakin mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk pengiriman minyak melalui Bab al-Mandeb.

Houthi di Yaman telah menunjukkan kemampuan untuk memblokade Bab al-Mandeb, seperti yang mereka lakukan selama perang Israel di Gaza. Serangan terhadap kapal-kapal komersial dapat menghentikan pengiriman melalui Laut Merah.

Penutupan Bab al-Mandeb akan menciptakan “skenario mimpi buruk” yang dapat melumpuhkan perdagangan ke Eropa jika terjadi bersamaan dengan pembatasan di Selat Hormuz.

Indonesia perlu mewaspadai dampak penutupan Selat Bab al-Mandeb, yang akan lebih serius daripada penutupan Selat Hormuz. Sekitar 12% perdagangan dunia melewati selat ini, menjadikannya rute tercepat dari Asia ke Eropa dan Afrika.

Penutupan Bab al-Mandeb dapat menambah waktu perjalanan hingga 15 hari dan meningkatkan biaya logistik untuk impor dan ekspor. Ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 13,4% dari total ekspor pada Januari 2026.

Harga minyak dapat menembus 120 dolar AS per barel jika selat ditutup, menyebabkan inflasi impor pada pangan dan energi. Krisis pupuk juga dapat terjadi karena bahan baku pupuk melewati jalur ini. Pemerintah Indonesia perlu melobi Yaman dan Iran agar kapal kargo Indonesia tidak dihambat.

Pemerintah juga harus mengantisipasi kenaikan biaya logistik dan risiko keamanan yang lebih tinggi. Gangguan di Selat Bab al-Mandeb berpotensi menekan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

Penutupan Selat Bab el-Mandeb akan memicu kepanikan di pasar global dan memaksa kapal tanker minyak memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, menambah waktu pengiriman dan biaya.

Situasi yang semakin sensitif ini membuat Angkatan Laut Eropa meningkatkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan AS atau Israel dan mendesak kapal komersial untuk menjauhi perairan Yaman.

Ansarullah Yaman telah menyatakan keberpihakannya kepada Iran dalam konflik ini, meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap jalur perdagangan global.

Tags: Bab al-Mandeb, Perdagangan Global, Selat Hormuz

You May Also Like

Pembuat Spyware Bryan Fleming Lolos dari Penjara, Hanya Didenda
Ulasan Google Gemini di Google Maps: Asisten Perjalanan yang Cerdas?

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan