Kritikan Pedas dari Partai Republic Usai Trump Teken Kesepakatan Damai dengan Iran

InternasionalPolitik
Views: 1

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi kritik keras dari dalam partainya sendiri setelah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran di Prancis pada Rabu, 17 Juni 2026. Beberapa senator Partai Republik mengeluarkan pernyataan tegas, memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut jauh dari kemenangan besar yang pernah dijanjikan dan berpotensi membuat Iran semakin kuat serta berbahaya bagi kawasan Timur Tengah.

MoU yang ditandatangani Trump bertujuan mengakhiri konflik militer yang telah berlangsung antara AS dengan Iran, membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan vital, serta menstabilkan pasar energi global. Perang tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia yang signifikan, sehingga langkah diplomasi ini dinilai penting untuk menjaga kestabilan ekonomi global.

Meskipun tujuan awal terlihat mulia, senator Republik Bill Cassidy tidak ragu mengecam kesepakatan ini sebagai kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Dalam unggahan di platform X, Cassidy menyoroti kontras antara kondisi sebelum perang dan kondisi sekarang setelah kesepakatan ini disepakati. Ia mencatat bahwa sebelum perang, Selat Hormuz tetap terbuka, Iran berada di bawah tekanan berat sanksi internasional, dan lebih sedikit korban jiwa AS yang gugur.

Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, juga memberikan reaksi negatif dengan mengatakan bahwa MoU ini sama sekali tidak sesuai dengan tujuan awal yang dicanangkan oleh pemerintahan Trump. Dia menekankan pada pencabutan sanksi dan dana rekonstruksi sebesar 300 juta dolar AS yang diberikan kepada Iran sebagai imbalan atas komitmen negosiasi selama 60 hari ke depan.

Senator dari Texas, John Cornyn, menambahkan kekhawatiran bahwa kesepakatan ini hanyalah jeda sementara yang membiarkan Iran memperkuat kembali arsenal militernya. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa dengan berakhirnya bombardiran dan pencabutan sanksi, Iran akan memiliki waktu dan sumber daya untuk melanjutkan program pengayaan uranium serta mengembangkan rudal balistiknya.

Partai Demokrat juga menampilkan posisi solid menentang kesepakatan ini. Mereka menilai bahwa Trump melancarkan perang dengan biaya besar hanya untuk kemudian menerima kesepakatan yang sebagian besar mengembalikan status quo sebelum konflik dimulai. Menurut Chuck Schumer, pemimpin Partai Demokrat di Senat, apa yang dilakukan Trump di Iran adalah seni mendesak bencana, bukan seni bernegosiasi.

Di tengah gelombang kritik dari berbagai kubu, Trump membela kesepakatan tersebut dengan menyebutnya sebagai langkah praktis untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur laut ini biasanya dilalui sekitar seperlima total minyak mentah yang disalurkan ke pasar dunia, sehingga pembukaan kembali jalur ini dinilai penting bagi kelancaran pasokan energi global.

Trump juga menegaskan bahwa kesepakatan ini masih bisa berubah. Pemerintah AS masih mempertahankan opsi untuk melanjutkan serangan militer jika upaya negosiasi pada tahap berikutnya gagal mencapai komitmen yang lebih konkret dari pihak Iran. Dengan demikian, situasi terlihat tetap dipenuhi ketidakpastian meskipun ada upaya diplomasi yang sedang berlangsung.

Tags: Iran, Trump

You May Also Like

AS Kembali Serang Target Iran di Selat Hormuz, Eskalasi Militer Ancam Pelayaran Global

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan