Presiden AS, Donald Trump, menyatakan preferensinya menyelesaikan perbedaan dengan Iran melalui diplomasi. Namun, ia juga menuduh Iran mengembangkan rudal yang bisa mencapai AS.
Pernyataan ini memicu respons keras dari pemerintah Iran menjelang perundingan tidak langsung di Jenewa.
Trump menuduh Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya yang terkena serangan AS tahun lalu.
Ia juga mengklaim bahwa Iran bertanggung jawab atas kematian ribuan demonstran selama aksi anti-pemerintah baru-baru ini.
Trump menyebut rezim Iran dan proksinya menyebarkan teror, kematian, dan kebencian.
Komentar Trump muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.
Perundingan di Jenewa akan dihadiri oleh utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta pejabat Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Trump melakukan ‘kebohongan besar’.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan optimisme terkait perundingan yang akan datang.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, menegaskan komitmen Iran pada negosiasi.
Namun, ia memperingatkan bahwa Iran siap membalas jika AS kembali menggunakan aksi militer.
Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan dengan AS untuk menghindari konflik ‘dapat dicapai’.
Hassan Mneimneh dari Middle East Institute berpendapat bahwa komentar Trump bertujuan untuk meningkatkan dukungan domestik terhadap operasi militer terhadap Iran.





















