Abbas Araghchi, diplomat top Iran, telah meninggalkan Islamabad menuju Moskow. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk melakukan pembicaraan dengan ‘pejabat senior’ di Moskow.
Perjalanan ini dilakukan di tengah harapan mediator untuk menjaga kemungkinan perundingan lebih lanjut antara Teheran dan Washington.
Sebelum ke Rusia, Araghchi sempat mengunjungi Muscat, Oman, di antara kunjungannya ke Pakistan. Namun, belum ada indikasi bahwa perundingan langsung antara Iran dan Amerika Serikat akan berlanjut.
Kantor berita Fars melaporkan bahwa Iran telah menyampaikan ‘pesan tertulis’ kepada Amerika melalui mediator Pakistan. Pesan tersebut berisi tentang ‘beberapa garis merah Republik Islam Iran, termasuk isu nuklir dan Selat Hormuz’.
Namun, Fars menekankan bahwa pesan-pesan ini bukanlah bagian dari negosiasi.
Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata yang telah disepakati antara Washington dan Teheran sejak 7 April. Gencatan senjata ini menghentikan pertempuran yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Meskipun demikian, penyelesaian permanen masih belum tercapai, dan dampak ekonomi dari perang terus terasa di seluruh dunia.
Iran telah memblokade Selat Hormuz, yang mengakibatkan terganggunya pasokan minyak, gas alam, dan pupuk ke pasar global, serta menyebabkan kenaikan harga. AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai respons.
Sebelumnya, ada harapan untuk putaran perundingan baru pada hari Sabtu. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan mengunjungi Islamabad. Namun, Trump membatalkan perjalanan tersebut, dengan alasan tidak ada gunanya ‘duduk dan berbicara tentang hal yang tidak penting’.
Trump menyatakan bahwa AS memiliki semua kartu dan jika Iran ingin berbicara, mereka bisa datang atau menghubungi AS.
Araghchi bertemu dengan kepala militer Pakistan, Asim Munir, serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar sebelum terbang ke Muscat dan kembali ke Islamabad.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengkonfirmasi kunjungan Araghchi ke Moskow, tetapi tidak menyebutkan apakah dia akan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.
Di tengah kesibukan pertemuan, Araghchi menyuarakan skeptisisme atas niat Washington, dengan mengatakan bahwa dia ‘belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi’.





















