Gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah gangguan pencernaan kronis di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan, menyebabkan sensasi terbakar di dada. Kondisi ini sebenarnya wajar terjadi sesekali, namun jika berulang, refluks asam lambung dapat berkembang menjadi GERD dan merusak dinding esofagus.
Gejala GERD seringkali mirip dengan gangguan pencernaan lain seperti gastritis atau tukak lambung, sehingga sulit dikenali. Salah satu ciri khasnya adalah rasa asam atau pahit di mulut akibat naiknya isi lambung. Gejala lain meliputi sensasi terbakar di dada, kesulitan menelan, batuk kronis, dan suara serak.
GERD terjadi ketika otot sfingter esofagus bagian bawah (LES) melemah. LES berfungsi sebagai katup antara kerongkongan dan lambung, mencegah isi lambung naik kembali. Pada penderita GERD, LES sering mengendur pada waktu yang tidak tepat, memungkinkan asam lambung mengalir balik ke kerongkongan.
Meskipun GERD sering dianggap sebagai penyakit orang tua, studi menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda juga rentan. Kebiasaan seperti konsumsi makanan cepat saji, minuman berkafein tinggi, dan begadang dapat mengganggu sistem pencernaan dan meningkatkan risiko GERD.
Pencegahan GERD melibatkan perubahan gaya hidup. Perbaiki pola makan dengan makan teratur, tepat waktu, dan tidak terburu-buru. Konsumsi makanan dalam porsi kecil namun sering, dan hindari makan dua hingga tiga jam sebelum tidur. Hentikan kebiasaan merokok, karena dapat melemahkan fungsi katup antara lambung dan kerongkongan.
Selain perubahan gaya hidup, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan obat yang sesuai. Obat-obatan ini umumnya berfungsi menetralkan asam lambung di kerongkongan dan lambung. Dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan yang tepat, GERD dapat dikelola dan dicegah.























