FKUI Ciptakan Inovasi AI Deteksi Dini Gagal Jantung, Kapan Pasien Bisa Pakai?

KesehatanTeknologi
Views: 4

# FKUI Ciptakan Inovasi AI Deteksi Dini Gagal Jantung, Kapan Pasien Bisa Pakai?

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membuktikan manfaatnya di bidang kesehatan. Kali ini, sebuah terobosan datang dari Indonesia, tepatnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Seorang dokter spesialis jantung berhasil mengembangkan sistem AI yang mampu membantu deteksi dini kondisi gagal jantung, terutama dalam mengidentifikasi pasien yang berisiko kekambuhan setelah dirawat di rumah sakit.

Inovasi ini dikenal dengan nama NAVI-HF, dikembangkan oleh dr. Rony Marethianto Santoso. Sistem ini disajikan dalam sidang terbuka promosi doktor Ilmu Kedokteran dan menarik perhatian banyak kalangan medis. Bukan hanya sekadar konsep teori, NAVI-HF sudah diuji coba dan menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk menunjang akurasi diagnosis jantung di rumah sakit maupun di masyarakat.

## Masalah Gagal Jantung Kambuh yang Perlu Dipecahkan

Gagal jantung sendiri bukan penyakit yang bisa dianggap remeh. Di Indonesia, kasus penyakit jantung kini menduduki peringkat kedua di Asia. Banyak pasien yang sudah mendapatkan pengobatan dan diizinkan pulang, namun kembali masuk rumah sakit dalam waktu singkat karena kondisinya memburuk. Sering kali, penyebab utamanya adalah adanya penumpukan cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi sejak awal.

Pemeriksaan klinis biasa menggunakan stetoskop kadang tidak cukup. Cairan di paru-paru bisa menumpuk tanpa menimbulkan suara khas yang bisa didengar dokter. Inilah yang menjadi pemicu tingginya angka rawat ulang atau rehospitalisasi pada pasien gagal jantung.

Rony Marethianto Santoso menjelaskan bahwa kondisi ini disebut subklinis, artinya belum muncul tanda-tanda yang kentara lewat pemeriksaan rutin. Karena itulah, dibutuhkan pendeteksi yang lebih sensitif untuk menemukan gejala dini sebelum pasien benar-benar kambuh.

## Bagaimana Cara Kerja NAVI-HF?

Sistem ini memanfaatkan teknologi analisis suara napas menggunakan stetoskop digital. Ketika pasien bernapas, perangkat merekam suara napas, kemudian algoritma AI mengolah data tersebut untuk mengenali pola-pola yang mengindikasikan adanya cairan di paru-paru.

Jika hasil analisis menemukan indikasi kongesti paru, dokter bisa langsung mengambil keputusan untuk menunda kepulangan pasien atau menyesuaikan terapi agar pasien benar-benar stabil sebelum pulang. Begitu juga sebaliknya, jika tidak ada indikasi, rumah sakit bisa menjadi lebih efisien dalam mengalokasikan tempat tidur.

Data yang digunakan untuk mengajarkan sistem ini berasal dari sekitar 246 pasien dengan kasus gagal jantung di rumah sakit rujukan Indonesia. Hasil uji coba menunjukkan bahwa NAVI-HF memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang memadai dalam memetakan pasien yang masih berisiko.

## Masa Depan Telemedicine Berbasis AI

Yang membuat NAVI-HF semakin menarik adalah potensi penggunaannya di luar lingkungan rumah sakit. Rony menyebutkan bahwa teknologi ini nantinya bisa diminiaturisasi sehingga pasien bisa memeriksakan kondisi jantungnya sendiri dari rumah.

Konsepnya sederhana. Pasien cukup menggunakan stetoskop digital portabel yang terhubung dengan ponsel, merekam suara napas, lalu aplikasi berbasis AI akan menganalisis apakah ada tanda-tanda bahaya. Jika terdeteksi gangguan, pasien akan mendapat peringatan langsung untuk segera ke dokter atau rumah sakit.

Selain itu, sistem ini juga akan dikembangkan dengan fitur cloud computing. Dokter nantinya bisa memantau kondisi pasien dari jarak jauh, mendukung layanan telemedicine dan monitoring berbasis rumah. Tujuannya jelas, mengurangi frekuensi pasien yang harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk cek rutin.

## Pentingnya Pemeriksaan Dini

Dunia medis sudah lama memahami bahwa deteksi dini adalah kunci utama dalam menangani gagal jantung. Namun, keterbatasan alat diagnostik dan tenaga ahli khusus di beberapa daerah membuat banyak pasien terlambat mendapatkan perawatan optimal.

Teknologi NAVI-HF hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Dengan tingkat akurasi yang luas dan kemudahan penggunaan, sistem ini bisa menjadi alat bantu dokter terutama di fasilitas kesehatan yang masih kurang peralatan canggih.

Rony menegaskan bahwa AI ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter. Sebaliknya, sistem ini adalah alat bantu yang memperkuat pengambilan keputusan klinis. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah menurunkan angka rawat ulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung.

Penelitian ini juga sekaligus menandakan bahwa Indonesia memiliki kemampuan riset medis yang kompetitif di tingkat global. Kolaborasi antara ilmu kedokteran dan kecerdasan buatan semakin terbukti memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Jika proyek ini terus dikembangkan dan diadopsi secara luas, pasien gagal jantung di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang lebih proaktif danHumanis di masa depan.

Ke depan, tim peneliti berencana menambah cakupan data pasien dari berbagai daerah di Indonesia agar algoritma bisa mengenali variasi kasus yang lebih luas. Adanya perbedaan karakteristik pemeran, penyakit penyertaan, dan gaya hidup akan membuat AI menjadi lebih pintar dan relevan untuk seluruh populasi Indonesia.

Di samping pengembangan teknologi, FKUI juga berupaya menjembatani kesenjangan layanan kesehatan dengan program pelatihan bagi dokter dan tenaga medis di daerah. Langkah ini diharapkan mampu memastikan bahwa inovasi teknologi medis benar-benar sampai dan dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya menjadi barang展示 di perkantoran.

## Kategori Artikel: Teknologi dan Kesehatan

Beberapa kategori yang relevan untuk artikel ini adalah teknologi, karena inti cerita adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Artikel ini juga menunjukkan bagaimana AI bukan lagi sekadar konsep futuristik, melainkan alat kerja nyata yang sudah mulai membantu dokter di Indonesia.

Penutup dari penelitian ini memang pesimis. Rony Marethianto Santoso bersama tim berharap alat ini bisa membantu dokter mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menurunkan angka pasien yang harus dirawat berulang kali. Investor dan rumah sakit yang ingin mendukung pengembangan NAVI-HF diharapkan bisa memanfaatkan momentum ini untuk membawa teknologi ini lebih jauh lagi, sampai benar-benar bisa dipakai oleh masyarakat luas.

Tags: AI kesehatan, FKUI, NAVI-HF

You May Also Like

Serangan Rudal Iran ke Pangkalan AS di Arab Saudi: Eskalasi Ketegangan yang Mengguncangan Timur Tengah
Prabowo Takkan Kenyang Lihat Rakyat Miskin, Buka Suara Potong Anggaran TNI dan Polri

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan