Puluhan ribu warga sipil Lebanon meninggalkan wilayah Beirut setelah serangan Israel dan perintah evakuasi paksa. Kondisi ini memicu kepanikan dan kemacetan parah di jalan-jalan.
Eskalasi terjadi setelah Hezbollah meluncurkan serangan balasan ke Israel. Serangan ini memperburuk situasi yang sudah tegang di perbatasan kedua negara.
Zeina Khodr dari Al Jazeera melaporkan langsung dari tengah kemacetan. Dia menggambarkan situasi yang kacau dan penuh kekhawatiran.
Banyak warga membawa barang seadanya, mencoba mencari tempat yang lebih aman. Beberapa dari mereka mengaku trauma dengan kejadian sebelumnya.
Serangan Israel menargetkan beberapa area di Beirut, menyebabkan kerusakan signifikan. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa.
Hezbollah mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket ke wilayah Israel utara. Mereka menyatakan serangan ini sebagai balasan atas agresi Israel.
Situasi di perbatasan Lebanon-Israel semakin memanas dalam beberapa hari terakhir. Kedua belah pihak saling melancarkan serangan.
PBB dan negara-negara lain menyerukan de-eskalasi dan mengimbau kedua belah pihak untuk menahan diri.
Namun, belum ada tanda-tanda mereda. Warga sipil menjadi korban utama dalam konflik yang terus berlanjut.
Pengungsian massal ini menambah beban bagi Lebanon, yang sudah bergulat dengan krisis ekonomi dan politik.
Bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk membantu para pengungsi. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Situasi ini menjadi perhatian dunia internasional. Upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencari solusi damai.
Seperti yang dilansir dari Al Jazeera, warga sipil sangat membutuhkan perlindungan dan jaminan keamanan.




















