Iran Ancam Tutup Bab el-Mandeb Lewat Houthi, Harga Minyak Bisa Melonjak ke US$200

BisnisInternasional
Views: 3

Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase kritis baru dengan eskalasi yang mengancam stabilitas energi global. Iran tidak hanya mengandalkan gangguan di Selat Hormuz, tetapi kini mengisyaratkan potensi penutupan Selat Bab el-Mandeb melalui sekutunya, gerakan Houthi di Yaman. Langkah strategis ini dinilai sebagai upaya Teheran untuk memperluas medan konflik dan meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan mengancam dua jalur pelayaran strategis sekaligus. Ancaman ini mengubah dinamika konflik yang sebelumnya terfokus pada wilayah Teluk menjadi ancaman langsung bagi keamanan jalur perdagangan energi dunia.

Selat Bab el-Mandeb menjadi titik fokus perhatian internasional setelah pejabat Yaman mengeluarkan peringatan keras terkait kesiapan militer negara itu. Jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden ini merupakan urat nadi ekspor minyak Arab Saudi dan lintasan utama perdagangan internasional. Jika kedua selat ini ditutup secara bersamaan, dampak ekonomi yang ditimbulkan diyakini akan sangat destruktif. Pasar energi global dikhawatirkan mengalami guncangan hebat akibat terputusnya pasokan yang selama ini sangat bergantung pada rute pelayaran vital tersebut.

Laporan dari Press TV mengutip pernyataan pejabat senior Yaman yang menegaskan kesiapan angkatan bersenjata negara itu untuk menutup Bab el-Mandeb. Ancaman ini dikaitkan secara langsung dengan aksi militer Arab Saudi di wilayah Yaman. Diperkirakan harga minyak mentah bisa meroket menyentuh level US$200 per barel jika serangan Riyadh terus berlanjut. Angka ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan yang akan terjadi jika jalur pelayaran utama dunia terblokir secara total akibat konflik yang meluas.

Mohammed al-Farah, anggota biro politik gerakan Ansarullah, menuding Washington sebagai dalang di balik agresi Saudi terhadap Yaman. Dalam pernyataannya, al-Farah menegaskan bahwa provokasi yang dilakukan AS tidak akan memberikan keuntungan strategis bagi kepentingan Amerika. Ia memperingatkan tentang pembentukan aliansi operasional untuk menutup kedua selat secara simultan. “Jika situasi memburuk, Bab el-Mandeb dan Hormuz akan ditutup bersama, memicu lonjakan harga minyak hingga US$200 dalam guncangan yang masif,” ujarnya.

Para pengamat geopolitik menilai strategi ini merupakan pergeseran doktrin Iran dari pertahanan lokal menjadi ancaman regional yang terintegrasi. Fawaz Gerges, pakar Timur Tengah, menjelaskan bahwa Teheran ingin menunjukkan kemampuan untuk menekan Washington dari dua sisi sekaligus. Pesan yang dikirimkan Iran jelas: konflik tidak lagi bersifat bilateral antara Iran dan AS, tetapi telah berubah menjadi ancaman eksistensial bagi keamanan jalur energi dunia. Iran berupaya memanfaatkan ketergantungan global pada rute pelayaran ini sebagai alat tawar yang kuat.

Risiko utama yang dihadapi saat ini bukan sekadar kemungkinan perang terbuka, melainkan fenomena “mission creep” atau eskalasi bertahap yang sulit dikendalikan. Analis memperingatkan bahwa peningkatan tensi secara bertahap tanpa konfrontasi langsung justru lebih berbahaya karena meningkatkan risiko miscalculasi di lapangan. Meluasnya konflik dari Teluk ke Laut Merah memperbesar kemungkinan terpicunya spiral kekerasan yang justru dapat memaksa kedua pihak kembali ke meja perundingan, sebelum dua selat vital berubah menjadi zona perang sesungguhnya.

Dari perspektif diplomasi, tantangan terbesar bagi Amerika Serikat adalah mengubah kalkulasi strategis Teheran. Dennis Ross, mantan negosiator AS, menekankan bahwa tujuan utama Washington haruslah mengembalikan Iran ke jalur negosiasi yang substantif. Bukan hanya dialog kosong, tetapi kesepakatan yang dapat diterima semua pihak. Ross berpendapat bahwa tanpa perubahan perhitungan strategis Iran mengenai biaya dan manfaat konflik, ancaman penutupan selat akan terus menjadi senjata yang dipegang Teheran untuk memaksa perundingan yang menguntungkan.

Kemampuan Houthi dalam mengganggu pelayaran sudah terbukti sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Kelompok itu melakukan serangan terhadap kapal dagang di Laut Merah dengan dalih mendukung Palestina dan menargetkan kapal terkait Israel. Tindakan ini memaksa armada pelayaran dunia mengalihkan rute ke selatan Afrika, yang secara signifikan menambah biaya logistik dan waktu tempuh. Respons militer AS dan Inggris serta pembentukan misi keamanan multinasial menjadi upaya untuk menjaga kebebasan navigasi, namun ancaman fundamental terhadap jalur tersebut tetap ada.

Andreas Krieg dari King’s College London menggambarkan ancaman penutupan Bab el-Mandeb sebagai “opsi nuklir” cadangan bagi Iran. Menurutnya, langkah ekstrem ini kemungkinan hanya akan dijalankan jika Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menilai perang terbuka sudah tidak dapat dihindari. Namun, Krieg memperingatkan skenario terburuk: jika AS menyerang infrastruktur vital Iran, Teheran bisa merespons dengan mengaktifkan Houthi untuk menutup Bab el-Mandeb. Hal ini akan memperparah guncangan ekonomi yang sudah dipicu oleh gangguan di Hormuz, menciptakan krisis ekonomi ganda bagi dunia.

Perspektif negara-negara Teluk juga menunjukkan pergeseran sikap terhadap Iran. Abdulaziz Sager dari Gulf Research Center menilai jalur diplomasi dengan Teheran telah mencapai batasnya. Meskipun konflik luas berbiaya sangat tinggi, banyak negara Teluk mungkin menganggap skenario tertentu lebih bisa diterima jika mampu menciptakan stabilitas keamanan jangka panjang di kawasan. Sager menambahkan bahwa meski Houthi memiliki kapabilitas teknis untuk mengganggu pelayaran, eskalasi besar kemungkinan tetap memerlukan arahan langsung dari Teheran, menegaskan kendali Iran atas aliansi ini.

Konteks konflik yang meluas turut memperumit situasi keamanan regional secara keseluruhan. Perang yang melibatkan AS dan Israel sejak akhir Februari telah mengguncang stabilitas Timur Tengah secara mendalam. Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer AS di berbagai negara, sementara jumlah korban jiwa terus bertambah, dengan dampak terberat dirasakan oleh Iran dan Lebanon. Eskalasi ini menegaskan bahwa kawasan sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya, di mana keputusan strategis di satu titik dapat memicu dampak domino yang merambat ke seluruh ekonomi dan keamanan global.

Tags: Harga Minyak, Houthi, Iran

You May Also Like

China Luncurkan StepX Neo, Smartphone AI Agentic Pertama di Dunia
Ziaire Williams Cetak Sejarah di 2026: AI dan Algoritma Digital Raihkan Sorotan Global untuk Atlet Muda

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan