Blokade AS-Iran Kembali Memanas, Jalur Energi Global di Ujung Tanduk

Internasional
Views: 3

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak pada Rabu (15/7/2026) setelah AS meluncurkan gelombang serangan baru terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran di Pulau Greater Tunb. Operasi militer ini terjadi hanya sehari setelah AS memberlakukan blokade laut ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menandakan eskalasi konflik yang semakin tak terelakkan dan membuka kemungkinan gangguan lebih besar terhadap rantai pasok energi global.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) dalam pernyataannya menjelaskan bahwa serangan tersebut dimulai sekitar pukul 06.00 waktu setempat dan berlangsung selama sekitar 90 menit. Operasi ini ditargetkan untuk merusak kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Serangan ini juga merupakan respons atas gugatan Washington bahwa Iran menyerang tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir, menyebabkan hampir selusin awak kapal tewas, hilang, atau terluka. Operasi serupa juga dilakukan AS pada Selasa (14/7) selama tujuh jam, yang melibatkan puluhan target militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.

Sebagai respons terhadap aksi militer AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke sejumlah target militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Lebih dari itu, Iran mengancam akan menutup lebih banyak jalur ekspor energi regional, termasuk jalur-jalur yang selama ini menjadi landasan pasok untuk negara-negara sekutu AS.

“Amerika Serikat harus bersiap menghadapi penutupan seluruh koridor ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya,” tegas pernyataan IRGC. Ancaman ini dinilai serius mengingat posisi strategis Iran yang mengontrol beberapa titik pelayaran-energy vital di kawasan Timur Tengah, termasuk setelahnya penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (11/7).

Dampak Guncangan terhadap Pasar Energi Dunia

Konflik yang berawal dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari kini telah menyapu ribuan korban jiwa dan memaksa jutaan warga mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon. Hingga Rabu ini, harga minyak dunia kembali menguat setelah sehari sebelumnya ditutup di level tertinggi dalam sebulan, menandakan ketakutan pasar terhadap gangguan pasokan dan kekhawatiran inflasi global yang kembali membayang.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (14/7) kembali menaikkan tekanan dengan mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran pekan depan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. “Saya akan menyimpan target energy untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energy,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Namun, sehari berselang, Trump menggagalkan rencana penerapan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dan meluncurkan proposisi kerja sama investasi dengan negara-negara Teluk, meski tanpa detail yang jelas. Langkah kontradiktif ini dinilai sebagai upaya Washington menyeimbangkan antara eskaiasi militer dan diplomasi ekonomi.

Kesiapan Iran dan Potensi Eskalasi Lebih Lanjut

Konflik ini juga memicu kekhawatiran akan gangguan lebih luas di jalur pelayaran energi dunia. Analis memperkirakan Iran dapat memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur penghubung Laut Merah dengan Teluk Aden yang menjadi rute utama ekspor minyak Arab Saudi serta perdagangan global.

Gangguan di Bab el-Mandeb berpotensi memperbesar tekanan terhadap rantai pasok energi dunia, mengingat kawasan tersebut bersama Selat Hormuz merupakan dua jalur pelayaran energi paling vital. Kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai bulan lalu sejatinya ditujukan untuk membuka jalan bagi perundingan mengenai program nuklir Iran dan gencatan senjata permanen, namun upaya melanjutkan negosiasi hingga kini belum membuahkan hasil.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, melaporkan sedikitnya 30 warga sipil telah tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan AS di wilayah selatan Iran. Sementara itu, militer Iran melaporkan tujuh personel aktif tewas dalam serangan yang menghantam pangkalan militer Bampur di tenggara negara tersebut.

Beberapa analis menilai bahwa AS dan Iran kemungkinan tidak akan kembali ke perang skala penuh, meskipun risiko eskalasi lebih lanjut masih tetap tinggi. Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon.

Dampak Global dan Isu Kemanusiaan

Dunia kini kembali menyaksikan krisis kemanusiaan yang diperparah oleh konflik militer. Jutaan pengungsi dari Iran dan Lebanon mencari perlindungan di negara-negara tetangga, menciptakan beban baru bagi sistem bantuan internasional. PBB lebih dulu mengingatkan bahwa eskalasi di Timur Tengah dapat mengganggu stabilitas global dan memicu kelaparan di wilayah-wilayah yang bergantung pada pasokan makanan dari Laut Hitam dan Laut Mediterania.

Bagi Indonesia, konflik ini membuka risiko gejolak terhadap harga BBM dan biaya logistik. Harga minyak yang kian tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga Pertamax dan solar, yang pada gilirannya akan menekan daya beli masyarakat. Bank Indonesia pun diminta untuk siap menstabilkan nilai tukar rupiah apabila gelombang ketidakpastian global kembali memperlemah mata uang emerging markets.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri kembali mengimbau warga Indonesia untuk menunda perjalanan ke wilayah Timur Tengah dan memantau perkembangan terkini. Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya diplomasi multilateral dan gencatan senjata permanen sebagai satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan.

Dengan situasi yang terus memanas, pasar energi dunia kini berada di pertempuran geopolitik yang kompleks. Setiap langkah militer sekaligus membawa dampak langsung terhadap harga-harga energi, inflasi global, dan ketahanan ekonomi banyak negara yang bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah. Masa depan jalur energi global bergantung pada apakah AS dan Iran bisa kembali ke meja perundingan atau melanjutkan siklus balas dendam yang tak berujung.

Tags: Amerika Serikat, Iran, Selat Hormuz

You May Also Like

Konflik AS-Iran Memanas: Serangan 90 Menit Hapus Kesiapan Rudal Iran di Selat Hormuz
World AI Show 2026 Jadi Ajang Kolaborasi AI Indonesia Diproyeksi Tembus USD10,9 Miliar

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan